Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Awal Puasa, Cabai dan Sayur di Ponorogo Sama-Sama Meroket

by dimas
Februari 20, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Regional – Memasuki awal Ramadhan 1447 Hijriah, dapur warga Ponorogo langsung diuji. Bukan oleh menu sahur atau buka puasa, melainkan oleh harga cabai rawit yang menembus batas psikologis. Di Pasar Legi Ponorogo, Jawa Timur, harga komoditas kecil yang menentukan rasa itu melesat hingga Rp105.000 per kilogram angka yang cukup membuat banyak orang menghela napas sebelum memasak.

Lonjakan harga ini tidak datang tiba-tiba. Permintaan masyarakat meningkat tajam menjelang puasa, sementara pasokan dari luar daerah justru tersendat. Kombinasi klasik ini kembali terulang: stok menipis, harga melambung, dan masyarakat kecil menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya.

Anggraini, pedagang cabai di Pasar Legi, merasakan langsung perubahan itu. Ia menyebut harga cabai rawit bahkan sempat menyentuh Rp100.000 per kilogram sebelum terus merangkak naik.

“Kemarin sudah tembus Rp100.000, sekarang Rp105.000 per kilogram. Barangnya susah dicari, tapi kebutuhan meningkat tajam,” ujarnya di lapak dagangannya, Jumat (20/2/2026).

Kenaikan ini tidak hanya mengubah harga, tetapi juga mengubah perilaku pembeli. Jika dulu pelanggan membeli satu kilogram, kini mereka hanya berani membeli satu ons. Akibatnya, omzet pedagang ikut tergerus.

Ini Belum Selesai

Pemerintah Tarik 25 Merek Beras Fortifikasi, Ada Apa?

Bakar Sampah Berujung Kebakaran Kabel PT Sangsaka di Bantul

Anggraini mengaku biasanya mampu menjual hingga 40 kilogram cabai per hari. Kini, ia bersyukur jika bisa menjual 10 kilogram.

“Pembeli sekarang beli sedikit-sedikit. Mereka tetap butuh cabai, tapi tidak sanggup beli banyak,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan satu pola penting: ketika harga melonjak, konsumsi tidak hilang hanya diperkecil. Masyarakat menyesuaikan diri, bukan berhenti membeli.

Efek Domino: Sayur, Bawang, hingga Ayam Ikut Naik

Kenaikan cabai bukan satu-satunya masalah. Harga sayuran lain ikut merangkak naik. Kangkung dan kenikir, yang biasanya dijual Rp2.000 hingga Rp3.000 per ikat, kini mencapai Rp4.000 sampai Rp5.000. Bawang merah juga naik dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.

Artinya, hampir seluruh komponen dapur mengalami tekanan harga secara bersamaan.

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas protein. Sri Widyastuti, pedagang ayam dan telur, mengatakan harga ayam potong naik menjadi Rp40.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp36.000.

“Ini sudah seminggu naik. Bahkan lebih mahal dari Ramadhan tahun lalu,” ujarnya.

Harga telur juga ikut terkerek, dari Rp27.000 menjadi Rp29.000 per kilogram.

Kenaikan harga pangan di awal Ramadhan bukan sekadar statistik. Ia langsung menyentuh realitas kehidupan masyarakat.

Warga Bertahan dengan Cara Mereka Sendiri

Di tengah tekanan harga, warga tidak punya banyak pilihan. Mereka tetap harus membeli kebutuhan dapur, meski dengan jumlah yang lebih sedikit.

Lia, warga Ponorogo yang berbelanja di Pasar Legi, mengaku terpaksa mengubah strategi belanja.

Ia mengurangi jumlah pembelian agar anggaran tetap cukup hingga akhir bulan.

“Terpaksa beli lebih sedikit. Kalau tidak, pengeluaran dapur bisa membengkak,” katanya.

Bagi keluarga seperti Lia, kenaikan harga bukan hanya soal angka. Ia menyentuh keseimbangan keuangan rumah tangga, memaksa mereka menghitung ulang prioritas.

Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan refleksi spiritual justru sering berubah menjadi bulan ujian ekonomi bagi masyarakat kecil.

Ramadhan dan Ujian yang Selalu Berulang

Lonjakan harga pangan menjelang Ramadhan bukan cerita baru. Pola ini berulang setiap tahun, seolah menjadi tradisi yang sulit diputus. Permintaan meningkat, distribusi terganggu, dan harga pun naik.

Pedagang kecil kehilangan volume penjualan. Konsumen kehilangan daya beli. Sementara itu, pasar terus bergerak tanpa kompromi.

Pada akhirnya, cabai bukan sekadar bumbu dapur. Ia menjadi simbol sederhana tentang bagaimana ekonomi bekerja dan siapa yang paling dulu merasakan pedasnya.

Karena di negeri ini, setiap Ramadhan datang dengan dua rasa manisnya harapan, dan pedasnya harga kebutuhan. @dimas

Tags: 2026cabaiDaya BeliEkonomi IndonesiaHargaInflasiKebutuhanKenaikanMahalPanganPasar TradisionalPedagangponorogorakyatRamadan

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Menerjang Jatim dan Kaltara, 38 Hektare Lahan Terbakar

Karhutla Menerjang Jatim dan Kaltara, 38 Hektare Lahan Terbakar

by dimas
September 14, 2026

Karhutla menerjang Jawa Timur dan Kalimantan Utara. BNPB mencatat sekitar 38 hektare lahan terbakar di Ponorogo, Pasuruan, dan Bulungan. Tabooo.id...

Negara Menguasai Sumber Daya, Rakyat Dapat Apa?

Negara Menguasai Sumber Daya, Rakyat Dapat Apa?

by dimas
Agustus 23, 2026

Negara memiliki mandat untuk menguasai sumber daya strategis. Namun, mandat itu bukan sekadar soal izin, regulasi, atau kepemilikan. Ukuran akhirnya...

Pasal 33 UUD 1945: Ekonomi Indonesia Milik Siapa?

Pasal 33 UUD 1945: Ekonomi Indonesia Milik Siapa?

by dimas
Agustus 22, 2026

Pasal 33 UUD 1945 bukan sekadar aturan ekonomi, tetapi tentang pengelolaan sumber daya, distribusi kekayaan, dan kemakmuran rakyat. Tabooo.id -...

Next Post
Prabowo dan Trump Sepakat Teken Tarif Dagang Baru

Prabowo dan Trump Sepakati Tarif Resiprokal, Arah Baru Ekonomi RI-AS

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id