Rabu, November 4, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Ekonomi Tumbuh, Tapi Kenapa Publik Tetap Takut?

by dimas
Mei 23, 2026
in Talk
A A
Home Reality Nasional
Pertumbuhan ekonomi Indonesia naik, tetapi publik justru makin cemas. Rupiah melemah, pekerjaan sulit, dan rasa aman finansial mulai retak.

Tabooo.id – Di layar televisi, grafik ekonomi terus menanjak. Pemerintah memamerkan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen dan menyebutnya sebagai pencapaian tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Pejabat berbicara tentang ekonomi yang kuat, stabil, dan tahan guncangan.

Namun, suasana di luar ruang konferensi pers terasa jauh berbeda.

Masyarakat masih mengeluh soal harga kebutuhan pokok yang terus naik. Anak muda terus mengirim lamaran kerja tanpa kepastian. Sementara itu, kelas menengah mulai menahan pengeluaran karena rasa aman finansial mereka perlahan goyah. Ketika rupiah terus melemah, kecemasan publik pun ikut membesar.

Pertanyaan besarnya sederhana jika ekonomi benar-benar baik-baik saja, mengapa rasa takut justru makin terasa?

Angka Ekonomi vs Realitas Sehari-hari

Pemerintah membaca ekonomi lewat angka makro. Sebaliknya, publik menilai ekonomi lewat pengalaman hidup sehari-hari. Di sinilah jarak itu muncul.

Ini Belum Selesai

TNI Turun Amankan Demonstrasi, Di Mana Batas Kewenangannya?

Aksi 28 Oktober: Retaknya Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah

Mayoritas masyarakat tidak hidup di dalam laporan PDB atau grafik pertumbuhan. Mereka hidup di tengah biaya kontrakan, cicilan, harga sembako, dan ketidakpastian pekerjaan. Karena itu, narasi optimisme negara sering terdengar asing bagi mereka yang setiap hari berjibaku mempertahankan penghasilan.

Selain itu, lapangan kerja formal berkualitas semakin sulit ditemukan. Banyak orang akhirnya menerima pekerjaan paruh waktu atau pekerjaan informal demi bertahan hidup. Kondisi tersebut membuat publik mulai meragukan apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar ikut memperbaiki kualitas hidup mereka.

Di sisi lain, teknologi memperlihatkan ketimpangan sosial secara telanjang. Media sosial dipenuhi gaya hidup mewah, flexing kekayaan, dan pencapaian elite ekonomi. Pada saat yang sama, jutaan masyarakat justru sibuk menjaga agar kondisi finansial mereka tidak runtuh.

Akibatnya, publik semakin sulit percaya pada narasi bahwa ekonomi sedang baik-baik saja.

Rupiah yang Berubah Jadi Alarm Psikologis

Melemahnya rupiah sebenarnya bukan sekadar persoalan kurs mata uang. Publik melihatnya sebagai simbol ketidakpastian yang lebih besar.

Pasar mungkin membaca pelemahan rupiah sebagai dampak tekanan global, suku bunga tinggi, atau konflik geopolitik. Akan tetapi, masyarakat membaca situasi itu secara lebih personal: mereka merasa masa depan ekonomi semakin sulit diprediksi.

Teori ekonomi perilaku dari Daniel Kahneman dan Amos Tversky menjelaskan fenomena tersebut. Menurut teori itu, manusia mengambil keputusan berdasarkan pengalaman yang paling dekat dengan hidup mereka. Artinya, masyarakat lebih percaya pada pengalaman sulit mencari kerja, kenaikan harga kebutuhan, dan ancaman PHK dibanding pidato optimistis pemerintah.

Selain itu, memori kolektif tentang krisis ekonomi masa lalu ikut memperkuat kecemasan publik. Bagi banyak orang Indonesia, rupiah bukan sekadar alat transaksi. Rupiah menyimpan ingatan tentang harga yang melonjak, PHK massal, dan kehidupan yang mendadak berubah sulit. Karena itu, pelemahan rupiah langsung memicu alarm psikologis di kepala masyarakat.

Publik Tidak Butuh Narasi Kosong

Masalah terbesar hari ini bukan sekadar angka ekonomi. Masalah utamanya terletak pada rasa percaya publik yang mulai retak.

Publik tidak membutuhkan pidato yang terus mengatakan semuanya terkendali. Sebaliknya, masyarakat ingin melihat langkah nyata yang benar-benar menyentuh kehidupan mereka. Pemerintah perlu menunjukkan bahwa mereka memahami sulitnya mencari pekerjaan layak, lemahnya daya beli, dan tekanan hidup kelas menengah yang terus membesar.

Karena di era keterbukaan informasi, masyarakat bisa membandingkan pidato pejabat dengan kondisi dompet mereka sendiri. Ketika keduanya terasa bertolak belakang, publik tidak hanya kehilangan kepercayaan terhadap rupiah, tetapi juga terhadap cerita besar tentang masa depan ekonomi Indonesia.

Ini bukan sekadar soal mata uang yang melemah.

Ini tentang masyarakat yang mulai meragukan apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar ikut menumbuhkan kehidupan mereka.

Pertumbuhan ekonomi bisa terlihat megah di layar presentasi, tetapi rasa aman publik lahir dari isi dompet dan kepastian hidup. @dimas

Tags: Ekonomi IndonesiaKrisis KepercayaanPertumbuhan EkonomiRupiah Melemah

Kamu Melewatkan Ini

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Ekonomi Tumbuh, Kesejahteraan Masih Tertinggal

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Ekonomi Tumbuh, Kesejahteraan Masih Tertinggal

by dimas
Oktober 21, 2026

Dua tahun Prabowo-Gibran, ekonomi tumbuh di kisaran 5 persen. Namun, pekerjaan layak, daya beli kelas menengah, dan ketahanan energi masih...

Prabowo Klaim Banyak Capaian, Survei Publik Justru Menunjukkan Tren Menurun

Prabowo Klaim Banyak Capaian, Survei Publik Justru Menunjukkan Tren Menurun

by teguh
September 21, 2026

Presiden Prabowo klaim memasuki hampir dua tahun pemerintahannya dengan nada percaya diri. Di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu, 19/09/2026, ia menyebut...

Demonstran Dibenturkan dengan Warga, Siapa yang Diuntungkan?

Demonstran Dibenturkan dengan Warga, Siapa yang Diuntungkan?

by dimas
September 4, 2026

Demonstran dibenturkan dengan warga dalam sejumlah aksi. Simak pola konflik horizontal, krisis kepercayaan, dan pihak yang berpotensi diuntungkan. Tabooo.id -...

Next Post
Yakuza Ingin Pulang: Nama Gelap Dipakai untuk Menjemput Cahaya

Yakuza Ingin Pulang: Nama Gelap Dipakai untuk Menjemput Cahaya

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id