Bundaran UGM mendadak jadi sorotan setelah sebuah spanduk besar bertuliskan “Surat Permohonan Maaf” terbentang di area kampus. Spanduk itu memuat kritik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran dan mencantumkan permintaan maaf kepada masyarakat.
Tabooo.id: Yogyakarta – Pemandangan berbeda muncul di Bundaran Universitas Gadjah Mada atau UGM, Yogyakarta, Kamis (21/05/2026) pagi. Sebuah spanduk besar berlatar putih terbentang di area bundaran kampus tersebut.
Spanduk itu langsung mencuri perhatian karena memuat tulisan besar “Surat Permohonan Maaf”. Di sisi spanduk, Bendera Merah Putih tampak berkibar setengah tiang.
Berdasarkan informasi yang beredar, spanduk itu mulai terlihat sekitar pukul 07.30 WIB.
Bukan Spanduk Biasa
Isi spanduk itu memuat permohonan maaf kepada masyarakat. Namun, pesan di dalamnya bukan permintaan maaf biasa.
Dalam paragraf berikutnya, spanduk itu juga memuat kritik keras terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Isinya menyinggung kepemimpinan nasional, kompetensi pejabat, nestapa politik, hingga kondisi ekonomi.
“Dengan ini menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena telah membiarkan Prabowo-Gibran menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2024-2029,” tulis spanduk tersebut.
Publik Berhenti, Petugas Turunkan Spanduk
Keberadaan spanduk itu membuat sejumlah pengguna jalan berhenti sejenak. Beberapa orang membaca isi spanduk, sementara lainnya mengabadikan momen tersebut.
Namun, spanduk itu tidak bertahan lama.
Sekitar pukul 09.27 WIB, beberapa petugas Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan atau PK4L UGM mulai menurunkan spanduk tersebut. Tak hanya spanduk, petugas juga menurunkan bendera Merah Putih setengah tiang.
Sekitar pukul 09.32 WIB, area Bundaran UGM mulai bersih dari kerumunan mahasiswa.
UGM Belum Beri Tanggapan
Sampai informasi ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak UGM terkait spanduk tersebut.
Karena itu, belum dapat dipastikan apakah isi spanduk benar mewakili sikap institusi, kelompok tertentu, atau hanya aksi simbolik dari individu maupun mahasiswa.
Kritik yang Memakai Simbol Kampus
Ini bukan sekadar spanduk di pinggir jalan. Ini adalah cara kritik politik bergerak lewat simbol kampus, ruang publik, dan momen visual yang mudah menyebar.
Masalahnya, ketika nama institusi besar dicantumkan dalam aksi politik, publik tidak hanya membaca isi kritiknya. Publik juga akan bertanya, siapa sebenarnya yang bicara?
Dan di era sekarang, satu spanduk bisa bekerja lebih cepat daripada satu konferensi pers.
Dan terkadang, satu spanduk cukup untuk membuat ruang publik lebih ramai daripada pidato resmi yang panjang. @tabooo





