Sabtu, April 11, 2026
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Derbi Belum Sembuh: Kanjuruhan, Trauma, dan Sepak Bola yang Masih Berduka

April 9, 2026
in Deep
A A
Derbi Belum Sembuh: Kanjuruhan, Trauma, dan Sepak Bola yang Masih Berduka

Tragedi Kanjuruhan bukan sekadar angka korban. Peristiwa itu meninggalkan trauma kolektif. (Ilustrasi: Tabooo)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Malam di Malang itu belum benar-benar pergi. Lampu stadion kembali menyala. Rumput tumbuh lagi. Tapi ingatan tentang teriakan, sesak napas, dan langkah panik menuju pintu keluar masih menghantui banyak kepala.

Dan sekarang, derbi itu datang lagi. Arema FC vs Persebaya. 28 April 2026. Stadion Kanjuruhan Malang.

Pertanyaannya sederhana, tapi berat kita benar-benar siap menonton lagi di tempat yang sama dengan luka yang belum selesai?

Sepak Bola yang Menyisakan Duka Kolektif

Tragedi Kanjuruhan bukan sekadar angka korban. Peristiwa itu meninggalkan trauma kolektif tak terlihat, tapi terasa di setiap obrolan tentang sepak bola di Jawa Timur.

Sebagian orang tak lagi melihat stadion sebagai tempat bersorak. Mereka mengingatnya sebagai tempat terakhir bertemu orang yang mereka sayang.

BacaJuga

OTT Kepala Daerah Lagi, Kapan RUU Perampasan Aset Disahkan?

Indonesia Aman Saat PD III atau Ini Sekadar Narasi yang Kita Percaya?

Di tengah situasi itu, negara mencoba hadir lewat suara aparat. Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, langsung menyasar inti persoalan emosi suporter.

“Saya tekankan kepada seluruh suporter agar menjunjung tinggi sportivitas dan tidak membawa rivalitas di luar lapangan,” ujar Nanang usai audiensi Aremania dan Bonek di Mapolda Jatim, Rabu (08/04/2026). Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi konteksnya jauh lebih dalam.

Di Jawa Timur, rivalitas tak selalu berhenti di tribun. Ia pernah meluas ke jalanan dan meninggalkan luka yang nyata.

Euforia Tinggi, Risiko Nyata

Sepak bola selalu membawa dua sisi euforia dan eskalasi.

Nanang memahami betul besarnya antusiasme publik. Derbi ini akan menarik ribuan suporter, memompa emosi, dan memicu adrenalin. Di titik itu, garis antara cinta dan chaos jadi sangat tipis.

“Tingginya antusiasme masyarakat terhadap sepak bola harus diimbangi dengan penyelenggaraan yang profesional supaya turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” lanjutnya.

Sepak bola memang menggerakkan ekonomi. Pedagang hidup. Kota berdenyut. Uang berputar. Tapi ada pertanyaan yang sering luput berapa harga yang harus kita bayar untuk satu pertandingan?

Suporter Bicara: Dari Rival ke Rekan?

Perubahan justru muncul dari bawah. Rafika, perwakilan Bonek, menyampaikan komitmen yang terdengar sederhana tapi penuh makna “Kami sepakat tidak ada lagi rivalitas di luar lapangan.”

Kalimat itu bukan sekadar janji. Ia mengakui bahwa batas itu pernah dilanggar. Di sisi lain, Gozali dari Aremania berbicara lebih personal tentang luka dan upaya bangkit.

“Aremania ingin bangkit dari trauma. Kami berkomitmen menjaga kondusivitas dan siap mengawal perjalanan tim Persebaya menuju Malang.”

Bangkit dari trauma bukan urusan sepak bola semata. Itu urusan manusia. Artinya jelas yang retak bukan hanya sistem keamanan, tapi juga rasa aman itu sendiri.

Keamanan Humanis: Cukup atau Sekadar Harapan?

Aparat menjanjikan pendekatan baru lebih humanis dan preventif.

“Kita semua berharap setiap pertandingan sepak bola di Jawa Timur ke depan dapat berjalan dengan suportif dan aman,” kata Nanang.

