Selasa, Juli 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Harga Beras Naik, Mengapa Banyak Petani Tidak Sejahtera?

by dimas
Juli 26, 2026
in Talk, Teknologi
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Harga beras yang terus naik tidak otomatis membuat semua petani sejahtera. Mayoritas petani gurem justru tetap membeli beras dan menghadapi paradoks dalam sistem pangan Indonesia.

Tabooo.id – Keberpihakan kepada petani layak diperjuangkan. Namun ketika negara memperlakukan seluruh petani seolah memiliki nasib yang sama, kebijakan justru berisiko mengabaikan mereka yang paling rentan.

Di tengah hamparan sawah Kabupaten Malang saat Panen Raya TNI pada 17 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan yang mudah mengundang tepuk tangan. Ia meminta masyarakat yang mengeluhkan mahalnya harga beras untuk mencoba menanam padi terlebih dahulu. Menurutnya, petani pantas memperoleh penghasilan tinggi sebagai balas atas kerja keras yang selama ini sering dipandang sebelah mata.

Sulit membantah semangat di balik pernyataan itu. Negara memang harus berpihak kepada petani. Namun keberpihakan tidak boleh berhenti pada narasi. Pemerintah harus membangunnya di atas data yang jujur dan kenyataan yang utuh.

Sebab, tidak semua petani Indonesia menikmati kenaikan harga beras.

Ketika Petani Juga Menjadi Pembeli

Banyak orang menggunakan logika yang sederhana. Harga beras naik, petani untung. Sekilas asumsi itu terdengar masuk akal. Namun struktur pertanian Indonesia menyimpan kenyataan yang jauh lebih rumit.

Ini Belum Selesai

Universitas Republik Indonesia: Sekolah Negarawan atau Elite Baru?

Dapur Umum: Garis Depan yang Jarang Masuk Sejarah

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Sensus Pertanian 2023 mencatat sekitar 62 persen rumah tangga petani merupakan petani gurem yang menguasai lahan kurang dari 0,5 hektare. Rata-rata petani padi bahkan hanya mengelola sawah seluas sekitar 0,39 hektare.

Luas lahan sekecil itu membuat banyak keluarga tani tidak mampu memenuhi kebutuhan beras sepanjang tahun hanya dari hasil panennya.

Sebagian besar petani menjual gabah segera setelah panen untuk membayar utang, memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, hingga menyiapkan modal musim tanam berikutnya. Ketika persediaan beras di rumah habis, keluarga yang sama kembali membeli beras di pasar dengan harga yang sudah jauh lebih tinggi.

Di sinilah paradoks itu muncul.

Sebagian petani Indonesia tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai konsumen bersih beras (net buyer). Mereka menghasilkan padi, tetapi tetap membeli beras demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kajian Basri dan Patunru (2009) menunjukkan sekitar seperempat rumah tangga petani padi masuk dalam kelompok tersebut. Penelitian Respati, Gafara, dan Al Izzati (2016) juga memperlihatkan bahwa sebagian petani justru ikut menanggung beban ketika harga beras melonjak.

Dengan kondisi seperti itu, kenaikan harga beras jelas tidak otomatis membawa kesejahteraan bagi seluruh petani.

Harga Mahal Tidak Selalu Mengalir ke Sawah

Petani mungkin menjual gabah dengan harga yang lebih tinggi. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang benar-benar menikmati kenaikan nilai tersebut.

Data Badan Pangan Nasional pada Juli 2026 menunjukkan harga gabah di tingkat petani berada pada kisaran Rp7.000 hingga Rp7.500 per kilogram. Pada saat yang sama, harga beras eceran nasional telah mencapai sekitar Rp15.499 per kilogram.

Banyak pihak kemudian langsung menyalahkan tengkulak.

Namun persoalannya jauh lebih kompleks.

Kajian LPEM FEB UI (2026) menemukan bahwa margin pedagang grosir dan pengecer di Indonesia relatif kecil dibandingkan beberapa negara ASEAN. Persoalan utama justru terletak pada struktur produksi yang belum efisien.

Biaya sewa lahan masih tinggi. Produktivitas penggilingan juga masih tertinggal dibandingkan Vietnam dan Thailand. Akibatnya, kenaikan harga beras tidak sepenuhnya mengalir ke petani penggarap.

