Tabooo.id: Kriminal – Dua pria muda asal Mojokerto ditangkap anggota Satresnarkoba Polres Mojokerto Kota dalam operasi penindakan narkotika yang berlangsung Kamis malam, 23 Oktober 2025. Keduanya adalah Muhammad Hasan (31) warga Desa Watonmas Jedong, Kecamatan Ngoro, dan AHZ (26) warga Mojosari, Kabupaten Mojokerto.
Mereka ditangkap di pinggir Jalan Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, sekitar pukul 22.30 WIB. Dari tangan keduanya, polisi menyita 1 kilogram sabu, tiga unit ponsel, dan satu motor merah nopol S 5133 NJK. “Yang kita tangkap ini disuruh mengambil sabu oleh pemesan yang sedang menjalani hukuman di dalam Lapas.
Kami belum bisa sebutkan di mana Lapasnya untuk kepentingan penyelidikan,” kata Kasat Resnarkoba Iptu Arif Setiawan dalam konferensi pers, Kamis (30/10/2025).Dari hasil penyelidikan, polisi menemukan fakta mengejutkan: jaringan ini dikendalikan oleh narapidana dari dalam lembaga pemasyarakatan. Arif menyebut, sabu seberat 1 kg itu merupakan barang impor asal Cina yang dikirim melalui jalur Surabaya–Mojokerto.
“Pengakuan tersangka, mereka sudah tiga kali mengambil sabu dalam dua bulan terakhir,” ujar Arif. Para kurir ini hanya bertugas “menjemput barang” di titik yang ditentukan tanpa tahu siapa pengendali utamanya di luar Lapas.Dalam pemeriksaan, Muhammad Hasan mengaku tergiur imbalan Rp4 juta sekali kirim.
“Tersangka MH dijanjikan diberi imbalan Rp 4 juta dalam setiap pengiriman sabu 1 kg. Keduanya sudah beberapa kali menerima bayaran, baik uang maupun sabu gratis,” jelas Kapolres Mojokerto Kota AKBP Herdiawan Arifianto.
Iming-iming ini membuat Hasan dan AHZ tak berpikir panjang. Uang cepat dan narkoba gratis jadi jebakan manis yang berujung penjara. Kini keduanya ditahan untuk penyidikan lanjutan, sementara polisi memburu pengendali utama di balik jaringan ini
Kasus ini menambah daftar panjang bukti bahwa tembok penjara tak lagi mampu menahan bisnis narkoba. Dari balik jeruji, para bandar tetap mengatur pengiriman, memilih kurir, bahkan menentukan titik transaksi.
Ironisnya, banyak dari mereka yang terlibat bukan kriminal kelas berat melainkan korban sistem yang rapuh dan ekonomi yang sempit. Di balik setiap paket sabu, ada kehidupan yang dipertaruhkan demi bayaran sesaat. @teguh





