Tabooo.id: Regional – Rentetan ledakan petasan mengguncang sejumlah wilayah di Jawa Tengah dalam sepekan terakhir. Tiga kejadian besar terjadi beruntun dan memicu respons cepat aparat keamanan. Kepolisian langsung bergerak menyisir jalur distribusi bahan berbahaya setelah insiden melukai sejumlah warga.
Melalui operasi terpadu, Polda Jawa Tengah menyita total 67,4 kilogram bahan kimia yang diduga kuat akan digunakan untuk meracik bahan peledak ilegal. Operasi ini melibatkan sejumlah satuan wilayah, termasuk Polres Batang, Polres Magelang, Polres Sragen, Polres Temanggung, Polres Cilacap, serta Polres Pekalongan Kota.
Kabid Humas Polda Jateng, Artanto, menegaskan bahwa langkah tersebut bertujuan memutus potensi ledakan sebelum jatuh korban baru. Polisi menargetkan perlindungan masyarakat, terutama menjelang momentum Ramadan yang biasanya diiringi peningkatan aktivitas petasan.
Tiga Ledakan, Tiga Luka Nyata di Tengah Permukiman
Insiden pertama meledak di Kabupaten Grobogan, tepatnya di Kecamatan Toroh. Tiga remaja mengalami luka bakar serius ketika mencoba meracik bahan petasan di dalam rumah. Ledakan merusak bangunan dan memicu kepanikan warga sekitar.
Beberapa hari kemudian, ledakan serupa terjadi di Kabupaten Kendal, tepatnya di Kecamatan Sukorejo. Kali ini, seorang pekerja mengalami patah tulang dan luka bakar berat setelah bahan peledak meledak saat proses peracikan.
Peristiwa terbaru muncul di Kabupaten Wonosobo. Ledakan terjadi di kawasan Pandansari, yang masuk wilayah Kelurahan Kertek, dalam administrasi Kecamatan Kertek. Seorang remaja berinisial FR mengalami luka bakar dan luka robek di beberapa bagian tubuh setelah petasan rakitan meledak saat proses pembuatan.
Dari Bahan Legal Jadi Ancaman Mematikan
Artanto menjelaskan, sebagian besar bahan kimia yang disita sebenarnya memiliki fungsi industri yang sah. Namun, pelaku mencampurnya secara ilegal menjadi bahan peledak dengan stabilitas rendah. Kondisi itu membuat ledakan mudah terjadi tanpa kendali.
Satu kesalahan kecil dalam proses peracikan bisa memicu ledakan besar. Dampaknya tidak hanya melukai peracik, tetapi juga berpotensi merusak rumah warga, kendaraan, hingga memicu kebakaran lingkungan.
Polisi kini menelusuri jalur distribusi bahan tersebut, termasuk dugaan peredaran melalui media sosial dan platform daring. Aparat menilai praktik ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi ancaman langsung terhadap keselamatan publik.
Dampak Nyata: Warga Biasa Jadi Korban Pertama
Korban dari ledakan petasan hampir selalu berasal dari masyarakat biasa remaja, pekerja harian, hingga warga yang tinggal di sekitar lokasi. Mereka sering tidak tahu bahwa di sekitar rumahnya ada aktivitas peracikan bahan peledak berisiko tinggi.
Menjelang Ramadan, fenomena ini cenderung meningkat karena tradisi petasan masih dianggap hiburan oleh sebagian kelompok. Namun, risiko nyawa dan kerugian materi terus mengintai tanpa pandang usia.
Refleksi
Negara bisa menyita bahan kimia. Polisi bisa menindak pelaku. Namun selama petasan rakitan masih dianggap tradisi, siklus korban kemungkinan akan berulang.
Pertanyaannya sederhana kita ingin merayakan Ramadan dengan suara petasan atau dengan rasa aman? @dimas




