Rabu, Oktober 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tan Malaka dan Revolusi yang Belum Selesai

by jeje
Februari 28, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – Nama Tan Malaka selalu muncul setiap kali kita membicarakan revolusi yang belum tuntas. Ia tidak sekadar hadir sebagai tokoh kiri. Ia datang sebagai pikiran yang gelisah, sebagai suara yang terus menagih makna kemerdekaan.

Sejak awal, Tan Malaka memandang revolusi Indonesia lebih luas dari sekadar pergantian kekuasaan. Ia memang sejalan dengan Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir dalam memperjuangkan kemerdekaan politik. Namun, ia melangkah lebih jauh. Ia menuntut revolusi sosial, revolusi ekonomi, dan penghancuran feodalisme.

Artinya, ia tidak ingin Indonesia hanya mengganti penjajah. Ia ingin bangsa ini membongkar sistem yang menindas.

Revolusi Politik Tidak Pernah Cukup

Pertama-tama, Tan Malaka melihat kolonialisme sebagai sistem ekonomi, bukan sekadar dominasi militer. Karena itu, ia tidak berhenti pada proklamasi. Ia langsung bertanya: siapa yang menguasai alat produksi? Siapa yang menikmati hasil kerja rakyat?

Menurutnya, kapitalisme selalu melahirkan ketimpangan. Modal terkumpul pada segelintir orang. Sementara itu, rakyat Murba hanya menerima bagian kecil dari nilai yang mereka hasilkan. Ia menyerap gagasan Karl Marx dan Friedrich Engels, terutama tentang surplus value. Namun, ia tidak berhenti pada teori. Ia mengaitkannya langsung dengan realitas Indonesia.

Ini Belum Selesai

Jangkauan Menyusut, Kepercayaan Ikut Tergerus: Siapa Yang Mengawasi Algoritma?

Kericuhan Demo di DPRD DIY, Massa Berlarian hingga Malioboro

Karena itu, ia menyebut surplus value sebagai bentuk perampokan legal. Buruh bekerja. Kapitalis mengambil lebih. Negara sering kali membiarkan.

Lebih jauh lagi, Tan Malaka menjelaskan bahwa kapitalisme mendorong overproduksi. Kaum borjuasi menghasilkan barang dalam jumlah besar. Namun, proletar tidak memiliki daya beli. Akibatnya, pasar jenuh. Lalu, negara kapitalis mencari pasar baru. Mereka menanamkan modal di negeri lemah. Mereka memonopoli sumber daya. Pada titik itu, imperialisme lahir.

Dengan demikian, revolusi nasional Indonesia tidak bisa dipisahkan dari perlawanan terhadap imperialisme global.

Sosialisme yang Kontekstual

Meski begitu, Tan Malaka tidak memaksakan sosialisme model Eropa. Ia menyadari bahwa sosialisme memiliki variasi. Ada sosialisme Marx-Engels, sosialisme agama dan ada pula sosialisme idealis. Namun semuanya menolak kapitalisme sebagai sistem utama.

Akan tetapi, Tan Malaka menegaskan satu hal penting: sosialisme 100% hanya bisa berjalan jika bangsa Indonesia memiliki kekuatan lahir dan batin. Selain itu, kondisi geopolitik juga menentukan. Jadi, ia tidak menawarkan revolusi impor. Ia menuntut revolusi yang tumbuh dari konteks Indonesia sendiri.

Pada tahun 1945, ia menulis “Rentjana Ekonomi”. Dalam tulisan itu, ia mengajukan rencana ekonomi terpusat yang tetap menghormati prinsip demokrasi. Ia menolak produksi yang berjalan liar seperti dalam kapitalisme. Sebaliknya, ia mendorong perencanaan yang menyeimbangkan produksi dan daya beli.

