Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

by Tabooo
April 19, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Perempuan Indonesia sudah maju. Mereka sekolah lebih tinggi, bekerja lebih luas, dan memimpin di berbagai sektor. Tapi di balik semua itu, satu hal masih tertinggal, kepercayaan. Kenapa kita masih meragukan perempuan, bahkan setelah semua pencapaian ini?

Tabooo.id: Deep – Perempuan Indonesia hari ini tidak lagi berada di pinggir. Mereka ada di ruang rapat, di panggung politik, di laboratorium, bahkan di kursi pengambil keputusan.

Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang terus menggantung, kenapa mereka masih harus membuktikan diri, seolah capaian itu belum cukup?

Kemajuan Yang Terlihat, Keraguan Yang Bertahan

Kalau melihat data global, partisipasi perempuan memang meningkat. Semakin banyak perempuan bekerja, berpendidikan tinggi, dan masuk ke sektor strategis.

Menurut laporan World Economic Forum dalam Global Gender Gap Report, kesenjangan gender di dunia memang perlahan menurun, termasuk di Indonesia.

Namun masalahnya bukan hanya soal akses. Masalahnya adalah persepsi.

Ini Belum Selesai

Indonesia Kaya, Mengapa Rakyat Belum Sejahtera?

Nasionalisme atau Kapitalisme Negara? Arah Baru Ekonomi Indonesia

Perempuan harus terus membuktikan diri. Tapi kita percaya laki-laki tanpa banyak tanya.

Ini bukan sekadar bias kecil, melainkan sistem cara berpikir yang sudah lama tertanam.

Dari Pingitan Ke Panggung, Tapi Belum Sepenuhnya Setara

Sejak awal, sistem menempatkan perempuan Indonesia di ruang yang sempit. Akses pendidikan dulu hanya terbuka untuk laki-laki atau kelompok tertentu.

Perubahan mulai terjadi ketika tokoh seperti Raden Ajeng Kartini menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Pemikirannya terdokumentasi dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang menjadi dasar gerakan emansipasi di Indonesia.

Sejak itu, ruang perempuan mulai terbuka. Sekolah berdiri, organisasi perempuan tumbuh, dan partisipasi meningkat. Namun masalahnya, struktur sosial tidak ikut berubah secepat itu.

Perempuan boleh hadir. Tapi belum tentu langsung dipercaya.

Dunia Kerja Yang Masih Punya Standar Ganda

Masuk ke dunia kerja, ketimpangan terlihat lebih konkret.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya kesenjangan upah gender yang masih signifikan. Perempuan rata-rata menerima upah 20–23% lebih rendah dari laki-laki untuk pekerjaan yang sama.

Selain itu, tingkat partisipasi kerja perempuan juga lebih rendah. Banyak perempuan keluar dari dunia kerja karena beban domestik atau tekanan sosial.

Ironisnya, banyak perempuan justru menjadi pencari nafkah utama. Namun sistem masih menganggap mereka “sekadar pendukung”.

Masalahnya bukan di kemampuan, tapi ada di cara sistem menilai peran.

Beban Ganda Yang Dianggap Wajar

Perempuan tidak hanya bekerja. Mereka juga mengurus rumah, anak, dan keluarga. Fenomena ini dikenal sebagai “double burden” atau beban ganda.

Konsep ini diperkenalkan oleh sosiolog Arlie Hochschild dalam teori “second shift”. Ia menjelaskan bahwa perempuan bekerja dua kali, yakni di kantor dan di rumah.

Yang lebih berat, masyarakat menganggap ini hal biasa. Tidak ada sistem yang benar-benar membagi beban secara adil.

Akhirnya, perempuan terus berada dalam kondisi kelelahan yang tidak terlihat. Produktif di luar, tapi terkuras di dalam.

Plafon Kaca Yang Tak Terlihat

Banyak perempuan berhasil masuk ke dunia kerja. Tapi tidak semuanya bisa naik ke puncak.

Fenomena ini dikenal sebagai “glass ceiling”. Istilah ini merujuk pada hambatan tak terlihat yang menghalangi perempuan mencapai posisi tertinggi.

