Api mengamuk di Pasar Kanjengan, Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Dalam hitungan jam, ratusan lapak berubah menjadi arang dan miliaran rupiah lenyap bersama asap. Para pedagang hanya berdiri di depan puing dagangan mereka. Sementara itu, pemerintah kota datang membawa resep lama relokasi seolah cukup untuk menyalakan kembali pasar yang baru saja hangus.
Tabooo.id: Deep – Kebakaran yang melanda Pasar Kanjengan bukan hanya menghancurkan lapak pedagang. Peristiwa itu juga menyingkap kerentanan kawasan niaga lama di Kota Semarang yang sejak lama menjadi simpul perdagangan rakyat. Di tengah proses relokasi pedagang yang belum selesai, api justru datang lebih dulu dan meninggalkan ketidakpastian baru bagi ratusan pelaku usaha kecil.
Api di Tengah Kawasan Niaga Lama
Kobaran api mulai terlihat di kompleks Pasar Kanjengan pada malam hari. Api cepat merambat di antara deretan kios dan los pasar. Para pemilik toko berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan barang dagangan mereka.
Seorang pemilik toko emas terlihat bolak-balik memeriksa barang berharganya. Ia memastikan tidak ada yang tertinggal ketika api mulai merambat ke bangunan di sekitarnya.
Namun tidak semua pedagang memiliki kesempatan yang sama. Banyak pedagang sudah pulang ketika api muncul.
Siti Khalimah, pedagang buah, hanya bisa menyaksikan dari kejauhan saat lapaknya terbakar.
“Saya hanya bisa pasrah. Tidak sempat mengambil dagangan karena kejadiannya saat semua sudah pulang,” ujarnya.
Laporan awal menyebut sedikitnya sekitar 200 kios terbakar dalam peristiwa tersebut. Dugaan sementara menyebut api berasal dari tumpukan peti buah sebelum kemudian merambat ke bangunan lain di sekitarnya.
Pemadaman Terkendala Infrastruktur
Petugas pemadam kebakaran segera datang ke lokasi untuk mengendalikan api. Namun upaya pemadaman sempat terkendala terbatasnya pasokan air. Beberapa hidran di kawasan pasar dilaporkan tidak berfungsi.
Situasi itu memicu kepanikan di sekitar lokasi. Seorang pemilik toko emas bahkan mencoba menerobos area kebakaran untuk memastikan barang dagangannya tidak tercecer.
Puluhan petugas pemadam dengan sejumlah armada berjibaku mengendalikan api agar tidak menjalar ke deretan pertokoan di sekitar pasar.
Proses pemadaman berlangsung selama sekitar lima jam. Api akhirnya dapat dikendalikan menjelang dini hari.
Ratusan Pedagang Kehilangan Tempat Usaha
Pemerintah Kota Semarang mencatat sedikitnya 468 pedagang terdampak dalam kebakaran tersebut. Rinciannya meliputi sekitar 450 los pasar dan sejumlah ruko di Blok F.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva, mengatakan polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran.
“Totalnya 468, yakni 450 los pasar, sisanya ruko Blok F,” ujarnya.
Pemerintah kota memperkirakan kerugian akibat kebakaran mencapai Rp5 hingga Rp6 miliar.
Sebagai langkah awal, pemerintah kota menyiapkan relokasi sementara bagi pedagang terdampak. Lokasi yang disiapkan antara lain Pasar Kanjengan Baru serta ruang di lantai tiga dan empat gedung pasar.
Namun kapasitas lokasi tersebut baru mampu menampung sekitar 100 hingga 150 los. Pemerintah kota kini mencari lokasi tambahan untuk menampung seluruh pedagang.
Selain relokasi, pemerintah juga membahas kemungkinan relaksasi kredit bagi pedagang yang kehilangan modal usaha.
Pasar Kanjengan dan Jejak Perdagangan Lama
Bagi warga sekitar, kebakaran ini bukan sekadar insiden satu malam. Pasar Kanjengan memiliki sejarah panjang dalam perkembangan perdagangan di Kota Semarang.
Ketua Paguyuban Warga Kanjengan, Bambang Juono, mengatakan dirinya telah mengenal kawasan tersebut sejak sekitar lima dekade lalu.
Menurutnya, kawasan ini pernah menjadi salah satu simpul perdagangan penting di kota. Di sekitar pasar berdiri deretan toko emas, pasar tradisional, hingga gedung bioskop.
“Kebakaran ini terjadi bersamaan dengan rencana relokasi pedagang dari Blok C ke gedung baru,” katanya.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa sekitar tahun 1970 kawasan Pasar Kanjengan ditata ulang menjadi satu kesatuan dengan Pasar Johar dan Pasar Yaik. Pada masa itu kawasan tersebut dipandang sebagai salah satu pusat perdagangan modern di kota.
Namun perjalanan kawasan ini tidak selalu mulus. Penataan ulang pedagang, konflik kepemilikan lahan, hingga perubahan pola perdagangan kota membuat Pasar Kanjengan mengalami pasang surut.
Ketidakpastian Setelah Api Padam
Kini kebakaran meninggalkan lebih dari sekadar puing bangunan. Ratusan pedagang kehilangan tempat usaha dan sebagian kehilangan seluruh modal dagangan mereka.
Di tengah rencana relokasi yang belum sepenuhnya selesai, para pedagang menghadapi pertanyaan yang lebih besar: bagaimana memulai kembali usaha setelah kebakaran.
Bagi banyak pedagang kecil, pasar bukan hanya tempat berdagang. Pasar adalah ruang hidup yang menopang ekonomi keluarga.
Ketika api memadamkan ratusan lapak di Pasar Kanjengan, yang ikut terbakar bukan hanya bangunan. Sebagian jejak niaga lama Kota Semarang juga ikut memudar. @dimas