Namun, keamanan tidak hanya bergantung pada strategi. Ia bergantung pada kepercayaan.

Dan kepercayaan tidak lahir dari satu rapat atau satu pertandingan. Ia tumbuh dari konsistensi, dari transparansi, dan dari keberanian mengakui kesalahan.

Kanjuruhan: Luka yang Belum Selesai

Sepak bola seharusnya sederhana 90 menit, satu bola, dua tim, dan ribuan harapan. Tapi Kanjuruhan mengubah semuanya.

Peristiwa itu mengingatkan kita bahwa sistem bisa gagal. Euforia bisa berubah jadi tragedi. Dan manusia bisa kalah, bahkan sebelum pertandingan selesai.

Kini, saat derbi kembali hadir di tempat yang sama, kita tidak sekadar menonton laga.

Kita sedang menguji diri sendiri kita sudah belajar, atau kita hanya mencoba lupa? Karena skor bisa diulang. Rivalitas bisa diperbarui.

Tapi nyawa yang hilang dan trauma yang tertinggal tidak pernah mendapat kesempatan kedua.

Lalu, saat peluit nanti berbunyi yang kita rayakan benar-benar kemenangan atau sekadar keberanian untuk terlihat baik-baik saja?. @teguh

Tags: AmanAremaniaBonekDerbi JatimEkonomiEmosiJawa TimurKanjuruhanKapoldakorbanMalangMapolda JatimnyawaPeristiwaRivalitasSepak BolaStadionSuporterTragediTrauma

REKOMENDASI TABOOO

Ketika HP Jadi Pelarian, Siapa yang Benar-Benar Kita Hindari?

Ketika HP Jadi Pelarian, Siapa yang Benar-Benar Kita Hindari?

by teguh
April 11, 2026

Tabooo.id: Life - Pernah merasa lelah, tapi tetap buka HP? Kamu tidak sekadar mencari hiburan kamu sedang mencari jeda. Namun,...

Indonesia Negara Termiskin Kedua? Atau Kita yang Salah Paham Data?

Indonesia Negara Termiskin Kedua? Atau Kita yang Salah Paham Data?

by dimas
April 11, 2026

Tabooo.id: Check - Angka sering terlihat meyakinkan. Terlebih lagi saat infografis rapi menyertakan nama lembaga dunia. Namun, di balik itu,...

Kepala SMK Ubah Sekolah Jadi Arena Oplosan Gas, Sistem Mana yang Bocor?

Kepala SMK Ubah Sekolah Jadi Arena Oplosan Gas, Sistem Mana yang Bocor?

by dimas
April 11, 2026

Tabooo.id: Regional - Kepala SMK Jadikan Sekolah Arena Oplosan Gas, Di Mana Sistem Mengawasi? Kasus dugaan pengoplosan elpiji subsidi 3...

Next Post
Damai Versi Timur Tengah: Teken Dulu, Serang Lagi Besok

Damai Versi Timur Tengah: Teken Dulu, Serang Lagi Besok

Recommended

Iran Tolak Gencatan Senjata: Ini Soal Damai atau Permainan Narasi Kekuatan?

Iran Tolak Gencatan Senjata: Ini Soal Damai atau Permainan Narasi Kekuatan?

April 7, 2026
“Songko”: Ketika Ketakutan Lama Kembali Hidup

“Songko”: Ketika Ketakutan Lama Kembali Hidup

April 8, 2026

Popular

Materialisme Tan Malaka: Realita Itu Nyata, Tapi Apa Kamu Siap Menerima? – Madilog Series #1

Materialisme Tan Malaka: Realita Itu Nyata, Tapi Apa Kamu Siap Menerima? – Madilog Series #1

April 10, 2026

Siapa Ibu Sebenarnya? Teror Psikologis di Balik Legenda Malin Kundang

April 2, 2026

Polling: Buku Apa Lagi yang Perlu Dibongkar?

April 11, 2026

Makam Tan Malaka: Ingatan yang Sengaja Disembunyikan?

April 10, 2026

Bupati Tulungagung Kena OTT, Publik Kembali Kehilangan Kepercayaan

April 11, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2026 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.