Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pendidikan Berdiri di Atas Guru yang Digaji Murah

by eko
Mei 6, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Mereka Mengajar, Tapi Sulit Bertahan Hidup Pagi belum benar-benar terang. Kabut masih turun tipis di jalan desa.
Namun seorang guru honorer sudah berjalan menuju sekolah dengan tas lusuh di pundaknya.

Tabooo.id: Deep – Di ruang kelas kecil itu, ia akan mengajarkan anak-anak tentang cita-cita. Tentang masa depan. Tentang harapan.

Ironisnya, hidupnya sendiri belum tentu aman sampai akhir bulan. Honor yang ia terima hanya sekitar Rp300 ribu.

Jumlah yang bahkan hari ini sering habis dalam sekali belanja kebutuhan dapur.

Namun besok pagi, ia tetap datang lagi.

Karena kalau ia berhenti, kelas itu mungkin ikut berhenti hidup.

Ini Belum Selesai

Love Scamming di Balik Jeruji: Ketika Penjara Jadi Markas Penipuan Digital

Main Game Saat Bahas Kesehatan: Kelalaian Biasa atau Krisis Empati Politik?

Pendidikan Berdiri di Atas Pengabdian Murah

Di kota besar,
orang sibuk bicara soal sekolah digital.

Soal AI, kurikulum modern dan Indonesia Emas.

Tapi di banyak daerah terpencil,
pendidikan masih bertahan karena satu hal sederhana:

Guru honorer yang memilih tetap tinggal.

Mereka mengisi sekolah yang kekurangan tenaga pengajar.

Mereka menjaga ruang kelas tetap berjalan ketika sistem belum mampu hadir sepenuhnya.

Dan mereka melakukan semua itu dengan penghasilan yang bahkan sering tidak cukup untuk hidup layak.

Masalahnya,
negara terlalu lama menganggap pengabdian sebagai alasan untuk membayar murah.

Seolah-olah guru harus rela menderita demi membuktikan cintanya pada pendidikan.

Guru Disebut Pahlawan, Tapi Dibiarkan Sendirian

Kalimat “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” terdengar indah di pidato resmi.

Namun di kehidupan nyata,
banyak guru honorer justru hidup tanpa kepastian paling dasar.

Mereka menghadapi harga kebutuhan yang terus naik, memikirkan biaya sekolah anaknya sendiri dan mencari pekerjaan tambahan setelah mengajar.

Ada yang menjadi buruh tani, juga ada yang berjualan gorengan dan ada yang menjadi ojek demi menutup kebutuhan hidup.

Namun keesokan paginya,
mereka tetap berdiri di depan kelas.

Tetap tersenyum.

Tetap mengajarkan anak-anak untuk berani bermimpi besar.

Di titik ini,
persoalannya bukan lagi sekadar soal gaji guru honorer.

Ini soal martabat.

Tentang bagaimana negara memperlakukan orang-orang yang menjaga masa depan generasi berikutnya.

Di Pelosok, Guru Honorer Menjadi Wajah Terakhir Negara

Bagi banyak murid di pelosok,
guru honorer bukan cuma pengajar.

Mereka menjadi tempat mengadu. Menjadi penyemangat.

Menjadi alasan anak-anak tetap percaya bahwa sekolah bisa mengubah hidup.

Kadang mereka membeli alat tulis memakai uang pribadi.

Kadang mereka mendatangi rumah murid yang berhenti belajar.

Mereka hadir bukan karena sistem sudah sempurna.

Justru karena sistem terlalu sering terlambat hadir.

Dan ironisnya,
ketika negara mulai bicara reformasi pendidikan,
suara mereka justru tenggelam di balik administrasi dan angka-angka birokrasi.

Ini Bukan Sekadar Gaji, Tapi Martabat Guru

Indonesia terus bicara tentang generasi emas.

Tentang masa depan hebat. Tentang anak-anak yang akan membawa bangsa ini maju.

Namun mimpi sebesar itu ternyata masih berdiri di atas pundak orang-orang yang hidup dalam ketidakpastian.

Guru honorer diminta mencetak masa depan bangsa,
sementara hidup mereka sendiri terus digantung.

Dan mungkin di situlah ironi terbesar pendidikan Indonesia hari ini:

Kita ingin anak-anak tumbuh dengan mimpi besar.

Tapi kita masih membiarkan orang yang mengajarkan mimpi itu berjuang sendirian.@eko

Tags: DPR RIGuru Honorerguru non ASNPendidikan IndonesiaPPPKsekolah negeri

Kamu Melewatkan Ini

Anak Muda Melawan Juri: Mengapa Pendidikan Kita Masih Sulit Menerima Kritik?

Anak Muda Melawan Juri: Mengapa Pendidikan Kita Masih Sulit Menerima Kritik?

by teguh
Mei 14, 2026

Di sebuah ruang lomba yang semestinya merayakan pengetahuan, suara keberatan seorang siswa justru memecah suasana. dan langsung menggambarkan bahwa Pendidikan...

Sekolah Rakyat dan Mimpi Anak Miskin: Pendidikan Putus Rantai Kemiskinan?

Sekolah Rakyat dan Mimpi Anak Miskin: Pendidikan Putus Rantai Kemiskinan?

by teguh
Mei 13, 2026

Di banyak sudut Nusa Tenggara Timur (NTT), sekolah tidak selalu terasa dekat dengan mimpi. Bagi sebagian anak, ruang kelas justru...

LCC 4 Pilar atau Lomba Artikulasi? Ketika Pengetahuan Kalah oleh Teknis

LCC 4 Pilar atau Lomba Artikulasi? Ketika Pengetahuan Kalah oleh Teknis

by teguh
Mei 13, 2026

Jika Dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) mengacu pada jawaban yang benar masih bisa dianggap salah karena pengucapan, lalu pendidikan sebenarnya...

Next Post
Kenaikan Tunjangan Hakim Ad Hoc: Obat Korupsi atau Sekadar Harapan Baru?

Kenaikan Tunjangan Hakim Ad Hoc: Obat Korupsi atau Sekadar Harapan Baru?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Film Pesta Babi Kembali Dibubarkan, Kini Terjadi di Ternate

Mei 10, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id