Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Yang Disebut Misi Damai Justru Paling Berbahaya: Di Balik Narasi UNIFIL

by dimas
April 11, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Tiga prajurit TNI gugur di Lebanon saat menjalankan misi yang dunia sebut sebagai penjaga perdamaian. Peristiwa ini langsung memunculkan pertanyaan keras seberapa aman sebenarnya misi yang Indonesia jalankan di zona konflik?

Pemerintah menegaskan sikapnya jelas. Indonesia tidak menarik pasukan dari UNIFIL, meski evaluasi keamanan terus berjalan.

Indonesia Tegaskan Sikap, Evaluasi Jalan

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan pemerintah tidak akan menarik pasukan TNI dari United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

“Tidak ada untuk ke situ (penarikan pasukan). Evaluasi tetap berjalan, evaluasi ke dalam dan keluar,” kata Teddy di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Pemerintah tetap memegang komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Teddy menyebut amanat itu mengacu pada Pembukaan UUD 1945.

Ini Belum Selesai

Kakek Mujiran, Getah Karet, dan Wajah Hukum yang Keras ke Bawah

Revisi UU Polri dan Bayang-Bayang Hegemoni Aparat

Ia juga menjelaskan bahwa Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Menteri Luar Negeri Sugiono terus mengawasi aspek keamanan prajurit di lapangan.

Kronologi Serangan di Lebanon

Serangan di Lebanon selatan menewaskan tiga prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL.

Serangan artileri pertama terjadi di dekat Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026. Dalam insiden itu, Praka Dua Farizal Rhomadhon kehilangan nyawanya.

Sehari setelahnya, serangan terhadap konvoi pasukan kembali terjadi. Dua prajurit, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan, gugur saat menjalankan pengawalan.

Selain itu, lima prajurit lain mengalami luka-luka dalam rangkaian serangan tersebut. Mereka termasuk Letnan Satu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana serta beberapa personel lainnya.

UNIFIL juga mencatat insiden lanjutan pada 3 April 2025 di El Addaiseh, yang melukai tiga prajurit Indonesia akibat ledakan.

Ketika Misi Damai Bertemu Realitas Perang

Jika dilihat secara permukaan, peristiwa ini berdiri sebagai bagian dari risiko operasi di wilayah konflik.

Namun jika ditarik lebih dalam, pola yang muncul jauh lebih kompleks. Pasukan perdamaian justru bergerak di ruang yang tidak benar-benar damai.

UNIFIL menempatkan prajurit di tengah dua kekuatan yang terus berkonflik. Di titik itu, status “netral” tidak selalu melindungi dari bahaya.

Dampak ke Prajurit dan Publik

Ini dampaknya buat kamu negara mengirim prajurit untuk menjaga perdamaian, tapi keluarga mereka tetap hidup dengan ketegangan yang sama setiap hari.

Indonesia ingin memperkuat posisi di panggung global melalui misi perdamaian. Namun di sisi lain, risiko di lapangan tetap nyata dan terus meningkat.

Pertanyaan penting pun muncul sampai batas mana sebuah negara siap menanggung risiko demi peran globalnya?

Analisis Tabooo

Pemerintah memilih tetap mempertahankan pasukan di UNIFIL sambil memperketat evaluasi keamanan.

Langkah ini menunjukkan konsistensi diplomatik, tetapi juga membuka ruang diskusi yang lebih dalam.

Apakah misi perdamaian global benar-benar berdiri di atas prinsip netralitas, atau justru ikut terseret dalam struktur konflik yang lebih besar?

Satu hal yang sering terlupakan: perang tidak selalu menolak kehadiran “penjaga perdamaian”, tetapi juga tidak selalu memberi mereka perlindungan.

Closing

Dunia tidak pernah benar-benar memberi ruang aman di tengah konflik.

Pertanyaannya kini bukan hanya soal bertahan atau mundur, tetapi berapa banyak nyawa yang masih bisa dianggap harga wajar atas nama perdamaian? @dimas

Tags: israel lebanonKonflik DuniaLebanonMisi PerdamaianSekretaris KabinetTeddy Indra WijayaTimur TengahTNI

Kamu Melewatkan Ini

Kodam Jaya Ikut Buru Begal: Jakarta Sedang Tidak Baik-Baik Saja?

Kodam Jaya Ikut Buru Begal: Jakarta Sedang Tidak Baik-Baik Saja?

by teguh
Mei 25, 2026

Kalau tentara mulai patroli jalanan, pertanyaannya bukan lagi siapa takut begal. Pertanyaannya berubah seberapa genting kondisi Jakarta sekarang? Tabooo.id: Kodam...

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

by jeje
Mei 24, 2026

Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat...

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

by dimas
Mei 24, 2026

AS dan Iran menunjukkan sinyal damai baru. Namun di balik negosiasi dan pembukaan Selat Hormuz, dunia masih mencium ancaman konflik...

Next Post
Islamabad Jadi Titik Api Diplomasi: Damai atau Sekadar Taktik Tekanan?

Islamabad Jadi Titik Api Diplomasi: Damai atau Sekadar Taktik Tekanan?

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Februari 21, 2026

Mendagri Tegaskan Wakil Kepala Daerah Ikut Hadir di Rakornas 2026

Februari 2, 2026

MBG Bukan Makan Bergizi Gratis, Ini Versi “Mantap Banget Gila”

April 9, 2026

Ribuan Pemudik Padati Terminal Tirtonadi Solo, Lonjakan Penumpang Capai 50 Persen

Maret 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id