Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Candi Cetho: Ketika Sejarah Dipoles, Kebenaran Jadi Kabur

by Tabooo
Oktober 26, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Kabut Lawu turun perlahan, menutupi teras-teras batu yang menjulang seperti tangga menuju langit. Di sela hawa dingin dan bau dupa, ada sesuatu yang tidak utuh, yaitu sejarah yang direkatkan dengan semen ideologi.

Candi Cetho, berdiri di ketinggian 1.400 meter di atas Karanganyar, tampak abadi di mata wisatawan. Tapi di mata para arkeolog, situs ini menyimpan luka, luka karena terlalu sering “disembuhkan” dengan tangan kekuasaan.

Ketika Sejarah Jadi Proyek Pemolesan

Akhir 1970-an. Pemerintah Orde Baru menggencarkan proyek pemugaran situs-situs budaya. Salah satunya, Candi Cetho. Dipimpin oleh Humardani, asisten pribadi Presiden Soeharto, proyek ini mengubah reruntuhan punden berundak kuno menjadi kompleks megah bergaya Bali. Kompleks yang lengkap dengan gapura candi bentar, pendopo kayu, dan patung figur mitos seperti Sabdapalon, Nayagenggong, dan Brawijaya V.

Masalahnya, sebagian besar elemen itu tidak memiliki dasar arkeologis. Ekskavasi awal yang dilakukan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1928 mencatat bentuk asli Cetho hanyalah susunan empat belas teras batu tanpa gapura besar (ResearchGate, Sukuh and Cetho Temples: A Comparative Study of History, Architect and Culture).

Kini, hanya tiga belas teras yang tersisa, sembilan di antaranya hasil rekonstruksi modern.

Ini Belum Selesai

Di Balik ‘Shadow Organization’ Chromebook Nadim Makarim

Adrenalin: Mesin Kreativitas di Era Tekanan

“Cetho yang kita lihat hari ini bukan lagi Cetho abad ke-15,” ujar seorang peneliti arkeologi UNS dalam jurnal Criksetra (2023). “Ia sudah menjadi panggung ideologi antara kejawen, Hindu Bali, dan nasionalisme yang ingin terlihat serasi,” imbuhnya.

Candi yang dulu berdiri di masa krisis politik Majapahit akhir, berubah menjadi monumen kompromi, antara keaslian sejarah dan keindahan yang dipoles.

Jejak Majapahit yang Disamarkan

Berdasarkan candrasengkala memet bertahun 1378 Saka (1456 M), Cetho dibangun pada masa keruntuhan Majapahit (E-Journal Unesa, 2018). Kala itu, kerajaan di pesisir Jawa sudah banyak dipengaruhi Islam, sementara kelompok Hindu memilih berlindung di pegunungan Lawu.

Bentuk punden berundak yang digunakan bukan kemunduran, melainkan kebangkitan arsitektur asli Nusantara. Para ahli menyebutnya sebagai “Neo-Jawa Kuna”, upaya sadar untuk menolak formalisme agama-agama impor dan kembali ke akar spiritual lokal.

Ironisnya, konsep ini justru hilang setelah pemugaran. Struktur yang menandai “perlawanan budaya” kini ditutupi estetika pura Bali. Sejarah yang dulu menolak kolonialisme kultural malah dikemas ulang agar cocok dengan narasi nasional “Bhineka tapi seragam.”

Antara Sembahyang dan Selfie

Hari ini, Cetho punya dua fungsi, tempat ibadah dan destinasi wisata. Upacara Hindu-Kejawen masih rutin dilakukan, terutama saat Wuku Sinta dan perayaan Waisak. Tapi di antara dupa dan canang sari, suara kamera ponsel sering lebih nyaring daripada mantra.

Menurut data Dinas Pariwisata Karanganyar (2024), kunjungan ke Candi Cetho melonjak hingga 350 ribu wisatawan per tahun. Sayangnya, pengelolaan lebih fokus pada penjualan tiket ketimbang pelestarian. Penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta (2021) bahkan mencatat praktik re-ticketing di beberapa pintu masuk serta kurangnya pembatasan area sakral.

“Cetho itu pura hidup, bukan museum,” kata Ni Luh Sri, pemangku pura setempat. “Tapi sekarang banyak yang datang hanya untuk konten, bukan sembahyang,” ucapnya.

Ketika spiritualitas dijual sebagai paket wisata, kesakralan berubah jadi atraksi. Situs penyucian berubah menjadi latar selfie yang “estetis tapi hampa”.