Menurutnya, negara harus mengatur produksi secara sadar. Jika produksi meningkat, maka daya beli rakyat juga harus meningkat. Jika upah rendah, maka produksi tidak akan terserap. Karena itu, ia mengusulkan sistem penggajian berdasarkan kemampuan, sekaligus tunjangan sosial merata bagi keluarga.

Dengan kata lain, ia menawarkan fase kompromis. Ia membangun jembatan antara kapitalisme dan komunisme. Ia memilih jalan tengah yang realistis bagi Indonesia pasca-kolonial.

Pasal 33 dan Realitas Hari Ini

Secara normatif, gagasan Tan Malaka terasa sejalan dengan Pasal 33 UUD 1945. Konstitusi menyebut perekonomian sebagai usaha bersama. Negara menguasai cabang produksi penting. Negara mengelola sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat.

Namun, praktik sering menunjukkan arah berbeda. Liberalisasi ekonomi membuka pintu lebar bagi modal asing. Korporasi besar menguasai sektor strategis. Negara terkadang bertindak sebagai fasilitator pasar, bukan pengendali arah ekonomi.

Di sisi lain, rakyat sering hanya menjadi konsumen. Mereka tidak mengendalikan produksi. Mereka juga tidak menentukan arah kebijakan. Karena itu, ketergantungan terhadap kekuatan ekonomi global terus berlangsung.

Dalam situasi seperti ini, kritik Tan Malaka kembali terasa relevan. Ia sejak awal menolak intervensi asing, baik secara politik maupun ekonomi. Ia ingin Indonesia mengambil kembali alat produksi yang pernah dirampas kolonialisme.

Revolusi yang Masih Berjalan

Pada akhirnya, Tan Malaka tidak melihat revolusi sebagai peristiwa tunggal. Ia melihatnya sebagai proses panjang. Ia percaya perubahan masyarakat selalu mengikuti perubahan sistem produksi. Selama struktur ekonomi tidak berubah, relasi kuasa tetap timpang.

Karena itu, kemerdekaan politik tanpa kedaulatan ekonomi hanya menghasilkan ilusi. Bendera boleh berkibar. Lagu kebangsaan boleh dinyanyikan. Namun, jika rakyat tetap terpinggirkan, maka revolusi belum selesai.

Pertanyaannya sekarang sederhana: apakah kita berani melanjutkan revolusi yang ia maksud?

Sebab revolusi, dalam pandangan Tan Malaka, bukan sekadar sejarah. Revolusi adalah tanggung jawab. @jeje

Tags: IdeologiTan Malaka

Kamu Melewatkan Ini

Kalau Tan Malaka Melihat Demo 27 Agustus: Massa Besar Tidak Perlu Rusuh

Kalau Tan Malaka Melihat Demo 27 Agustus: Massa Besar Tidak Perlu Rusuh

by Tabooo
Agustus 29, 2026

Tan Malaka mungkin membela hak rakyat untuk turun ke jalan. Namun, Aksi Massa dan MADILOG menunjukkan bahwa ia juga akan...

27 Agustus Belum Revolusi: Membaca Politik Indonesia lewat Aksi Massa Tan Malaka

27 Agustus Belum Revolusi: Membaca Politik Indonesia lewat Aksi Massa Tan Malaka

by Tabooo
Agustus 26, 2026

Menjelang 27 Agustus 2026, tekanan politik meningkat, tetapi Indonesia belum berada dalam situasi revolusioner. Lewat Aksi Massa, Tan Malaka justru...

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

by Tabooo
Agustus 24, 2026

Kamu mungkin merasa sedang berpikir. Padahal, sering kali keputusan sudah dibuat oleh emosi sebelum logika datang. Madilog mengajak kita kembali...

Next Post
Merdeka atau Realistis? Saat Tan Malaka dan Bung Karno Berjalan di Jalan yang Berbeda

Merdeka atau Realistis? Saat Tan Malaka dan Bung Karno Berjalan di Jalan yang Berbeda

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id