Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Prabowo-Gibran Dua Periode: Wacana Cepat, Realita Lambat

by dimas
Februari 6, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Di Indonesia, kalender bukan sekadar penunjuk hari. Ia berubah menjadi mesin waktu. Ketika kalender masih menunjuk 2026, elite politik justru ramai hidup di 2029. Saat rakyat masih antre minyak goreng, politisi sudah antre wacana. Yang satu sibuk menghitung pengeluaran, yang lain sibuk menghitung peluang.

Dengan demikian, beginilah negeri ini bekerja: program hari ini boleh tertunda, tetapi spekulasi kekuasaan esok hari tidak boleh terlambat.

Pekan ini, mesin waktu itu kembali dinyalakan.

Presiden ke-7 RI Joko Widodo menyebut satu kalimat yang langsung memantik diskusi nasional Prabowo-Gibran dua periode.

Kalimatnya singkat. Pesannya padat. Dampaknya meluas.

Ini Belum Selesai

Korupsi yang Tak Pernah Pergi: Reformasi Salah Jalan atau Setengah Jalan?

Seblak Pedas, Burnout, dan Perempuan Modern

Jokowi dan Seni Melempar Batu Tanpa Mengaku Melempar

Saat ditemui di Solo, Jumat (30/1/2026), Jokowi menyampaikan dukungannya secara lugas.

“Kan sudah saya sampaikan Prabowo-Gibran dua periode. Sudah, itu saja.”

Tidak ada metafora. Tidak ada pantun. Bahkan tidak ada senyum misterius. Namun, publik langsung membaca makna di baliknya.

Pernyataan itu muncul sebagai respons atas pandangan Ketua Harian PSI Ahmad Ali yang sebelumnya menyebut Gibran berpotensi menjadi kompetitor kuat pada Pilpres 2029.

Alih-alih meredam spekulasi, pernyataan Jokowi justru memperlebar arena tafsir. Seketika, suhu politik naik beberapa derajat.

Di titik ini, publik kembali melihat pola lama: setiap kali Jokowi berbicara singkat, politik nasional bekerja lembur.

Prabowo Hampir Disepakati, Pasangan Masih Menggantung

Seiring menguatnya wacana tersebut, partai-partai pendukung mulai menyusun sikap. Menariknya, hampir semua sepakat pada satu nama Prabowo Subianto.

Namun, pembicaraan mendadak melambat ketika masuk ke soal wakil presiden.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menyatakan partainya puas dengan kinerja Prabowo dan siap mendukung dua periode.

“Kita pokoknya intinya puas dengan pemerintahan Pak Prabowo dan kompak minimal dua periodelah.”

Akan tetapi, saat wartawan menanyakan apakah dukungan itu otomatis sepaket dengan Gibran, Cak Imin memilih berhenti.

“Oh belum dibahas. Belum.”

Artinya sederhana presidennya iya, wakilnya nanti dulu.

PAN: Setia ke Prabowo, Bimbang soal Duet

Sikap serupa datang dari PAN. Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno menegaskan partainya sudah final mendukung Prabowo pada Pilpres 2029.

Ia bahkan mengingatkan bahwa PAN merupakan satu-satunya partai di luar Gerindra yang konsisten mendukung Prabowo dalam tiga Pilpres.

Meski begitu, PAN belum mau mengunci nama calon wakil presiden.

Menurut Eddy, pasangan capres-cawapres harus memiliki simbiosis, kemampuan kerja sama, serta daya tarik elektoral.

Di sisi lain, Eddy mengaku secara pribadi lebih mendukung Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan untuk mendampingi Prabowo.

Namun, ia buru-buru menambahkan itu belum menjadi sikap resmi partai.

Dengan kata lain, semua orang punya preferensi, tetapi belum ada yang mau menandatangani keputusan.

Golkar dan Demokrat Memilih Jalur Aman

Berbeda dengan PKB dan PAN, Golkar memilih menggunakan bahasa yang lebih elastis.

Sekjen Golkar Sarmuji menilai bahwa keberhasilan visi Prabowo akan menjadi kunci.

“Kalau rakyat cinta, urusan 2029 bisa lebih mudah.”

Pernyataan ini terdengar seperti optimisme, sekaligus pagar pengaman.

Sementara itu, Demokrat menampilkan sikap yang lebih berhati-hati.

Sekjen Demokrat Herman Khaeron menegaskan partainya masih fokus membantu Presiden Prabowo menyukseskan program-program pemerintah.

Menurutnya, tantangan politik, ekonomi, dan sosial masih terlalu besar untuk ditinggalkan.

Dengan demikian, Demokrat belum ingin berbicara jauh soal dua periode.

Cepat Mengatur Kekuasaan, Lambat Mengurus Pekerjaan Rumah

Di sinilah absurditasnya terasa lengkap.

Masalah harga pangan, lapangan kerja, pendidikan, serta akses layanan publik masih menjadi keluhan sehari-hari. Namun, elite politik justru lebih dulu membahas konfigurasi kekuasaan tiga tahun ke depan.

Ironisnya, hampir setiap elite menutup pernyataan mereka dengan kalimat klise “fokus kerja dulu.”

Padahal, mereka sendiri yang paling rajin membuka obrolan tentang 2029.

Situasi ini mirip seseorang yang mengaku sedang diet, tetapi terus membuka aplikasi pesan makanan.

Rakyat Hadir sebagai Angka, Bukan Cerita

Nama elite berseliweran di ruang publik.

Jokowi. Prabowo. Gibran. Cak Imin. Zulhas.

Sebaliknya, rakyat lebih sering muncul sebagai variabel: elektabilitas, survei, dan basis suara.

Mereka jarang hadir sebagai manusia dengan cerita konkret tentang biaya hidup, cicilan, dan masa depan anak-anaknya.

Akibatnya, politik terasa seperti permainan papan yang hanya bisa dimainkan elite, sementara rakyat menjadi pion yang dipindah-pindah.

Punchline: Kampanye Tidak Pernah Libur, Kerja Sering Cuti

Indonesia mungkin satu-satunya negara di mana kampanye selalu datang lebih cepat daripada penyelesaian masalah.

Tiga tahun sebelum Pilpres, elite sudah membagi kursi.

Namun, bertahun-tahun setelah janji kampanye, banyak janji masih duduk di ruang tunggu.

Maka pertanyaannya sederhana:

Jika sekarang saja mereka sibuk mengatur 2029, kapan tepatnya mereka benar-benar mengatur 2026?

Atau jangan-jangan, yang benar-benar dua periode di negeri ini bukan presidennya melainkan janji politiknya selalu diperpanjang, jarang diselesaikan. @dimas

Tags: DemokrasiElitegibranIsujanjikekuasaanNasionalPolitik IndonesiapraboworakyatSatirSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

by teguh
Mei 13, 2026

Saat stunting, campak, hingga angka kematian ibu dan bayi masih menghantui banyak keluarga, sebuah video dari ruang rapat DPRD Jember...

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

Amir Syarifuddin: Tokoh yang Terlalu Rumit untuk Sejarah Indonesia?

Amir Syarifuddin: Tokoh yang Terlalu Rumit untuk Sejarah Indonesia?

by jeje
Mei 13, 2026

Amir Syarifuddin bukan tokoh yang mudah dijelaskan dalam satu kalimat. Ia pernah menjadi Perdana Menteri kedua Republik Indonesia, memimpin perlawanan...

Next Post
Dana Hibah Jatim: Dugaan Komitmen 30 Persen Seret Nama Khofifah

Dana Hibah Jatim: Dugaan Komitmen 30 Persen Seret Nama Khofifah

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id