Krisis Keaslian yang Tak Pernah Usai

Laporan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, 2022 menyebut ada disformasi batu dan kehilangan komponen dinding utara yang kemudian diganti dengan batu andesit baru. Upaya rehabilitasi ini memang penting secara struktural, tapi juga mempertegas satu hal, Candi Cetho kini adalah campuran antara asli dan interpretasi.

Arkeolog muda menyebutnya “Situs Frankenstein”, tubuh Majapahit yang dihidupkan kembali dengan organ abad 20.

Cetho hidup, tapi kehilangan ingatan.

Kita menyebutnya “pelestarian”. Padahal sering kali itu berarti menulis ulang sejarah sesuai selera estetika penguasa.

Panji, Brawijaya, dan Ingatan yang Tumpang Tindih

Salah satu misteri yang memicu debat adalah arca setinggi 99 cm di teras kelima. Peneliti Dewi Puspita Sari (ResearchGate, 2018) mengusulkan bahwa arca ini menggambarkan Panji, pahlawan lokal dari kisah klasik Jawa Timur. Jika benar, ini menandai pergeseran kultus Majapahit akhir. Dari dewa-dewi India ke tokoh manusia yang diidealkan.

Namun setelah pemugaran, figur Panji justru tenggelam di antara patung-patung baru Sabdapalon dan Brawijaya V. Narasi rakyat digantikan oleh mitos politik tentang “kembalinya Jawa.”

Cetho akhirnya punya dua wajah: satu ilmiah, satu mistik; satu sejarah, satu legenda. Dan keduanya dibiarkan berjalan berdampingan, karena mungkin kita memang lebih nyaman dengan mitos yang indah daripada fakta yang berantakan.

Menjaga dari Apa, dan untuk Siapa?

Para arkeolog merekomendasikan audit historis: memverifikasi bagian mana yang benar-benar berasal dari abad ke-15 dan mana yang tambahan modern. Mereka menyarankan pemindahan elemen paling “mengganggu narasi”, seperti patung modern, ke area museum situs (Criksetra, 2023).

Tapi langkah itu sulit dilakukan.

Bagi warga Hindu dan Kejawen, struktur baru sudah menjadi bagian dari identitas spiritual.

Bagi pemerintah daerah, wisatawan berarti ekonomi.

Bagi akademisi, Cetho adalah kasus rumit antara konservasi dan keimanan.

Lalu, siapa yang sebenarnya kita jaga?

Cagar budayanya, pendapatannya, atau kepercayaannya?

Kejujuran Lebih Langka dari Batu Tua

Candi Cetho bukan sekadar monumen di lereng Lawu, ia adalah cermin bagaimana bangsa ini memperlakukan kebenaran. Kita bangun ulang masa lalu, tapi sering tanpa keberanian menatap apa adanya.

Mungkin benar kata seorang sesepuh desa Gumeng saat ditanya tentang pemugaran, “Kalau semua batu harus asli, nanti yang sembahyang sembah siapa?”

Di antara kabut, mungkin sejarah Cetho masih berbisik, “Aku tak butuh disempurnakan, hanya diingat dengan jujur.”

Pertanyaannya, Apakah kita masih sanggup mencintai sejarah yang tidak sempurna atau kita hanya mencintai versinya yang sudah dipoles? @tabooo

Tags: Cagar BudayaDeepGunung LawuJawa TengahKaranganyarMajapahit

Kamu Melewatkan Ini

Becak Tidak Mati. Mereka Hanya Disembunyikan.

Becak Tidak Mati: Mereka Hanya Disembunyikan

by jeje
Mei 6, 2026

Pagi belum benar-benar terang ketika Slamet mengayuh becaknya pelan di sudut kota. Roda tuanya berderit kecil. Tangannya kasar. Punggungnya sedikit...

Siti Inggil: Sunyi yang Dipercaya, Sejarah yang Dipertanyakan

Siti Inggil: Sunyi yang Dipercaya, Sejarah yang Dipertanyakan

by teguh
Mei 1, 2026

Angin berembus pelan di antara bata-bata tua. Di bawah bayang pohon kesambi, waktu terasa melambat. Namun di ruang yang terasa...

Bukan Skill, Tapi Kepatuhan: Cara Baru Sistem Memilih Manusia

Bukan Skill, Tapi Kepatuhan: Cara Baru Sistem Memilih Manusia

by jeje
Mei 1, 2026

Kita selalu percaya pengalaman adalah kunci. Tapi di sini, tidak ada yang bertanya kamu sudah sejauh apa belajar. Sistem hanya...

Next Post
Prabowo di KTT ASEAN: Dunia Kian Retak, Siapa yang Masih Percaya pada Persatuan?

Prabowo di KTT ASEAN: Dunia Kian Retak, Siapa yang Masih Percaya pada Persatuan?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id