Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

by Waras
Mei 11, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Dulu banjir datang setahun sekali. Sekarang, banyak kota di Indonesia terasa seperti tinggal menunggu giliran tenggelam. Hujan memang makin ekstrem. Tapi masalahnya bukan cuma cuaca. Kota-kota kita tumbuh terlalu cepat, terlalu padat, dan terlalu sering dibangun tanpa memikirkan air akan pergi ke mana. Masalahnya, ketika beton terus menang dan ruang resapan terus kalah, air akhirnya memilih masuk ke rumah warga. Dan itu mulai terasa seperti pola nasional, bukan lagi bencana musiman.

Tabooo.id: Jakarta, Semarang, Demak, Pekalongan, Kendari, hingga beberapa kawasan Bandung dan Surabaya menghadapi ancaman yang mirip: kota semakin sulit menyerap air.

Hutan kota menyusut. Drainase tua tidak mampu menahan debit hujan baru. Sungai menyempit karena pembangunan liar. Sementara itu, permukaan tanah di beberapa kota terus turun akibat eksploitasi air tanah.

Akhirnya, hujan deras yang dulu dianggap “normal” sekarang bisa langsung berubah jadi bencana.

Ironisnya, banyak kota justru sibuk membangun mal, apartemen, dan jalan beton, tapi lupa membangun sistem air yang kuat. Kota terlihat modern di permukaan, tapi rapuh di bawahnya.

Ini Bukan Sekadar Hujan. Ini Krisis Tata Kota

Setiap kali banjir datang, narasi yang muncul hampir selalu sama: curah hujan tinggi.

Ini Belum Selesai

Neo Orba di Depan Mata: Dari Militerisasi Sipil hingga Pelemahan Kritik Publik

Demokrasi Tidak Mati Karena Kritik, Tapi Karena Fanatisme Politik

Padahal, hujan hanya pemicu. Masalah utamanya ada pada tata kota yang gagal membaca realitas iklim baru.

Indonesia sekarang menghadapi kombinasi berbahaya:

  • perubahan iklim global,
  • urbanisasi agresif,
  • minim ruang hijau,
  • dan infrastruktur air yang tertinggal.

Akibatnya, banyak kota berubah seperti mangkuk raksasa. Air masuk cepat, tapi keluarnya lambat.

Kendari jadi contoh terbaru. Dalam beberapa hari, hujan ekstrem langsung melumpuhkan kota. Jalan berubah jadi sungai. Rumah tenggelam. Aktivitas ekonomi berhenti.

Dan pola itu mulai terlihat di banyak daerah lain.

Generasi Urban Sedang Hidup di Kota yang Rapuh

Masalah ini bukan cuma soal banjir hari ini. Ini soal masa depan generasi urban Indonesia.

Harga properti terus naik, tapi keamanan lingkungannya justru turun.

Anak muda dipaksa hidup di kota yang:

  • panas,
  • padat,
  • minim pohon,
  • mahal,
  • dan makin rentan tenggelam.

Lucunya, iklan properti masih menjual “view kota modern”, sementara warga mulai sibuk mengecek tinggi genangan tiap musim hujan.

Ini bukan sekadar ironi. Ini tanda bahwa pembangunan kita terlalu fokus pada pertumbuhan visual, tapi lupa membangun daya tahan kota.

Kota Bukan Tenggelam Mendadak. Tapi Tenggelam Pelan-Pelan

Bencana besar sebenarnya jarang datang tiba-tiba.

Ia muncul dari masalah kecil yang dibiarkan bertahun-tahun:
drainase buruk,
alih fungsi lahan,
sungai yang dipersempit,
hingga izin pembangunan yang longgar.

Lalu semuanya menumpuk. Dan ketika hujan ekstrem datang, kota langsung kolaps.

Masalahnya, banjir di Indonesia sekarang bukan lagi anomali. Ia mulai terasa seperti kalender tahunan.

Dan mungkin pertanyaan terbesarnya bukan lagi:
“Kenapa banjir terus terjadi?”

Tapi:
“Kenapa kita terus membangun kota seolah krisis iklim belum nyata?” @waras

Tags: banjirCuaca EkstremKrisis Iklim

Kamu Melewatkan Ini

Ini Bukan Sekadar Banjir. Ini Alarm Gagalnya Tata Kota Kendari

Ini Bukan Sekadar Banjir. Ini Alarm Gagalnya Tata Kota Kendari

by Waras
Mei 11, 2026

Hujan turun seperti tidak ingin berhenti. Selama tiga hari, Kendari berubah dari kota pesisir menjadi cekungan air raksasa. Rumah tenggelam,...

Bantargebang Bukan Sekadar TPA: Ini “Bom Metana” dari Jantung Sampah Jakarta

Bantargebang Bukan Sekadar TPA: Ini “Bom Metana” dari Jantung Sampah Jakarta

by dimas
April 29, 2026

Di balik tumpukan sampah yang setiap hari terus meninggi di pinggir Kota Bekasi, ada sesuatu yang tak terlihat namun perlahan...

Kalau Bumi Makin Rusak, Apakah Itu Masih Bisa Disebut Pembangunan?

Kalau Bumi Makin Rusak, Apakah Itu Masih Bisa Disebut Pembangunan?

by dimas
April 23, 2026

Selama ini krisis iklim kita bicarakan sebagai isu lingkungan yang jauh dari rutinitas sehari-hari. Namun di balik setiap kebijakan yang...

Next Post
CSR = Cuan Setoran Rutin?

CSR = Cuan Setoran Rutin?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id