Tabooo.id: Regional – Air datang tanpa aba-aba. Dalam waktu singkat, rumah yang berdiri puluhan tahun langsung hilang.
Akibatnya, warga Dukuh Solondoko tidak hanya menghadapi banjir, tetapi juga kehilangan tempat hidup.
Kronologi Kejadian
Banjir bandang menerjang Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, setelah tanggul Sungai Tuntang jebol pada Jumat (3/4/2026). Sejak itu, air langsung masuk ke permukiman warga.
Total 28 rumah mengalami kerusakan. Bahkan, arus deras menyeret 12 rumah hingga hilang.
Saat meninjau lokasi pada Senin (6/4/2026), Bupati Demak Eisti’anah memaparkan data terbaru.
“12 rumah hilang, hanyut, kemudian 7 rusak berat, dan 9 ringan,” ujarnya.
Selain itu, ia memastikan pemerintah daerah langsung bergerak.
“Kami akan segera menindaklanjuti, insyaallah kemarin sudah dapat bantuan dari Bapak Gubernur,” tambahnya.
Bantuan Dijanjikan, Warga Menunggu
Pemerintah Kabupaten Demak menyiapkan bantuan berdasarkan tingkat kerusakan. Oleh karena itu, setiap warga akan menerima penanganan berbeda.
“Rumah hanyut, rusak berat dan ringan, kita akan memberikan stimulan. Kalau bisa membantu sampai berdiri, alhamdulillah,” kata Eisti’anah.
Saat ini, pemerintah tengah merumuskan skema bantuan. Bahkan, mereka menargetkan penyaluran bantuan berlangsung pekan ini.
Namun di sisi lain, warga tidak bisa menunggu terlalu lama.
Suara dari Lapangan
Siti Mualimah, warga setempat, menceritakan langsung detik-detik kejadian.
“Tanggulnya jebol, air tidak bisa ditahan, rumah kurang lebih 15,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan kondisi rumah warga.
“Hancur yang hilang kurang lebih empat, kalau masih ada atapnya ya masih ada beberapa,” katanya.
Dari cerita itu, terlihat jelas bahwa angka bukan sekadar data. Di baliknya, ada kehidupan yang runtuh.
Ini Bukan Kejadian Baru
Namun, kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Sebaliknya, pola yang sama terus berulang.
Tanggul jebol, air meluap, rumah rusak, lalu bantuan datang. Setelah itu, semua perlahan dilupakan.
Pertanyaannya, sampai kapan siklus ini terus berjalan?
Ini bukan sekadar bencana alam. Justru, ini menunjukkan masalah yang belum selesai.
Dampaknya Buat Kita
Memang, kejadian ini terjadi di Demak. Namun, dampaknya bisa terasa lebih luas.
Jika sistem pencegahan lemah, maka wilayah lain berpotensi mengalami hal yang sama.
Artinya, risiko ini tidak berdiri sendiri.
Hari ini Solondoko. Besok bisa daerah lain.
Analisis Ringan
Pemerintah sudah bergerak cepat setelah kejadian. Namun, langkah pencegahan seharusnya berjalan lebih dulu.
Selama ini, penanganan sering muncul setelah bencana datang. Padahal, mitigasi seharusnya menjadi prioritas.
Jika pola ini terus dibiarkan, maka kerugian akan terus berulang.
Bantuan memang penting. Tetapi, pencegahan jauh lebih menentukan.
Penutup
Warga bisa membangun kembali rumah mereka. Namun, rasa aman tidak mudah kembali.
Selama tanggul hanya diperbaiki setelah jebol, risiko akan selalu ada.
Jadi, ini bukan sekadar soal banjir. Ini soal apakah kita benar-benar belajar, atau hanya menunggu kejadian berikutnya. @dimas



