Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Awal Puasa, Cabai dan Sayur di Ponorogo Sama-Sama Meroket

by dimas
Februari 20, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Memasuki awal Ramadhan 1447 Hijriah, dapur warga Ponorogo langsung diuji. Bukan oleh menu sahur atau buka puasa, melainkan oleh harga cabai rawit yang menembus batas psikologis. Di Pasar Legi Ponorogo, Jawa Timur, harga komoditas kecil yang menentukan rasa itu melesat hingga Rp105.000 per kilogram angka yang cukup membuat banyak orang menghela napas sebelum memasak.

Lonjakan harga ini tidak datang tiba-tiba. Permintaan masyarakat meningkat tajam menjelang puasa, sementara pasokan dari luar daerah justru tersendat. Kombinasi klasik ini kembali terulang: stok menipis, harga melambung, dan masyarakat kecil menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya.

Anggraini, pedagang cabai di Pasar Legi, merasakan langsung perubahan itu. Ia menyebut harga cabai rawit bahkan sempat menyentuh Rp100.000 per kilogram sebelum terus merangkak naik.

“Kemarin sudah tembus Rp100.000, sekarang Rp105.000 per kilogram. Barangnya susah dicari, tapi kebutuhan meningkat tajam,” ujarnya di lapak dagangannya, Jumat (20/2/2026).

Kenaikan ini tidak hanya mengubah harga, tetapi juga mengubah perilaku pembeli. Jika dulu pelanggan membeli satu kilogram, kini mereka hanya berani membeli satu ons. Akibatnya, omzet pedagang ikut tergerus.

Ini Belum Selesai

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Anggraini mengaku biasanya mampu menjual hingga 40 kilogram cabai per hari. Kini, ia bersyukur jika bisa menjual 10 kilogram.

“Pembeli sekarang beli sedikit-sedikit. Mereka tetap butuh cabai, tapi tidak sanggup beli banyak,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan satu pola penting: ketika harga melonjak, konsumsi tidak hilang hanya diperkecil. Masyarakat menyesuaikan diri, bukan berhenti membeli.

Efek Domino: Sayur, Bawang, hingga Ayam Ikut Naik

Kenaikan cabai bukan satu-satunya masalah. Harga sayuran lain ikut merangkak naik. Kangkung dan kenikir, yang biasanya dijual Rp2.000 hingga Rp3.000 per ikat, kini mencapai Rp4.000 sampai Rp5.000. Bawang merah juga naik dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.

Artinya, hampir seluruh komponen dapur mengalami tekanan harga secara bersamaan.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas protein. Sri Widyastuti, pedagang ayam dan telur, mengatakan harga ayam potong naik menjadi Rp40.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp36.000.

“Ini sudah seminggu naik. Bahkan lebih mahal dari Ramadhan tahun lalu,” ujarnya.

Harga telur juga ikut terkerek, dari Rp27.000 menjadi Rp29.000 per kilogram.

Kenaikan harga pangan di awal Ramadhan bukan sekadar statistik. Ia langsung menyentuh realitas kehidupan masyarakat.

Warga Bertahan dengan Cara Mereka Sendiri

Di tengah tekanan harga, warga tidak punya banyak pilihan. Mereka tetap harus membeli kebutuhan dapur, meski dengan jumlah yang lebih sedikit.

Lia, warga Ponorogo yang berbelanja di Pasar Legi, mengaku terpaksa mengubah strategi belanja.

Ia mengurangi jumlah pembelian agar anggaran tetap cukup hingga akhir bulan.

“Terpaksa beli lebih sedikit. Kalau tidak, pengeluaran dapur bisa membengkak,” katanya.

Bagi keluarga seperti Lia, kenaikan harga bukan hanya soal angka. Ia menyentuh keseimbangan keuangan rumah tangga, memaksa mereka menghitung ulang prioritas.

Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan refleksi spiritual justru sering berubah menjadi bulan ujian ekonomi bagi masyarakat kecil.

Ramadhan dan Ujian yang Selalu Berulang

Lonjakan harga pangan menjelang Ramadhan bukan cerita baru. Pola ini berulang setiap tahun, seolah menjadi tradisi yang sulit diputus. Permintaan meningkat, distribusi terganggu, dan harga pun naik.

Pedagang kecil kehilangan volume penjualan. Konsumen kehilangan daya beli. Sementara itu, pasar terus bergerak tanpa kompromi.

Pada akhirnya, cabai bukan sekadar bumbu dapur. Ia menjadi simbol sederhana tentang bagaimana ekonomi bekerja dan siapa yang paling dulu merasakan pedasnya.

Karena di negeri ini, setiap Ramadhan datang dengan dua rasa manisnya harapan, dan pedasnya harga kebutuhan. @dimas

Tags: 2026cabaiDaya BeliEkonomi IndonesiaHargaInflasiKebutuhanKenaikanMahalPanganPasar TradisionalPedagangponorogorakyatRamadan

Kamu Melewatkan Ini

Rupiah Melemah, Harga Naik: Masih Yakin Ekonomi Baik-Baik Saja?

Rupiah Melemah, Harga Naik: Masih Yakin Ekonomi Baik-Baik Saja?

by dimas
Mei 13, 2026

Rupiah menyentuh rekor pelemahan baru saat harga kebutuhan pokok terus naik. Di tengah klaim ekonomi tumbuh, publik mulai mempertanyakan realita...

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

by dimas
Mei 12, 2026

Rupiah anjlok menyentuh angka Rp 17.500 per dolar AS. Tekanan global dan turunnya kepercayaan investor disebut jadi penyebab utama. Di...

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

by dimas
Mei 11, 2026

Pembangunan tampak megah lewat angka pertumbuhan, gedung tinggi, dan proyek infrastruktur besar yang terus dipamerkan. Namun bagi banyak orang, kemajuan...

Next Post
Prabowo dan Trump Sepakat Teken Tarif Dagang Baru

Prabowo dan Trump Sepakati Tarif Resiprokal, Arah Baru Ekonomi RI-AS

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id