Tabooo.id: Deep – Ruang publik terlihat terbuka, tetapi tidak semua suara benar-benar bebas.
Perempuan yang berani bicara sering menghadapi tekanan, ancaman, bahkan kekerasan.
Banyak dari mereka tidak berhenti karena takut. Mereka berhenti karena terus diserang.
Di titik ini, kesetaraan jender tidak lagi terasa sebagai cita-cita, tetapi sebagai perjuangan yang belum selesai.
Kekerasan yang Terstruktur
Kekerasan terhadap perempuan aktivis tidak muncul secara acak.
Pola ini terus berulang dan menunjukkan cara kerja sistem yang menekan suara kritis.
Data global memperlihatkan situasi yang mengkhawatirkan. Satu dari empat jurnalis perempuan mengalami kekerasan daring. Mayoritas politisi perempuan juga menghadapi tekanan psikologis.
Angka ini tidak berdiri sendiri. Ia menunjukkan satu hal ruang publik masih belum aman bagi perempuan.
Aktivis yang mengangkat isu HAM, lingkungan, dan politik sering memicu reaksi keras. Banyak pihak melihat mereka sebagai ancaman terhadap kekuasaan yang sudah mapan.
Ancaman yang Mengendap Jadi Trauma
Kasus teror terhadap jurnalis perempuan pada 2025 memperlihatkan eskalasi nyata. Pelaku tidak lagi sekadar menyerang secara verbal. Mereka mulai menggunakan intimidasi fisik yang brutal.
Namun, dampak terbesar tidak berhenti pada ancaman itu sendiri.
Korban membawa luka psikologis yang bertahan lama.
Banyak perempuan memilih diam untuk melindungi diri. Mereka tidak kehilangan suara, tetapi kehilangan rasa aman untuk menggunakannya.
Trauma ini jarang muncul ke permukaan. Ia tersembunyi dan terus memengaruhi keberanian perempuan untuk bersuara.
Bahasa sebagai Senjata
Pelaku tidak selalu menggunakan kekerasan fisik. Mereka juga memakai bahasa sebagai alat serangan.
Komentar body shaming, hinaan berbasis gender, dan pelecehan verbal muncul untuk merendahkan perempuan. Serangan ini tidak sederhana. Pelaku sengaja mengalihkan fokus dari kapasitas ke fisik.
Strategi ini efektif. Banyak perempuan akhirnya meragukan diri sendiri dan menarik diri dari ruang publik.
Dalam konsep muted group theory, kelompok dominan mengontrol bahasa untuk mempertahankan kekuasaan. Akibatnya, perempuan kesulitan mengekspresikan pengalaman mereka secara utuh.
Ruang Publik yang Bias
Banyak orang menganggap ruang publik netral. Kenyataannya berbeda.
Relasi kuasa membentuk siapa yang bisa bicara dan siapa yang harus diam.
Kelompok dominan mengontrol standar, norma, dan batasan.
Perempuan yang melanggar batas itu sering menerima tekanan.
Kontrol terhadap tubuh perempuan menjadi bagian dari mekanisme ini. Serangan fisik dan verbal tidak hanya menyasar individu, tetapi juga eksistensi mereka di ruang publik.
Ketika tubuh diserang, kepercayaan diri ikut runtuh. Ketika kepercayaan diri runtuh, suara ikut melemah.
Regulasi Belum Menyentuh Akar Masalah
Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). Namun, implementasinya belum menjangkau seluruh realitas.
UU ini belum memberi perlindungan spesifik bagi perempuan aktivis, terutama di ranah advokasi dan politik.
Akibatnya, perempuan tetap menghadapi risiko tinggi tanpa perlindungan yang memadai.
Dewan Pers dan institusi terkait perlu mengambil langkah lebih tegas. Mereka harus memastikan ruang kerja jurnalis perempuan benar-benar aman.
Kartini dan Suara yang Belum Tuntas
RA Kartini tidak hanya memperjuangkan akses pendidikan. Ia juga memperjuangkan keberanian berpikir dan berbicara.
Semangat itu masih hidup hingga hari ini. Namun, tantangan yang dihadapi perempuan belum banyak berubah.
Perempuan masih harus berhadapan dengan stigma, tekanan sosial, dan kekerasan.
Ini bukan lagi soal apakah perempuan boleh bicara.
Ini soal apakah masyarakat siap mendengar.
Ini Bukan Kasus, Ini Pola
Kekerasan terhadap perempuan aktivis menunjukkan pola yang konsisten. Sistem sosial masih memberi ruang bagi pembungkaman.
Selama kondisi ini bertahan, perempuan akan terus menghadapi risiko setiap kali mereka bersuara.
Dan pertanyaannya sekarang tidak bisa dihindari, apakah kita benar-benar mendukung kesetaraan, atau hanya nyaman dengan ilusi kesetaraan?
Perempuan tidak kekurangan keberanian, tapi sistem terus mengurangi ruang mereka untuk bersuara. @dimas






