Perempuan Indonesia sudah maju. Mereka sekolah lebih tinggi, bekerja lebih luas, dan memimpin di berbagai sektor. Tapi di balik semua itu, satu hal masih tertinggal, kepercayaan. Kenapa kita masih meragukan perempuan, bahkan setelah semua pencapaian ini?
Tabooo.id: Deep – Perempuan Indonesia hari ini tidak lagi berada di pinggir. Mereka ada di ruang rapat, di panggung politik, di laboratorium, bahkan di kursi pengambil keputusan.
Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang terus menggantung, kenapa mereka masih harus membuktikan diri, seolah capaian itu belum cukup?
Kemajuan Yang Terlihat, Keraguan Yang Bertahan
Kalau melihat data global, partisipasi perempuan memang meningkat. Semakin banyak perempuan bekerja, berpendidikan tinggi, dan masuk ke sektor strategis.
Menurut laporan World Economic Forum dalam Global Gender Gap Report, kesenjangan gender di dunia memang perlahan menurun, termasuk di Indonesia.
Namun masalahnya bukan hanya soal akses. Masalahnya adalah persepsi.
Perempuan harus terus membuktikan diri. Tapi kita percaya laki-laki tanpa banyak tanya.
Ini bukan sekadar bias kecil, melainkan sistem cara berpikir yang sudah lama tertanam.
Dari Pingitan Ke Panggung, Tapi Belum Sepenuhnya Setara
Sejak awal, sistem menempatkan perempuan Indonesia di ruang yang sempit. Akses pendidikan dulu hanya terbuka untuk laki-laki atau kelompok tertentu.
Perubahan mulai terjadi ketika tokoh seperti Raden Ajeng Kartini menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Pemikirannya terdokumentasi dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang menjadi dasar gerakan emansipasi di Indonesia.
Sejak itu, ruang perempuan mulai terbuka. Sekolah berdiri, organisasi perempuan tumbuh, dan partisipasi meningkat. Namun masalahnya, struktur sosial tidak ikut berubah secepat itu.
Perempuan boleh hadir. Tapi belum tentu langsung dipercaya.
Dunia Kerja Yang Masih Punya Standar Ganda
Masuk ke dunia kerja, ketimpangan terlihat lebih konkret.
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya kesenjangan upah gender yang masih signifikan. Perempuan rata-rata menerima upah 20–23% lebih rendah dari laki-laki untuk pekerjaan yang sama.
Selain itu, tingkat partisipasi kerja perempuan juga lebih rendah. Banyak perempuan keluar dari dunia kerja karena beban domestik atau tekanan sosial.
Ironisnya, banyak perempuan justru menjadi pencari nafkah utama. Namun sistem masih menganggap mereka “sekadar pendukung”.
Masalahnya bukan di kemampuan, tapi ada di cara sistem menilai peran.
Beban Ganda Yang Dianggap Wajar
Perempuan tidak hanya bekerja. Mereka juga mengurus rumah, anak, dan keluarga. Fenomena ini dikenal sebagai “double burden” atau beban ganda.
Konsep ini diperkenalkan oleh sosiolog Arlie Hochschild dalam teori “second shift”. Ia menjelaskan bahwa perempuan bekerja dua kali, yakni di kantor dan di rumah.
Yang lebih berat, masyarakat menganggap ini hal biasa. Tidak ada sistem yang benar-benar membagi beban secara adil.
Akhirnya, perempuan terus berada dalam kondisi kelelahan yang tidak terlihat. Produktif di luar, tapi terkuras di dalam.
Plafon Kaca Yang Tak Terlihat
Banyak perempuan berhasil masuk ke dunia kerja. Tapi tidak semuanya bisa naik ke puncak.
Fenomena ini dikenal sebagai “glass ceiling”. Istilah ini merujuk pada hambatan tak terlihat yang menghalangi perempuan mencapai posisi tertinggi.
Menurut laporan International Labour Organization, perempuan masih sangat minim di posisi kepemimpinan global.
Di Indonesia, situasinya tidak jauh berbeda. Perempuan ada di organisasi, tapi jarang di posisi paling atas.
Keputusan besar sering terjadi di ruang informal. Dan ruang itu masih didominasi oleh jaringan maskulin.
Tekanan Yang Masuk Ke Dalam Diri
Keraguan eksternal lama-lama berubah jadi keraguan internal. Banyak perempuan merasa tidak cukup baik. Padahal mereka punya kemampuan.
Fenomena ini disebut imposter syndrome.
Menurut American Psychological Association, perempuan lebih rentan mengalami kondisi ini karena tekanan sosial dan standar ganda. Mereka sering menganggap kesuksesan sebagai kebetulan. Sementara kegagalan dianggap sebagai kesalahan pribadi.
Ini bukan sekadar masalah mental, namun dampak dari sistem yang terus mempertanyakan mereka.
Ini Bukan Soal Perempuan, Ini Soal Sistem
Kalau kita lihat lebih dalam, masalahnya bukan ada di individu. Ini soal sistem sosial yang masih bias. Budaya, kebijakan, dan cara berpikir masih menyimpan pola lama.
Perempuan harus bekerja lebih keras bukan karena mereka kurang mampu. Tapi karena mereka harus melawan sistem yang tidak netral.
Dampaknya Buat Kamu
Kalau kamu perempuan, kamu mungkin merasa harus selalu “lebih”. Lebih pintar, lebih kuat, lebih tahan tekanan.
Kalau kamu laki-laki, sistem sudah menguntungkan kamu sejak awal, dan kamu mungkin tidak sadar.
Dan kalau kamu bagian dari generasi sekarang, kamu hidup di antara dua realita, yakni di satu sisi, kamu melihat kemajuan. Sedangkan di sisi lain, kamu masih merasakan ketimpangan.
Masalahnya Bukan Pada Kemampuan
Masalah terbesar bukan di kemampuan perempuan. Mereka sudah membuktikan diri di berbagai bidang. Dari pendidikan, ekonomi, sampai kepemimpinan.
Tapi masalahnya ada di kepercayaan yang belum setara.
Selama perempuan masih harus membuktikan hal yang sama berulang kali, kesetaraan itu belum benar-benar terjadi.
Kesetaraan bukan soal kesempatan masuk, tapi soal kepercayaan untuk bertahan dan memimpin.
Perempuan Indonesia sudah maju. Kalau kita masih meragukan perempuan, masalahnya ada di kita. @tabooo






