Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Demak Terendam Lagi: Kenapa Cerita Ini Tidak Pernah Selesai?

by dimas
April 6, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Air datang tanpa aba-aba. Dalam waktu singkat, rumah yang berdiri puluhan tahun langsung hilang.
Akibatnya, warga Dukuh Solondoko tidak hanya menghadapi banjir, tetapi juga kehilangan tempat hidup.

Kronologi Kejadian

Banjir bandang menerjang Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, setelah tanggul Sungai Tuntang jebol pada Jumat (3/4/2026). Sejak itu, air langsung masuk ke permukiman warga.

Total 28 rumah mengalami kerusakan. Bahkan, arus deras menyeret 12 rumah hingga hilang.

Saat meninjau lokasi pada Senin (6/4/2026), Bupati Demak Eisti’anah memaparkan data terbaru.

“12 rumah hilang, hanyut, kemudian 7 rusak berat, dan 9 ringan,” ujarnya.

Ini Belum Selesai

Jogja Financial Festival Dibuka: Literasi Keuangan atau Bahaya Utang Digital?

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Selain itu, ia memastikan pemerintah daerah langsung bergerak.

“Kami akan segera menindaklanjuti, insyaallah kemarin sudah dapat bantuan dari Bapak Gubernur,” tambahnya.

Bantuan Dijanjikan, Warga Menunggu

Pemerintah Kabupaten Demak menyiapkan bantuan berdasarkan tingkat kerusakan. Oleh karena itu, setiap warga akan menerima penanganan berbeda.

“Rumah hanyut, rusak berat dan ringan, kita akan memberikan stimulan. Kalau bisa membantu sampai berdiri, alhamdulillah,” kata Eisti’anah.

Saat ini, pemerintah tengah merumuskan skema bantuan. Bahkan, mereka menargetkan penyaluran bantuan berlangsung pekan ini.

Namun di sisi lain, warga tidak bisa menunggu terlalu lama.

Suara dari Lapangan

Siti Mualimah, warga setempat, menceritakan langsung detik-detik kejadian.

“Tanggulnya jebol, air tidak bisa ditahan, rumah kurang lebih 15,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kondisi rumah warga.

“Hancur yang hilang kurang lebih empat, kalau masih ada atapnya ya masih ada beberapa,” katanya.

Dari cerita itu, terlihat jelas bahwa angka bukan sekadar data. Di baliknya, ada kehidupan yang runtuh.

Ini Bukan Kejadian Baru

Namun, kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Sebaliknya, pola yang sama terus berulang.

Tanggul jebol, air meluap, rumah rusak, lalu bantuan datang. Setelah itu, semua perlahan dilupakan.

Pertanyaannya, sampai kapan siklus ini terus berjalan?

Ini bukan sekadar bencana alam. Justru, ini menunjukkan masalah yang belum selesai.

Dampaknya Buat Kita

Memang, kejadian ini terjadi di Demak. Namun, dampaknya bisa terasa lebih luas.

Jika sistem pencegahan lemah, maka wilayah lain berpotensi mengalami hal yang sama.
Artinya, risiko ini tidak berdiri sendiri.

Hari ini Solondoko. Besok bisa daerah lain.

Analisis Ringan

Pemerintah sudah bergerak cepat setelah kejadian. Namun, langkah pencegahan seharusnya berjalan lebih dulu.

Selama ini, penanganan sering muncul setelah bencana datang. Padahal, mitigasi seharusnya menjadi prioritas.

Jika pola ini terus dibiarkan, maka kerugian akan terus berulang.

Bantuan memang penting. Tetapi, pencegahan jauh lebih menentukan.

Penutup

Warga bisa membangun kembali rumah mereka. Namun, rasa aman tidak mudah kembali.

Selama tanggul hanya diperbaiki setelah jebol, risiko akan selalu ada.

Jadi, ini bukan sekadar soal banjir. Ini soal apakah kita benar-benar belajar, atau hanya menunggu kejadian berikutnya. @dimas

Tags: banjirBanjir BandangbencanademakJawa Tengah

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

Kenapa Kota di Indonesia Makin Gampang Tenggelam?

by Waras
Mei 11, 2026

Dulu banjir datang setahun sekali. Sekarang, banyak kota di Indonesia terasa seperti tinggal menunggu giliran tenggelam. Hujan memang makin ekstrem....

Becak Tidak Mati. Mereka Hanya Disembunyikan.

Becak Tidak Mati: Mereka Hanya Disembunyikan

by jeje
Mei 6, 2026

Pagi belum benar-benar terang ketika Slamet mengayuh becaknya pelan di sudut kota. Roda tuanya berderit kecil. Tangannya kasar. Punggungnya sedikit...

Bukan Skill, Tapi Kepatuhan: Cara Baru Sistem Memilih Manusia

Bukan Skill, Tapi Kepatuhan: Cara Baru Sistem Memilih Manusia

by jeje
Mei 1, 2026

Kita selalu percaya pengalaman adalah kunci. Tapi di sini, tidak ada yang bertanya kamu sudah sejauh apa belajar. Sistem hanya...

Next Post
Panik atau Siap? Dampak Selat Hormuz bagi Ekonomi Indonesia

Iran Tak Sekadar Bertahan: Hormuz Kini Jadi Alat Tekan Global

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Perlawanan Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

Mei 21, 2026

Pemkab Lombok Tengah Tutup 25 Minimarket: Menjaga Pasar, Mengorbankan Pekerja?

Mei 22, 2026

KUHAP 2025 Tegaskan Peran Sah PPNS dalam Sistem Peradilan Pidana

Februari 4, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id