Menurut laporan International Labour Organization, perempuan masih sangat minim di posisi kepemimpinan global.

Di Indonesia, situasinya tidak jauh berbeda. Perempuan ada di organisasi, tapi jarang di posisi paling atas.

Keputusan besar sering terjadi di ruang informal. Dan ruang itu masih didominasi oleh jaringan maskulin.

Tekanan Yang Masuk Ke Dalam Diri

Keraguan eksternal lama-lama berubah jadi keraguan internal. Banyak perempuan merasa tidak cukup baik. Padahal mereka punya kemampuan.

Fenomena ini disebut imposter syndrome.

Menurut American Psychological Association, perempuan lebih rentan mengalami kondisi ini karena tekanan sosial dan standar ganda. Mereka sering menganggap kesuksesan sebagai kebetulan. Sementara kegagalan dianggap sebagai kesalahan pribadi.

Ini bukan sekadar masalah mental, namun dampak dari sistem yang terus mempertanyakan mereka.

Ini Bukan Soal Perempuan, Ini Soal Sistem

Kalau kita lihat lebih dalam, masalahnya bukan ada di individu. Ini soal sistem sosial yang masih bias. Budaya, kebijakan, dan cara berpikir masih menyimpan pola lama.

Perempuan harus bekerja lebih keras bukan karena mereka kurang mampu. Tapi karena mereka harus melawan sistem yang tidak netral.

Dampaknya Buat Kamu

Kalau kamu perempuan, kamu mungkin merasa harus selalu “lebih”. Lebih pintar, lebih kuat, lebih tahan tekanan.

Kalau kamu laki-laki, sistem sudah menguntungkan kamu sejak awal, dan kamu mungkin tidak sadar.

Dan kalau kamu bagian dari generasi sekarang, kamu hidup di antara dua realita, yakni di satu sisi, kamu melihat kemajuan. Sedangkan di sisi lain, kamu masih merasakan ketimpangan.

Masalahnya Bukan Pada Kemampuan

Masalah terbesar bukan di kemampuan perempuan. Mereka sudah membuktikan diri di berbagai bidang. Dari pendidikan, ekonomi, sampai kepemimpinan.

Tapi masalahnya ada di kepercayaan yang belum setara.

Selama perempuan masih harus membuktikan hal yang sama berulang kali, kesetaraan itu belum benar-benar terjadi.

Kesetaraan bukan soal kesempatan masuk, tapi soal kepercayaan untuk bertahan dan memimpin.

Perempuan Indonesia sudah maju. Kalau kita masih meragukan perempuan, masalahnya ada di kita. @tabooo

Tags: Isu PerempuanKesetaraan GenderPatriarkiPerempuan IndonesiaTabooo Deep

Kamu Melewatkan Ini

Gerwani: Saat Propaganda Mengalahkan Fakta

Gerwani: Saat Propaganda Mengalahkan Fakta

by dimas
Juli 21, 2026

Gerwani pernah menjadi organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Namun, propaganda politik pasca-1965 membentuk citranya selama puluhan tahun. Bagaimana fakta sejarah...

Gerakan Perempuan Indonesia: Perlawanan di Bawah Bayang Penindasan

Gerakan Perempuan Indonesia: Perlawanan di Bawah Bayang Penindasan

by dimas
Juli 21, 2026

Gerakan Perempuan Indonesia, perlawanan di bawah bayang Penindasan mengulas sejarah panjang pembungkaman gerakan perempuan, dari kolonialisme, Gerwani, Orde Baru, hingga...

Gerwis: Dari Medan Revolusi Menuju Perjuangan Kesetaraan

Gerwis: Dari Medan Revolusi Menuju Perjuangan Kesetaraan

by dimas
Juli 17, 2026

Gerwis menjadi tonggak penting dalam sejarah gerakan perempuan Indonesia yang memperjuangkan kesetaraan, keadilan sosial, dan hak-hak perempuan pascakemerdekaan. Tabooo.id -...

Next Post
Perempuan Bicara, Sistem Menekan: Siapa Takut Suara Mereka?

Patriarki Masih Dominan: Perempuan Harus Diam atau Melawan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id