Minggu, April 19, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Tirto Dibungkam Kolonial, Ketika Pena dan Krtitik Lebih Ditakuti dari Senjata

April 18, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Pada awal abad ke-20, Hindia Belanda tak hanya merampas tanah. Mereka juga menguasai suara. Penguasa menentukan siapa boleh bicara, siapa wajib diam, dan siapa pantas didengar. Dalam situasi itu, muncul Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, sosok yang memilih melawan lewat tulisan.

Tirto mendirikan Medan Prijaji pada 1907. Banyak sejarawan menilai surat kabar itu sebagai salah satu media pribumi modern pertama di Hindia Belanda. Namun fungsi koran ini jauh melampaui pemberitaan biasa. Tempat itu menjadi ruang aduan rakyat kecil, pedagang, pegawai rendahan, dan bumiputra yang mengalami ketidakadilan.

Kekuasaan selalu resah ketika rakyat mulai memegang mikrofon.

Sejarawan Prof. Dr. Taufik Abdullah menilai kebangkitan nasional tumbuh bukan hanya dari organisasi, tetapi juga dari pendidikan dan media. Dalam konteks itu, Tirto hadir bukan sekadar wartawan. Ia membuka jalan bagi kesadaran politik bumiputra.

Ia memahami satu hal penting penjajahan sering bertahan lama karena menguasai cerita.

BacaJuga

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

Pers Menjadi Senjata Kelas Bawah

Melalui Medan Prijaji, Tirto menyerang dua benteng sekaligus kolonialisme Belanda dan feodalisme lokal. Ia membela orang-orang yang tak punya pengacara, jabatan, atau akses ke pusat keputusan. Saat mayoritas rakyat tak bisa bicara, koran berubah menjadi pengeras suara.

Budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa pers modern lahir dari keberanian “mengganggu kekuasaan.” Kalimat itu terasa tepat untuk Tirto. Pada masanya, menulis bukan sekadar profesi, tetapi tindakan berisiko.

Sosiolog Dr. Ignas Kleden menjelaskan bahwa media kolonial melahirkan ruang publik baru. Di sana, banyak orang sadar bahwa penderitaan mereka ternyata sama. Kesadaran bersama itu berbahaya bagi penjajah karena rakyat yang sadar sulit terus ditundukkan.

Karena itu, tiap tulisan Tirto ikut menyalakan solidaritas sosial.

Ketika Kritik Dijawab dengan Hukum

Pemerintah kolonial tak suka suara merdeka. Mereka menekan Tirto lewat sensor, perkara hukum, intimidasi, dan pengasingan ke Ambon. Pola itu terasa akrab sampai hari ini.

Sejarawan Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo menjelaskan bahwa kolonialisme bekerja bukan hanya lewat kekerasan fisik, tetapi juga lewat aturan administratif dan perangkat hukum. Artinya, penguasa kerap memakai hukum untuk menertibkan kritik.

Mereka tak selalu membungkam secara terang-terangan. Cukup dengan menebar rasa takut, banyak orang memilih diam.

Tirto kehilangan banyak hal. Hartanya menyusut. Kesehatannya turun. Namanya perlahan tersingkir dari panggung sejarah. Pada 07/12/1918, ia wafat di Batavia dalam keadaan miskin dan nyaris terlupakan.

Ironinya jelas. Sosok yang memperjuangkan martabat bangsa justru pergi tanpa penghormatan besar dari zamannya.

Dari Tirto ke Era Digital: Sensor Berganti Wajah

Kini zaman berubah. Gubernur jenderal sudah tak ada. Kantor sensor kolonial juga telah hilang. Semua orang bisa membuka akun dan berbicara. Namun kebebasan itu tak selalu utuh.

Sensor modern sering hadir lewat wajah baru:

  • serangan buzzer kepada pengkritik,
  • doxing terhadap jurnalis,
  • tekanan ekonomi kepada media independen,
  • gugatan hukum yang menguras tenaga,
  • algoritma yang menenggelamkan suara kritis,
  • cap bahwa pengkritik adalah musuh negara.

Dulu penguasa menyita koran. Kini reputasi orang bisa dihancurkan. Dulu aparat mengawasi redaksi. Sekarang kebisingan memenuhi linimasa. Bentuk berubah, tetapi tujuan tetap sama membuat publik ragu bicara.

