Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pelaku Dihukum, Dalang Hilang: Ada Apa dengan Kasus Kekerasan Aparat?

by dimas
April 18, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Malam itu sunyi. Namun, rasa takut tidak pernah benar-benar pergi.
Bagi sebagian orang, ancaman tidak datang dari gelap. Sebaliknya, ancaman justru muncul dari sistem yang seharusnya melindungi.

Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus, kembali membuka luka lama. Bukan hanya soal kekerasan, melainkan juga soal cara kebenaran diperlakukan.

Ketika aparat menyebut motifnya “dendam pribadi”, publik langsung bereaksi. Lalu muncul pertanyaan apakah sesederhana itu?

Ketika Fakta Berhenti di Permukaan

Namun, Kontras tidak tinggal diam. Mereka langsung menggugat narasi tersebut.
Melalui investigasi mandiri, tim advokasi menemukan indikasi kuat bahwa serangan itu berlangsung secara terorganisasi.

Artinya, ini bukan emosi spontan. Sebaliknya, seseorang merancang aksi ini dengan rapi.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

“Motif dendam pribadi berpotensi memutus rantai komando,” ujar perwakilan Kontras.

Pernyataan itu tidak berdiri sendiri. Sebaliknya, ia mengacu pada pola yang berulang dalam banyak kasus serupa.

Sayangnya, hukum sering berhenti di pelaku lapangan. Sementara itu, pihak yang diduga merancang atau memerintah justru tetap berada di luar jangkauan.

Impunitas yang Diam-diam Dinormalisasi

Sejak reformasi 1998, Indonesia terus bergerak menuju demokrasi. Namun, di saat yang sama, keberanian membongkar kebenaran sampai ke akar justru belum berkembang.

Akibatnya, banyak kasus pelanggaran HAM berat, penculikan aktivis, hingga kekerasan negara berakhir tanpa kejelasan.

Peneliti Geoffrey Robinson menyebut kondisi ini sebagai impunitas. Dengan kata lain, pola lama ini terus berulang dan perlahan dianggap wajar.

Sebagai contoh, publik masih mengingat kasus penyiraman terhadap Novel Baswedan pada 2017.
Memang, aparat menghukum pelaku. Namun, hingga kini, publik masih mempertanyakan satu hal: siapa dalangnya?

Data Bicara, Kepercayaan Goyah

Di sisi lain, data menunjukan selama 2015–2024 memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan.

Tingkat kepuasan publik terhadap penyelesaian kasus kekerasan aparat hanya mencapai 54,1 persen.
Sebaliknya, kepuasan terhadap kinerja pemerintah secara umum justru melampaui 65 persen.

Dengan demikian, terlihat jelas adanya jurang kepercayaan.

Selain itu, masyarakat menilai hukum belum berjalan setara. Hukuman terasa ringan, proses kurang transparan, dan kebenaran seolah berhenti di tengah jalan.

Relasi Kuasa dan Ruang Kekerasan

Sementara itu, Benedict Anderson mengingatkan bahwa kekerasan negara selalu berkaitan dengan relasi kuasa dan mekanisme kontrol.

Dalam sistem yang lemah akuntabilitasnya, kekerasan tidak hanya muncul, tetapi juga berkembang.

Akibatnya, kelompok kritis menjadi paling rentan. Aktivis, pembela HAM, bahkan seniman bisa menjadi target.

Sebagai ilustrasi, kasus band Sukatani menunjukkan bagaimana kritik bisa berubah menjadi tekanan.

Lebih jauh lagi, masalah ini tidak hanya menyangkut kekerasan fisik. Pembatasan ekspresi juga merupakan bentuk kekerasan.

Jika kondisi ini terus terjadi, maka demokrasi perlahan kehilangan napasnya.

Ini Bukan Sekadar Kasus, Ini Pola

Oleh karena itu, apa yang terjadi pada Andrie Yunus bukan kejadian tunggal. Ini pola yang berulang.

Pertama, kekerasan muncul.
Kemudian, aparat menghukum pelaku lapangan.
Setelah itu, proses berhenti.

Padahal, publik membutuhkan jawaban yang lebih dalam. Siapa aktor intelektual di balik semua ini?

Selama pertanyaan itu tidak terjawab, impunitas akan terus hidup. Dan pada akhirnya, setiap kasus baru hanya akan mengulang cerita lama.

Dampaknya Bukan Hanya ke Korban

Lebih dari itu, ketidakadilan ini membawa dampak luas.

Memang, korban mengalami luka langsung. Namun, masyarakat juga merasakan dampaknya.

Perlahan, rasa takut tumbuh. Kemudian, keberanian mulai menyusut.

Akibatnya, orang berpikir dua kali sebelum bersuara. Kritik berubah dari hak menjadi risiko.

Di titik ini, demokrasi memang masih berjalan. Namun, maknanya mulai terkikis.

Sampai Kapan Kebenaran Setengah Jalan?

Karena itu, negara tidak cukup hanya menghukum pelaku lapangan.
Sebaliknya, negara harus berani membongkar siapa yang memerintah, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dilindungi.

Jika tidak, hukum hanya menjadi formalitas. Dan keadilan berubah menjadi ilusi.

Pada akhirnya, jika pola ini terus berulang, yang dipertaruhkan bukan hanya satu kasus.
Melainkan, masa depan demokrasi itu sendiri. @dimas

Tags: Andrie YunusDemokrasiHukum IndonesiaImpunitasKeadilanKontraSkritik sosialNegaraReformasi

Kamu Melewatkan Ini

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

Demokrasi atau Ilusi Pilihan? Saat Popularitas Mengalahkan Pengetahuan

by dimas
Juni 5, 2026

Demokrasi menjanjikan kesetaraan, tetapi apakah suara terbanyak selalu melahirkan keputusan terbaik? Saat emosi mengalahkan pengetahuan, bencana bisa terjadi. Tabooo.id -...

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

by dimas
Juni 5, 2026

Pembodohan struktural dan kemiskinan bukan sekadar masalah sosial. Keduanya dapat menjadi alat politik yang melemahkan daya kritis warga dan menguntungkan...

Tabooology: Merdeka Berpikir di Negeri yang Terlalu Lama Dipaksa Tunduk

Tabooology: Merdeka Berpikir di Negeri yang Terlalu Lama Dipaksa Tunduk

by Tabooo
Juni 4, 2026

Tabooology melawan feodalisme bukan dengan membenci tradisi, tapi dengan membongkar rasa takut yang terlalu lama disamarkan sebagai tata krama.

Next Post
Kencan Manis, Dompet Menangis: Pria Sidoarjo Diduga Tipu Puluhan Perempuan

Kencan Manis, Dompet Menangis: Pria Sidoarjo Tipu Puluhan Perempuan

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id