Minggu, April 19, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Patriarki Masih Dominan: Perempuan Harus Diam atau Melawan?

April 19, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Ruang publik terlihat terbuka, tetapi tidak semua suara benar-benar bebas.
Perempuan yang berani bicara sering menghadapi tekanan, ancaman, bahkan kekerasan.

Banyak dari mereka tidak berhenti karena takut. Mereka berhenti karena terus diserang.

Di titik ini, kesetaraan jender tidak lagi terasa sebagai cita-cita, tetapi sebagai perjuangan yang belum selesai.

Kekerasan yang Terstruktur

Kekerasan terhadap perempuan aktivis tidak muncul secara acak.
Pola ini terus berulang dan menunjukkan cara kerja sistem yang menekan suara kritis.

Data global memperlihatkan situasi yang mengkhawatirkan. Satu dari empat jurnalis perempuan mengalami kekerasan daring. Mayoritas politisi perempuan juga menghadapi tekanan psikologis.

BacaJuga

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

Angka ini tidak berdiri sendiri. Ia menunjukkan satu hal ruang publik masih belum aman bagi perempuan.

Aktivis yang mengangkat isu HAM, lingkungan, dan politik sering memicu reaksi keras. Banyak pihak melihat mereka sebagai ancaman terhadap kekuasaan yang sudah mapan.

Ancaman yang Mengendap Jadi Trauma

Kasus teror terhadap jurnalis perempuan pada 2025 memperlihatkan eskalasi nyata. Pelaku tidak lagi sekadar menyerang secara verbal. Mereka mulai menggunakan intimidasi fisik yang brutal.

Namun, dampak terbesar tidak berhenti pada ancaman itu sendiri.
Korban membawa luka psikologis yang bertahan lama.

Banyak perempuan memilih diam untuk melindungi diri. Mereka tidak kehilangan suara, tetapi kehilangan rasa aman untuk menggunakannya.

Trauma ini jarang muncul ke permukaan. Ia tersembunyi dan terus memengaruhi keberanian perempuan untuk bersuara.

Bahasa sebagai Senjata

Pelaku tidak selalu menggunakan kekerasan fisik. Mereka juga memakai bahasa sebagai alat serangan.

Komentar body shaming, hinaan berbasis gender, dan pelecehan verbal muncul untuk merendahkan perempuan. Serangan ini tidak sederhana. Pelaku sengaja mengalihkan fokus dari kapasitas ke fisik.

Strategi ini efektif. Banyak perempuan akhirnya meragukan diri sendiri dan menarik diri dari ruang publik.

Dalam konsep muted group theory, kelompok dominan mengontrol bahasa untuk mempertahankan kekuasaan. Akibatnya, perempuan kesulitan mengekspresikan pengalaman mereka secara utuh.

Ruang Publik yang Bias

Banyak orang menganggap ruang publik netral. Kenyataannya berbeda.
Relasi kuasa membentuk siapa yang bisa bicara dan siapa yang harus diam.

Kelompok dominan mengontrol standar, norma, dan batasan.
Perempuan yang melanggar batas itu sering menerima tekanan.

Kontrol terhadap tubuh perempuan menjadi bagian dari mekanisme ini. Serangan fisik dan verbal tidak hanya menyasar individu, tetapi juga eksistensi mereka di ruang publik.

Ketika tubuh diserang, kepercayaan diri ikut runtuh. Ketika kepercayaan diri runtuh, suara ikut melemah.

Regulasi Belum Menyentuh Akar Masalah

Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). Namun, implementasinya belum menjangkau seluruh realitas.

UU ini belum memberi perlindungan spesifik bagi perempuan aktivis, terutama di ranah advokasi dan politik.

Akibatnya, perempuan tetap menghadapi risiko tinggi tanpa perlindungan yang memadai.

Dewan Pers dan institusi terkait perlu mengambil langkah lebih tegas. Mereka harus memastikan ruang kerja jurnalis perempuan benar-benar aman.

Kartini dan Suara yang Belum Tuntas

RA Kartini tidak hanya memperjuangkan akses pendidikan. Ia juga memperjuangkan keberanian berpikir dan berbicara.

Semangat itu masih hidup hingga hari ini. Namun, tantangan yang dihadapi perempuan belum banyak berubah.

Perempuan masih harus berhadapan dengan stigma, tekanan sosial, dan kekerasan.

Ini bukan lagi soal apakah perempuan boleh bicara.
Ini soal apakah masyarakat siap mendengar.

Ini Bukan Kasus, Ini Pola

Kekerasan terhadap perempuan aktivis menunjukkan pola yang konsisten. Sistem sosial masih memberi ruang bagi pembungkaman.

Selama kondisi ini bertahan, perempuan akan terus menghadapi risiko setiap kali mereka bersuara.

Dan pertanyaannya sekarang tidak bisa dihindari, apakah kita benar-benar mendukung kesetaraan, atau hanya nyaman dengan ilusi kesetaraan?

Perempuan tidak kekurangan keberanian, tapi sistem terus mengurangi ruang mereka untuk bersuara. @dimas

Tags: Aktivis Perempuanfeminisme IndonesiaHari KartiniKartinikekerasan perempuanKesetaraan GenderLawan PatriarkiPerempuan BersuaraRuang PublikStop PembungkamanSuara Perempuan

REKOMENDASI TABOOO

Tanpa Kartini, Ketimpangan Bisa Jadi Normal Sampai Hari Ini

Tanpa Kartini, Ketimpangan Bisa Jadi Normal Sampai Hari Ini

by eko
April 19, 2026

Bayangkan dunia tanpa satu suara yang pernah mengganggu sunyi sejarah: RA Kartini tidak pernah menulis, tidak pernah bertanya, dan tidak...

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

by Tabooo
April 19, 2026

Perempuan Indonesia sudah maju. Mereka sekolah lebih tinggi, bekerja lebih luas, dan memimpin di berbagai sektor. Tapi di balik semua...

Emansipasi Perempuan Meningkat, Kekerasan Ikut Meledak

Emansipasi Perempuan Meningkat, Kekerasan Ikut Meledak

by Tabooo
April 19, 2026

Tabooo.id: Deep - Emansipasi terhadap perempuan meningkat, tapi kekerasan justru ikut meledak. Perempuan hari ini terlihat lebih bebas, mereka sekolah tinggi,...

Next Post
Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

Recommended

Serial Baru Netflix Ini Buktikan Film Kuliner Bisa Punya Cerita Dalam

Serial Baru Netflix Ini Buktikan Film Kuliner Bisa Punya Cerita Dalam

April 18, 2026
Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

Mengapa Klub Indonesia Sering Miskin di Balik Nama Besar?

April 15, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026

The Mummy Versi Baru: Horor Keluarga atau Trauma yang Bangkit?

April 17, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id