Banyak pengamat komunikasi politik mengingatkan bahwa demokrasi tak selalu runtuh lewat kudeta. Demokrasi juga melemah ketika warga takut mengkritik.

Sejarah Menemukan Tirto Lagi

Untungnya, sejarah kadang terlambat, tetapi tidak hilang.

Pramoedya Ananta Toer menghidupkan kembali nama Tirto lewat buku Sang Pemula pada 1985. Dari riset panjang itu, publik mengenal bahwa tokoh Minke dalam tetralogi Bumi Manusia banyak terinspirasi dari Tirto.

Pramoedya menyebut Tirto sebagai perintis pers nasional sekaligus perintis kesadaran modern bumiputra. Penilaian itu menempatkan Tirto sebagai tokoh penting dalam perjalanan bangsa.

Kemudian negara menetapkan Tirto sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI Nomor 85/TK/2006 tertanggal 03/11/2006. Pengakuan itu datang terlambat, tetapi tetap berarti.

Kenapa Kritik Masih Sering Dicurigai?

Kritik mengusik kenyamanan kekuasaan. Suara kritis membuka celah masalah. Tuntutan publik menagih janji. Sorotan tajam menunjukkan jarak antara citra dan kenyataan. Karena itu, sejak era kolonial hingga era digital, banyak pihak sering melabeli kritik sebagai gaduh, berlebihan, tidak loyal, bahkan berbahaya.

Padahal kritik sehat bukan ancaman negara. Kritik justru menjadi alarm negara.

Jika orang mematikan alarm, kebakaran tetap terjadi. Hanya saja semua sadar ketika semuanya sudah terlambat.

Warisan Tirto untuk Hari Ini

Tirto mengajarkan bahwa pers bukan pabrik sensasi. Pers adalah alat bela warga. Menulis bukan soal viralitas, melainkan keberanian membela mereka yang tak terdengar.

Ia wafat dalam kemiskinan, tetapi meninggalkan warisan moral. Zamannya membungkam dirinya, tetapi gagasannya terus hidup. Penguasa pernah menekannya, tetapi sejarah akhirnya memenangkannya.

Pertanyaannya sekarang bukan siapa Tirto. Pertanyaannya saat kritik kembali dicurigai, masih adakah keberanian seperti Tirto hari ini?. @teguh

Tags: AmbonBudayawanBukuDemokrasiFeodalismeKeppres RI Nomor 85/TK/2006KolonialismeMartabatMedan PrijajiMediaMinkeModernpahlawan nasionalPanggungPengasinganPerintisPersPers NasionalSang PemulaSejarahsejarawanSensorSosiologSurat KabarTetralogi Bumi ManusiaTulisanWafat

REKOMENDASI TABOOO

Anggaran Rakyat, Tapi Rakyat Tak Punya Kuasa: Apa yang Salah?

Anggaran Rakyat, Tapi Rakyat Tak Punya Kuasa: Apa yang Salah?

by Jery
April 19, 2026

Tabooo.id: Deep - Di sebuah ruang rapat pemerintah daerah, warga duduk rapi dan menyampaikan usulan. Mereka bicara soal jalan rusak,...

Nayato Fio Nuala Wafat, Film Indonesia Berduka

Nayato Fio Nuala Wafat, Film Indonesia Berduka

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Nasional - Dunia film Indonesia kembali berduka. Sutradara Nayato Fio Nuala meninggal dunia pada Sabtu, 18/04/2025. Artis Raffi Ahmad...

Kuota Tidak Hangus, Katanya Yang Hangus Perasaan Pelanggan

Kuota Tidak Hangus, Katanya Yang Hangus Perasaan Pelanggan

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Edge - Pernah beli paket data 50 GB, lalu sibuk beberapa hari, kemudian masa aktif habis dan kuota ikut...

Next Post
Ronaldo Kembali ke Jakarta: Il Fenomeno Datang, GBK Bersiap Bergemuruh

Ronaldo Kembali ke Jakarta: Il Fenomeno Datang, GBK Bersiap Bergemuruh

Recommended

Serial Baru Netflix Ini Buktikan Film Kuliner Bisa Punya Cerita Dalam

Serial Baru Netflix Ini Buktikan Film Kuliner Bisa Punya Cerita Dalam

April 18, 2026
Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

April 15, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026

The Mummy Versi Baru: Horor Keluarga atau Trauma yang Bangkit?

April 17, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id