Tabooo.id: Deep – Kabut Lawu turun perlahan, menutupi teras-teras batu yang menjulang seperti tangga menuju langit. Di sela hawa dingin dan bau dupa, ada sesuatu yang tidak utuh, yaitu sejarah yang direkatkan dengan semen ideologi.
Candi Cetho, berdiri di ketinggian 1.400 meter di atas Karanganyar, tampak abadi di mata wisatawan. Tapi di mata para arkeolog, situs ini menyimpan luka, luka karena terlalu sering “disembuhkan” dengan tangan kekuasaan.
Ketika Sejarah Jadi Proyek Pemolesan
Akhir 1970-an. Pemerintah Orde Baru menggencarkan proyek pemugaran situs-situs budaya. Salah satunya, Candi Cetho. Dipimpin oleh Humardani, asisten pribadi Presiden Soeharto, proyek ini mengubah reruntuhan punden berundak kuno menjadi kompleks megah bergaya Bali. Kompleks yang lengkap dengan gapura candi bentar, pendopo kayu, dan patung figur mitos seperti Sabdapalon, Nayagenggong, dan Brawijaya V.
Masalahnya, sebagian besar elemen itu tidak memiliki dasar arkeologis. Ekskavasi awal yang dilakukan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1928 mencatat bentuk asli Cetho hanyalah susunan empat belas teras batu tanpa gapura besar (ResearchGate, Sukuh and Cetho Temples: A Comparative Study of History, Architect and Culture).
Kini, hanya tiga belas teras yang tersisa, sembilan di antaranya hasil rekonstruksi modern.
“Cetho yang kita lihat hari ini bukan lagi Cetho abad ke-15,” ujar seorang peneliti arkeologi UNS dalam jurnal Criksetra (2023). “Ia sudah menjadi panggung ideologi antara kejawen, Hindu Bali, dan nasionalisme yang ingin terlihat serasi,” imbuhnya.
Candi yang dulu berdiri di masa krisis politik Majapahit akhir, berubah menjadi monumen kompromi, antara keaslian sejarah dan keindahan yang dipoles.
Jejak Majapahit yang Disamarkan
Berdasarkan candrasengkala memet bertahun 1378 Saka (1456 M), Cetho dibangun pada masa keruntuhan Majapahit (E-Journal Unesa, 2018). Kala itu, kerajaan di pesisir Jawa sudah banyak dipengaruhi Islam, sementara kelompok Hindu memilih berlindung di pegunungan Lawu.
Bentuk punden berundak yang digunakan bukan kemunduran, melainkan kebangkitan arsitektur asli Nusantara. Para ahli menyebutnya sebagai “Neo-Jawa Kuna”, upaya sadar untuk menolak formalisme agama-agama impor dan kembali ke akar spiritual lokal.
Ironisnya, konsep ini justru hilang setelah pemugaran. Struktur yang menandai “perlawanan budaya” kini ditutupi estetika pura Bali. Sejarah yang dulu menolak kolonialisme kultural malah dikemas ulang agar cocok dengan narasi nasional “Bhineka tapi seragam.”
Antara Sembahyang dan Selfie
Hari ini, Cetho punya dua fungsi, tempat ibadah dan destinasi wisata. Upacara Hindu-Kejawen masih rutin dilakukan, terutama saat Wuku Sinta dan perayaan Waisak. Tapi di antara dupa dan canang sari, suara kamera ponsel sering lebih nyaring daripada mantra.
Menurut data Dinas Pariwisata Karanganyar (2024), kunjungan ke Candi Cetho melonjak hingga 350 ribu wisatawan per tahun. Sayangnya, pengelolaan lebih fokus pada penjualan tiket ketimbang pelestarian. Penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta (2021) bahkan mencatat praktik re-ticketing di beberapa pintu masuk serta kurangnya pembatasan area sakral.
“Cetho itu pura hidup, bukan museum,” kata Ni Luh Sri, pemangku pura setempat. “Tapi sekarang banyak yang datang hanya untuk konten, bukan sembahyang,” ucapnya.
Ketika spiritualitas dijual sebagai paket wisata, kesakralan berubah jadi atraksi. Situs penyucian berubah menjadi latar selfie yang “estetis tapi hampa”.
Krisis Keaslian yang Tak Pernah Usai
Laporan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, 2022 menyebut ada disformasi batu dan kehilangan komponen dinding utara yang kemudian diganti dengan batu andesit baru. Upaya rehabilitasi ini memang penting secara struktural, tapi juga mempertegas satu hal, Candi Cetho kini adalah campuran antara asli dan interpretasi.
Arkeolog muda menyebutnya “Situs Frankenstein”, tubuh Majapahit yang dihidupkan kembali dengan organ abad 20.
Cetho hidup, tapi kehilangan ingatan.
Kita menyebutnya “pelestarian”. Padahal sering kali itu berarti menulis ulang sejarah sesuai selera estetika penguasa.
Panji, Brawijaya, dan Ingatan yang Tumpang Tindih
Salah satu misteri yang memicu debat adalah arca setinggi 99 cm di teras kelima. Peneliti Dewi Puspita Sari (ResearchGate, 2018) mengusulkan bahwa arca ini menggambarkan Panji, pahlawan lokal dari kisah klasik Jawa Timur. Jika benar, ini menandai pergeseran kultus Majapahit akhir. Dari dewa-dewi India ke tokoh manusia yang diidealkan.
Namun setelah pemugaran, figur Panji justru tenggelam di antara patung-patung baru Sabdapalon dan Brawijaya V. Narasi rakyat digantikan oleh mitos politik tentang “kembalinya Jawa.”
Cetho akhirnya punya dua wajah: satu ilmiah, satu mistik; satu sejarah, satu legenda. Dan keduanya dibiarkan berjalan berdampingan, karena mungkin kita memang lebih nyaman dengan mitos yang indah daripada fakta yang berantakan.
Menjaga dari Apa, dan untuk Siapa?
Para arkeolog merekomendasikan audit historis: memverifikasi bagian mana yang benar-benar berasal dari abad ke-15 dan mana yang tambahan modern. Mereka menyarankan pemindahan elemen paling “mengganggu narasi”, seperti patung modern, ke area museum situs (Criksetra, 2023).
Tapi langkah itu sulit dilakukan.
Bagi warga Hindu dan Kejawen, struktur baru sudah menjadi bagian dari identitas spiritual.
Bagi pemerintah daerah, wisatawan berarti ekonomi.
Bagi akademisi, Cetho adalah kasus rumit antara konservasi dan keimanan.
Lalu, siapa yang sebenarnya kita jaga?
Cagar budayanya, pendapatannya, atau kepercayaannya?
Kejujuran Lebih Langka dari Batu Tua
Candi Cetho bukan sekadar monumen di lereng Lawu, ia adalah cermin bagaimana bangsa ini memperlakukan kebenaran. Kita bangun ulang masa lalu, tapi sering tanpa keberanian menatap apa adanya.
Mungkin benar kata seorang sesepuh desa Gumeng saat ditanya tentang pemugaran, “Kalau semua batu harus asli, nanti yang sembahyang sembah siapa?”
Di antara kabut, mungkin sejarah Cetho masih berbisik, “Aku tak butuh disempurnakan, hanya diingat dengan jujur.”
Pertanyaannya, Apakah kita masih sanggup mencintai sejarah yang tidak sempurna atau kita hanya mencintai versinya yang sudah dipoles? @tabooo




