Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pulang Itu Hangat, Tapi Kenapa Kita Takut?

by jeje
April 11, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Pulang seharusnya terasa hangat. Namun, seiring bertambahnya usia, maknanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang justru kita hindari.

Di awal perjalanan, semuanya terasa ringan. Kita melangkah dengan mimpi besar, lalu mulai mengejar satu per satu target. Setiap usaha terasa seperti bukti bahwa kita sedang menuju arah yang benar.

Akan tetapi, realita tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika harapan mulai runtuh, satu hal tiba-tiba terasa paling berat: pulang dan menatap ibu.

Ketika Gagal Menjadi Rasa Bersalah

Pada titik itu, kegagalan tidak lagi terasa biasa. Perlahan, ia berubah menjadi rasa bersalah yang sulit dijelaskan.

Tanpa disadari, muncul pertanyaan-pertanyaan kecil di dalam kepala. Apakah kita sudah cukup? Apakah kita sudah membuat ibu bangga?

Ini Belum Selesai

Ketika Negara Tak Lagi Menjadi Rumah

Bakteri di Mulutmu Tidak Selalu Jahat, Justru Sebagian Menjagamu

Meski tidak pernah diucapkan, pertanyaan itu terus berulang. Bahkan, ia mulai membentuk cara kita menilai diri sendiri.

Buku Ada Duka di Bawah Telapak Kaki Ibu karya Khoirul Trian menangkap perasaan ini dengan jujur dan tenang. 

Rumah yang Tetap Sama, Kita yang Berubah

Sebenarnya, tidak ada yang berubah di rumah. Ibu tetap menunggu, dan kehangatan itu masih ada.

Namun demikian, yang berubah justru cara kita memandang diri sendiri.

Rasa tidak cukup perlahan muncul. Ada dorongan untuk membawa sesuatu saat pulang, seolah keberhasilan menjadi tiket agar kita layak kembali.

Padahal, ibu tidak pernah menetapkan syarat seperti itu.

Ironisnya, tekanan terbesar bukan datang dari luar. Sebaliknya, tekanan itu tumbuh dari dalam diri kita sendiri.

Cinta yang Kita Tafsirkan Berbeda

Sejak kecil, kita diajarkan untuk membahagiakan orang tua. Nilai ini terasa benar dan wajar.

Namun seiring waktu, maknanya bergeser. Kita mulai mengaitkan cinta dengan pencapaian. Kita merasa harus berhasil agar layak dicintai.

Akibatnya, ketika gagal, kita tidak hanya kecewa. Kita juga merasa kehilangan nilai diri.

Di sinilah letak masalahnya. Bukan pada cinta itu sendiri, melainkan pada cara kita memahaminya.

Takut yang Sebenarnya

Jika dipikir ulang, rasa takut itu bukan tentang kegagalan.

Yang membuat kita ragu adalah kemungkinan mengecewakan.

Selain itu, standar yang kita pegang sering tidak jelas. Tidak ada yang benar-benar mengatakannya, tetapi tekanan itu terasa nyata.

Karena itu, perjalanan pulang terasa semakin berat.

Refleksi: Kita Hidup untuk Siapa

Buku ini tidak memberikan jawaban pasti. Sebaliknya, ia mengajak pembaca berhenti sejenak dan berpikir.

Untuk siapa kita berjuang selama ini? Apakah kita benar-benar hidup untuk diri sendiri, atau hanya mengikuti ekspektasi yang kita serap tanpa sadar?

Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana. Namun, jawabannya sering kali tidak mudah.

Penutup: Berani Pulang

Pada akhirnya, pulang bukan soal jarak. Pulang adalah soal keberanian.

Keberanian untuk menerima diri sendiri, termasuk kegagalan yang pernah terjadi. Selain itu, dibutuhkan keberanian untuk percaya bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh pencapaian.

Rumah tidak pernah berubah. Ibu tetap sama.

Hanya saja, kita sering terlalu keras pada diri sendiri. @jeje

Tags: BukuGen Zhubungan keluargaibuKesehatan MentalPulangRefleksi Hiduptabooo

Kamu Melewatkan Ini

Inheritance Consequence: Satu Tetes Lebih Kuat dari Ledakan

Inheritance Consequence: Satu Tetes Lebih Kuat dari Ledakan

by dimas
Juli 3, 2026

Tabooo Merch Inheritance Consequence mengajak memahami bagaimana satu tindakan kecil dapat menciptakan konsekuensi yang melampaui generasi. Tabooo.id - Alam tidak...

Jejak yang Tertinggal: Ketika Generasi Kehilangan Akar Kehidupan

Jejak yang Tertinggal: Ketika Generasi Kehilangan Akar Kehidupan

by dimas
Juni 13, 2026

Generasi muda semakin jauh dari akar kehidupannya. Ketika hubungan antar generasi terputus, identitas, nilai hidup, dan warisan budaya perlahan ikut...

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

by dimas
Juni 8, 2026

Tapa bisu dalam tradisi Jawa ternyata memiliki kemiripan dengan mindfulness modern. Benarkah masyarakat Jawa telah mengenal latihan kesadaran sejak lama?...

Next Post
Yang Disebut Misi Damai Justru Paling Berbahaya: Di Balik Narasi UNIFIL

Yang Disebut Misi Damai Justru Paling Berbahaya: Di Balik Narasi UNIFIL

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id