Rantai distribusi masih menyerap sebagian besar nilai tambah. Sementara petani yang setiap hari bekerja di sawah sering kali hanya menerima bagian paling kecil.

Angka Nasional Tidak Selalu Menceritakan Luka

Pemerintah memiliki dasar ketika menyampaikan bahwa kesejahteraan petani membaik.

Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2026 berada di atas angka 100. Indeks harga yang diterima petani juga mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Data tersebut memang valid.

Namun angka rata-rata nasional tidak selalu mampu menggambarkan kenyataan di tingkat rumah tangga.

Petani yang memiliki lima hektare sawah tentu menikmati dampak yang berbeda dibandingkan petani penggarap seperempat hektare. Pemilik lahan luas berpeluang memperoleh surplus yang lebih besar ketika harga naik. Sebaliknya, petani gurem sering kembali membeli beras dengan harga mahal beberapa bulan setelah panen berakhir.

Sayangnya, statistik agregat sering menempatkan keduanya dalam kelompok yang sama.

Padahal kondisi ekonomi, daya tahan, dan tingkat kesejahteraan mereka sangat berbeda.

Politik Harus Berpihak, Tetapi Data Harus Memimpin

Keberpihakan kepada petani merupakan kewajiban negara.

Namun pemerintah tidak boleh membangun keberpihakan melalui penyamarataan. Pendekatan seperti itu justru berpotensi melahirkan ketidakadilan baru.

Kebijakan pangan harus mampu membedakan petani yang benar-benar menikmati kenaikan harga dengan petani yang justru ikut menanggung bebannya. Pemerintah juga perlu mempercepat konsolidasi lahan, meningkatkan efisiensi pascapanen, memperluas mekanisasi pertanian, serta menekan biaya produksi. Langkah-langkah tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mempertahankan narasi bahwa harga beras yang tinggi selalu identik dengan kesejahteraan petani.

Sawah Indonesia tidak dihuni oleh satu jenis petani.

Karena itu, negara juga tidak boleh menyusun satu jawaban untuk semua persoalan.

Harga Beras Boleh Naik, Kejujuran Data Jangan Turun

Pidato politik memang membutuhkan kalimat yang sederhana agar mudah dipahami publik. Namun kebijakan publik menuntut sesuatu yang lebih penting, yaitu keberanian membaca kenyataan secara utuh.

Jika pemerintah terus menganggap seluruh petani otomatis sejahtera setiap kali harga beras naik, jutaan petani gurem yang masih membeli beras akan terus luput dari perhatian negara.

Mereka tetap menanam.

Mereka tetap memanen.

Namun hingga hari ini, belum semua ikut memanen kesejahteraan. @dimas

Tags: Harga BerasHarga PanganKetahanan PanganPangan IndonesiaPetani

Kamu Melewatkan Ini

El Nino Ekstrem Mengintai, Krisis Pangan dan Air Ancam Indonesia

El Nino Ekstrem Mengintai, Krisis Pangan dan Air Ancam Indonesia

by dimas
Juli 26, 2026

El Nino ekstrem diperkirakan menjadi yang terkuat dalam 150 tahun terakhir. Indonesia menghadapi ancaman krisis pangan, kekeringan, kebakaran hutan, dan...

Proyek Rp260 Miliar Bocor Dua Kali: Infrastruktur Gagal Menjaga Ketahanan Pangan

Proyek Rp260 Miliar Bocor Dua Kali: Infrastruktur Gagal Menjaga Ketahanan Pangan

by teguh
Juli 22, 2026

Bendung Karet Juwana kembali bocor saat musim kemarau tiba. Persoalannya kini bukan sekadar kerusakan fisik, melainkan kualitas tata kelola proyek,...

Bendung Karet Juwana Bocor Lagi, Ribuan Hektare Sawah Terancam Kekurangan Air

Bendung Karet Juwana Bocor Lagi, Ribuan Hektare Sawah Terancam Kekurangan Air

by teguh
Juli 22, 2026

Musim kemarau baru berlangsung, tetapi ribuan petani di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana sudah menghadapi ancaman kekurangan air. Bendung...

Next Post
Pencuri Ayam, Amuk Massa dan Tangis Anak Kehilangan Ayahnya

Pencuri Ayam, Amuk Massa dan Tangis Anak Kehilangan Ayah

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id