Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pulang Itu Hangat, Tapi Kenapa Kita Takut?

by jeje
April 11, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Pulang seharusnya terasa hangat. Namun, seiring bertambahnya usia, maknanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang justru kita hindari.

Di awal perjalanan, semuanya terasa ringan. Kita melangkah dengan mimpi besar, lalu mulai mengejar satu per satu target. Setiap usaha terasa seperti bukti bahwa kita sedang menuju arah yang benar.

Akan tetapi, realita tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika harapan mulai runtuh, satu hal tiba-tiba terasa paling berat: pulang dan menatap ibu.

Ketika Gagal Menjadi Rasa Bersalah

Pada titik itu, kegagalan tidak lagi terasa biasa. Perlahan, ia berubah menjadi rasa bersalah yang sulit dijelaskan.

Tanpa disadari, muncul pertanyaan-pertanyaan kecil di dalam kepala. Apakah kita sudah cukup? Apakah kita sudah membuat ibu bangga?

Ini Belum Selesai

Saat Minimarket Tutup, 150 Orang Kehilangan Tempat Bertahan Hidup

Tubuhmu Sebenarnya Kuat atau Cuma Bertahan Karena Kafein?

Meski tidak pernah diucapkan, pertanyaan itu terus berulang. Bahkan, ia mulai membentuk cara kita menilai diri sendiri.

Buku Ada Duka di Bawah Telapak Kaki Ibu karya Khoirul Trian menangkap perasaan ini dengan jujur dan tenang. 

Rumah yang Tetap Sama, Kita yang Berubah

Sebenarnya, tidak ada yang berubah di rumah. Ibu tetap menunggu, dan kehangatan itu masih ada.

Namun demikian, yang berubah justru cara kita memandang diri sendiri.

Rasa tidak cukup perlahan muncul. Ada dorongan untuk membawa sesuatu saat pulang, seolah keberhasilan menjadi tiket agar kita layak kembali.

Padahal, ibu tidak pernah menetapkan syarat seperti itu.

Ironisnya, tekanan terbesar bukan datang dari luar. Sebaliknya, tekanan itu tumbuh dari dalam diri kita sendiri.

Cinta yang Kita Tafsirkan Berbeda

Sejak kecil, kita diajarkan untuk membahagiakan orang tua. Nilai ini terasa benar dan wajar.

Namun seiring waktu, maknanya bergeser. Kita mulai mengaitkan cinta dengan pencapaian. Kita merasa harus berhasil agar layak dicintai.

Akibatnya, ketika gagal, kita tidak hanya kecewa. Kita juga merasa kehilangan nilai diri.

Di sinilah letak masalahnya. Bukan pada cinta itu sendiri, melainkan pada cara kita memahaminya.

Takut yang Sebenarnya

Jika dipikir ulang, rasa takut itu bukan tentang kegagalan.

Yang membuat kita ragu adalah kemungkinan mengecewakan.

Selain itu, standar yang kita pegang sering tidak jelas. Tidak ada yang benar-benar mengatakannya, tetapi tekanan itu terasa nyata.

Karena itu, perjalanan pulang terasa semakin berat.

Refleksi: Kita Hidup untuk Siapa

Buku ini tidak memberikan jawaban pasti. Sebaliknya, ia mengajak pembaca berhenti sejenak dan berpikir.

Untuk siapa kita berjuang selama ini? Apakah kita benar-benar hidup untuk diri sendiri, atau hanya mengikuti ekspektasi yang kita serap tanpa sadar?

Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana. Namun, jawabannya sering kali tidak mudah.

Penutup: Berani Pulang

Pada akhirnya, pulang bukan soal jarak. Pulang adalah soal keberanian.

Keberanian untuk menerima diri sendiri, termasuk kegagalan yang pernah terjadi. Selain itu, dibutuhkan keberanian untuk percaya bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh pencapaian.

Rumah tidak pernah berubah. Ibu tetap sama.

Hanya saja, kita sering terlalu keras pada diri sendiri. @jeje

Tags: BukuGen Zhubungan keluargaibuKesehatan MentalPulangRefleksi Hiduptabooo

Kamu Melewatkan Ini

Tubuhmu Sebenarnya Kuat atau Cuma Bertahan Karena Kafein?

Tubuhmu Sebenarnya Kuat atau Cuma Bertahan Karena Kafein?

by teguh
Mei 26, 2026

Ada orang yang tidak bisa memulai pagi tanpa kopi. Ada juga yang merasa hidupnya “mati gaya” kalau belum menyeruput Americano...

Secangkir Kopi Tiap Hari: Ritual Produktif atau Alarm Tubuh yang Pelan-Pelan Menyala?

Secangkir Kopi Tiap Hari: Ritual Produktif atau Alarm Tubuh yang Pelan-Pelan Menyala?

by teguh
Mei 26, 2026

Buat sebagian orang, pagi tanpa kopi terasa seperti laptop tanpa baterai hidup, tapi sulit menyala. Secangkir kopi sudah berubah jadi...

01.30 WIB di Malioboro: Anak Muda Mencari Jeda di Kota yang Tidak Pernah Istirahat

01.30 WIB di Malioboro: Anak Muda Mencari Jeda di Kota yang Tidak Pernah Istirahat

by teguh
Mei 25, 2026

Pukul menunjukkan 01.30 WIB. Malioboro belum benar-benar tidur. Lampu jalan masih menyala hangat, memantulkan cahaya kekuningan ke trotoar yang mulai...

Next Post
Yang Disebut Misi Damai Justru Paling Berbahaya: Di Balik Narasi UNIFIL

Yang Disebut Misi Damai Justru Paling Berbahaya: Di Balik Narasi UNIFIL

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Februari 21, 2026

Mendagri Tegaskan Wakil Kepala Daerah Ikut Hadir di Rakornas 2026

Februari 2, 2026

MBG Bukan Makan Bergizi Gratis, Ini Versi “Mantap Banget Gila”

April 9, 2026

Ribuan Pemudik Padati Terminal Tirtonadi Solo, Lonjakan Penumpang Capai 50 Persen

Maret 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id