Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Anggaran Rakyat, Tapi Rakyat Tak Punya Kuasa: Apa yang Salah?

April 19, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di sebuah ruang rapat pemerintah daerah, warga duduk rapi dan menyampaikan usulan. Mereka bicara soal jalan rusak, bantuan sosial, dan fasilitas publik. Semua terdengar masuk akal. Semua tampak demokratis.

Namun, satu pertanyaan muncul: apakah suara mereka benar-benar menentukan?

Konsep Ideal: Rakyat Ikut Menentukan Anggaran

Participatory Budgeting (PB) menawarkan konsep demokrasi langsung. Pemerintah membuka ruang agar masyarakat ikut menentukan penggunaan anggaran publik.

Secara teori, sistem ini mendekatkan rakyat dengan kebijakan. Selain itu, masyarakat bisa merasa memiliki proses pembangunan.

Akan tetapi, konsep ideal ini mulai retak ketika bertemu realitas.

BacaJuga

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

Realita Lapangan: Aspirasi yang Disaring Ulang

Dalam praktiknya, warga sering menyusun banyak usulan. Mereka mengajukan kebutuhan yang nyata dan mendesak.

Namun, setelah forum selesai, pemerintah kembali menyaring semua usulan tersebut. Tidak semua aspirasi lolos. Bahkan, sebagian usulan hilang tanpa kejelasan.

Akibatnya, partisipasi berubah dari kekuatan menjadi sekadar formalitas.

Siapa yang Sebenarnya Mengontrol Anggaran?

Masalah utama tidak terletak pada sistemnya. Masalah muncul pada kontrol akhir.

Masyarakat memang berbicara. Namun, pemerintah tetap memegang keputusan.

  1. Di sinilah konflik muncul.
  2. Di satu sisi, prosedur demokrasi berjalan.
  3. Di sisi lain, kekuatan tetap terkonsentrasi.

Dengan kata lain, demokrasi terlihat hidup tetapi tidak sepenuhnya bekerja.

Ketimpangan: Tidak Semua Suara Sama Kuat

Selain itu, tidak semua warga memiliki akses informasi yang sama. Tidak semua orang memahami bagaimana anggaran bekerja.

Akibatnya, partisipasi menjadi timpang:

  1. Yang vokal lebih didengar
  2. Yang paham sistem lebih berpengaruh
  3. Yang awam justru tertinggal

Karena itu, suara publik tidak benar-benar setara.

Dampak Besar: Dari Partisipasi ke Apatisme

Ketika masyarakat merasa suaranya tidak berdampak, kepercayaan mulai menurun.

Orang tetap hadir dalam forum. Namun, mereka tidak lagi berharap banyak.

Lama-kelamaan, partisipasi berubah menjadi rutinitas tanpa makna. @Jery

Tags: anggaran publikDemokrasiKebijakan Publikmusrenbangparticipatory budgetingpartisipasi publikPolitik Indonesiatransparansi

REKOMENDASI TABOOO

Pelaku Dihukum, Dalang Hilang: Ada Apa dengan Kasus Kekerasan Aparat?

Pelaku Dihukum, Dalang Hilang: Ada Apa dengan Kasus Kekerasan Aparat?

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Deep - Malam itu sunyi. Namun, rasa takut tidak pernah benar-benar pergi.Bagi sebagian orang, ancaman tidak datang dari gelap....

Museum Marsinah Diresmikan Saat May Day, Simbol atau Awal Perubahan?

Museum Marsinah Diresmikan Saat May Day, Simbol atau Awal Perubahan?

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Nasional - Presiden RI Prabowo Subianto akan menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei 2026. Ia...

Tirto Dibungkam Kolonial, Ketika Pena dan Krtitik Lebih Ditakuti dari Senjata

Tirto Dibungkam Kolonial, Ketika Pena dan Krtitik Lebih Ditakuti dari Senjata

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Deep - Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda tak hanya merampas tanah. Mereka juga menguasai suara. Penguasa menentukan siapa...

Next Post
Sleepmaxxing: Saat Tidur Tak Lagi Santai, Tapi Jadi Target yang Harus Sempurna

Sleepmaxxing: Saat Tidur Tak Lagi Santai, Tapi Jadi Target Sempurna

Recommended

Lamar Mufti: Ombak, Hijab, dan Sunyi yang Ia Lawan Sendiri

Lamar Mufti: Ombak, Hijab, dan Sunyi yang Ia Lawan Sendiri

April 14, 2026
“Sejarah Dunia yang Disembunyikan”: Fakta yang Hilang atau Sengaja Dihilangkan?

“Sejarah Dunia yang Disembunyikan”: Fakta yang Hilang atau Sengaja Dihilangkan?

April 18, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id