Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tanggul Jebol, Demak Tenggelam: Bencana Alam atau Kelalaian?

by dimas
April 5, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Banjir besar menerjang Kabupaten Demak pada Jumat (3/4/2026) pagi. Air bergerak cepat dan langsung merendam permukiman warga hingga memaksa ratusan orang meninggalkan rumah. Hingga kini satu orang masih dilaporkan hilang, sementara proses evakuasi terus berlangsung.

Hujan deras di wilayah hulu memicu lonjakan debit air secara drastis. Tekanan air yang terus meningkat akhirnya merobek tanggul di Dukuh Solowere dan Dukuh Selodoko. Dalam hitungan menit, luapan air menyebar dan menggenangi kawasan permukiman.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Abdul Muhari, menjelaskan penyebab utama kejadian ini.

“Banjir dipicu hujan berintensitas tinggi di wilayah hulu yang menyebabkan peningkatan debit air hingga mengakibatkan tanggul di Dukuh Solowere dan Dukuh Selodoko jebol. Air kemudian meluap dan merendam permukiman warga,” ujarnya.

Air Meluas, Warga Kehilangan Ruang Aman

Genangan tidak membutuhkan waktu lama untuk meluas. Air akhirnya menjangkau empat kecamatan dan delapan desa. Wilayah terdampak berada di Kecamatan Guntur, Karangtengah, Wonosalam, hingga Kebonagung.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Rincian wilayah terdampak juga disampaikan Abdul Muhari.

“Empat kecamatan terdampak dengan total delapan desa. Di Kecamatan Guntur meliputi Desa Trimulyo, Sidoharjo, Turirejo, dan Sumberejo. Kecamatan Karangtengah mencakup Desa Ploso. Kecamatan Wonosalam meliputi Desa Lempuyang, sedangkan Kecamatan Kebonagung mencakup Desa Solowire dan Desa Sarimulyo,” jelasnya.

Secara keseluruhan, banjir mempengaruhi 1.070 kepala keluarga atau sekitar 4.280 jiwa. Dari jumlah tersebut, 583 warga terpaksa mengungsi ke berbagai titik darurat seperti masjid, mushola, balai desa, hingga kantor kecamatan.

Di lokasi pengungsian, petugas segera membuka layanan kesehatan. Tim medis langsung menangani warga yang kelelahan serta mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan.

Kerusakan Meluas, Ekonomi Ikut Terhenti

Dampak banjir tidak hanya memaksa warga meninggalkan rumah. Infrastruktur permukiman juga ikut terpukul. Sebanyak 1.230 rumah terdampak, sementara empat unit mengalami kerusakan berat.

Kerusakan kemudian merambat ke fasilitas umum dan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Sepuluh fasilitas pendidikan dan lima belas tempat ibadah turut terdampak. Selain itu, sekitar 194 hektare lahan sawah juga terendam,” kata Abdul Muhari.

Bagi petani dan pekerja harian, kondisi ini langsung menghentikan sumber penghasilan. Aktivitas ekonomi berhenti seketika, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan.

Alam Memicu, Manusia Memperparah

Curah hujan tinggi memang menjadi pemicu awal. Namun jebolnya tanggul juga menunjukkan adanya kerentanan infrastruktur yang belum sepenuhnya teratasi.

Kapasitas sungai yang menurun mempercepat limpasan air. Pada saat yang sama, kesiapan tanggul dan sistem pengendalian banjir belum cukup kuat menahan tekanan ekstrem.

Kombinasi faktor alam dan kelemahan infrastruktur ini menunjukkan bahwa bencana tidak selalu murni datang dari alam. Dalam banyak kasus, kelalaian manusia ikut memperbesar dampaknya.

Penanganan Berpacu dengan Risiko Baru

Sejak awal kejadian, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah bersama berbagai instansi langsung turun ke lapangan. Petugas mengevakuasi warga, menyalurkan bantuan, dan memperkuat tanggul darurat menggunakan karung pasir.

Pencarian terhadap warga yang hilang masih terus berlangsung. Posko utama kini beroperasi di Desa Bumiharjo sebagai pusat koordinasi penanganan bencana.

Di tengah situasi tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengingatkan potensi banjir susulan masih cukup tinggi. Debit air belum stabil dan kondisi tanggul tetap rentan.

Berbagai kebutuhan mendesak juga terus dipenuhi, mulai dari logistik, air bersih, obat-obatan, hingga perlengkapan bayi bagi pengungsi.

Air memang belum sepenuhnya surut. Ancaman pun belum benar-benar pergi. Pada akhirnya, banjir ini bukan hanya tentang hujan yang turun deras melainkan juga tentang seberapa sering manusia mengabaikan peringatan yang sebenarnya sudah datang lebih dulu. @dimas

Tags: banjirBanjir BandangBencana AlamdemakInfrastrukturJawa TengahKrisis GlobalLingkungansiagaTerdampak

Kamu Melewatkan Ini

Tsunami Filipina Tiba di Kaltim: Gelombang Kecil, Ancaman Besar.

Tsunami Filipina Tiba di Kaltim: Gelombang Kecil, Ancaman Besar

by dimas
Juni 8, 2026

Tsunami akibat gempa M 7,7 di Filipina mencapai pesisir Kalimantan Timur. Meski hanya 20-30 sentimeter, BMKG mengingatkan ancamannya tidak boleh...

Dua Musuh, Satu Kepentingan

Dua Musuh, Satu Kepentingan

by dimas
Juni 7, 2026

Di balik ancaman dan negosiasi yang tak berujung, AS dan Iran ternyata terjebak dalam kepentingan yang sama: sama-sama membutuhkan lawannya...

Rp 3 Triliun untuk Sampah: Solusi Energi Masa Depan atau Proyek Ambisius Baru?

Rp 3 Triliun untuk Sampah: Solusi Energi Masa Depan atau Proyek Ambisius Baru?

by teguh
Juni 2, 2026

Gunungan sampah yang terus membesar akhirnya mendorong pemerintah mengambil langkah besar. Pemerintah pusat kini menyiapkan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi...

Next Post
Rel yang Hilang di Bawah Waduk: Jejak Kereta yang Masih Hidup di Ingatan Wonogiri

Rel yang Hilang di Bawah Waduk: Jejak Kereta yang Masih Hidup di Ingatan Wonogiri

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id