Tabooo.id: Deep – Di sebuah ruang rapat pemerintah daerah, warga duduk rapi dan menyampaikan usulan. Mereka bicara soal jalan rusak, bantuan sosial, dan fasilitas publik. Semua terdengar masuk akal. Semua tampak demokratis.
Namun, satu pertanyaan muncul: apakah suara mereka benar-benar menentukan?
Konsep Ideal: Rakyat Ikut Menentukan Anggaran
Participatory Budgeting (PB) menawarkan konsep demokrasi langsung. Pemerintah membuka ruang agar masyarakat ikut menentukan penggunaan anggaran publik.
Secara teori, sistem ini mendekatkan rakyat dengan kebijakan. Selain itu, masyarakat bisa merasa memiliki proses pembangunan.
Akan tetapi, konsep ideal ini mulai retak ketika bertemu realitas.
Realita Lapangan: Aspirasi yang Disaring Ulang
Dalam praktiknya, warga sering menyusun banyak usulan. Mereka mengajukan kebutuhan yang nyata dan mendesak.
Namun, setelah forum selesai, pemerintah kembali menyaring semua usulan tersebut. Tidak semua aspirasi lolos. Bahkan, sebagian usulan hilang tanpa kejelasan.
Akibatnya, partisipasi berubah dari kekuatan menjadi sekadar formalitas.
Siapa yang Sebenarnya Mengontrol Anggaran?
Masalah utama tidak terletak pada sistemnya. Masalah muncul pada kontrol akhir.
Masyarakat memang berbicara. Namun, pemerintah tetap memegang keputusan.
- Di sinilah konflik muncul.
- Di satu sisi, prosedur demokrasi berjalan.
- Di sisi lain, kekuatan tetap terkonsentrasi.
Dengan kata lain, demokrasi terlihat hidup tetapi tidak sepenuhnya bekerja.
Ketimpangan: Tidak Semua Suara Sama Kuat
Selain itu, tidak semua warga memiliki akses informasi yang sama. Tidak semua orang memahami bagaimana anggaran bekerja.
Akibatnya, partisipasi menjadi timpang:
- Yang vokal lebih didengar
- Yang paham sistem lebih berpengaruh
- Yang awam justru tertinggal
Karena itu, suara publik tidak benar-benar setara.
Dampak Besar: Dari Partisipasi ke Apatisme
Ketika masyarakat merasa suaranya tidak berdampak, kepercayaan mulai menurun.
Orang tetap hadir dalam forum. Namun, mereka tidak lagi berharap banyak.
Lama-kelamaan, partisipasi berubah menjadi rutinitas tanpa makna. @Jery






