Minggu, Juli 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mobil “Merah Putih”, Tapi Bukan Buatan Sendiri

by dimas
April 8, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Katanya mau mandiri. Namun, kenapa kendaraan operasional justru impor?

Saat ini, 1.200 mobil pikap dan truk sudah masuk dari India. Angka itu baru permulaan dari rencana besar 105.000 unit untuk mendukung program Koperasi Merah Putih. Ironisnya, program ini justru dipromosikan sebagai simbol kemandirian ekonomi.

Jadi, kita benar-benar sedang membangun industri sendiri atau malah memperluas pasar negara lain?

Logika “Efisiensi” yang Terlalu Cepat

PT Agrinas Pangan Nusantara punya alasan. Harga mobil lokal dinilai lebih mahal, stok terbatas, dan pembelian besar dikhawatirkan mengganggu distribusi produsen dalam negeri.

Sekilas, argumen itu terdengar rasional.

Ini Belum Selesai

Saat Peretasan Dipakai untuk Menyuarakan Kritik

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Namun, di sinilah letak masalahnya. Kita terlalu sering memilih solusi instan tanpa menghitung dampak jangka panjang. Akibatnya, efisiensi hari ini justru berpotensi menjadi beban di masa depan.

Industri Dalam Negeri yang Ditinggal

Di sisi lain, momentum kebijakan ini terasa janggal. Industri otomotif nasional sedang melemah, bahkan sebagian pekerja terkena PHK.

Alih-alih membantu pemulihan, impor justru mempersempit ruang hidup industri lokal. Ketika pabrik dalam negeri butuh pesanan, negara malah berbelanja ke luar.

Lalu, siapa sebenarnya yang sedang kita selamatkan?

Janji Lama yang Terus Berulang

Sebenarnya, pola ini bukan hal baru.

Sejak era Orde Baru hingga proyek mobil Esemka di masa Joko Widodo, cerita yang muncul hampir selalu sama ambisi besar, eksekusi setengah jalan.

Karena itu, pertanyaannya bergeser. Bukan lagi “kenapa gagal?”, melainkan “kenapa kegagalan ini terus diulang?”

Kehilangan Proses Belajar

Menurut Kenneth Arrow, kemampuan teknologi lahir dari praktik langsung.

Artinya, tanpa produksi, tidak ada pembelajaran.

Sayangnya, ketika impor menjadi pilihan utama, kita bukan hanya membeli barang. Kita juga memindahkan proses belajar itu ke negara lain. Akibatnya, Indonesia hanya menjadi pengguna, bukan pencipta.

Tahap yang Kita Lewatkan

Lebih jauh, Linsu Kim menjelaskan bahwa negara berkembang harus melewati tiga tahap: imitasi, adaptasi, lalu inovasi.

Namun, semua tahap itu butuh satu syarat utama industri domestik yang hidup.

Jika pasar justru dibanjiri produk impor, kapan proses itu bisa terjadi?

Negara Lain Memilih Jalan Sulit

Sebaliknya, negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China pernah menghadapi kondisi serupa.

Namun, mereka tidak memilih jalan cepat.

Mereka melindungi industri lokal, memaksa transfer teknologi, dan berinvestasi besar sejak awal. Memang mahal, tetapi hasilnya nyata: kini mereka menjadi pemain global.

Sementara itu, Indonesia masih berkutat sebagai pasar.

Ketika Rente Lebih Menggiurkan

Di balik semua ini, ada persoalan yang lebih dalam struktur ekonomi.

Membangun industri butuh waktu panjang, biaya besar, dan kesabaran. Sebaliknya, impor menawarkan jalur cepat, praktis, dan sering kali menguntungkan dalam jangka pendek.

Akibatnya, keputusan ekonomi kerap bergeser. Bukan lagi soal membangun kapasitas, melainkan soal siapa yang mendapat keuntungan hari ini.

Dan sayangnya, publik jarang masuk dalam daftar itu.

“Merah Putih” atau Sekadar Label?

Program ini membawa nama besar Merah Putih.

Namun, jika mesinnya impor, teknologinya asing, dan industrinya tidak kita bangun, apa makna simbol itu?

Apakah ini benar-benar kemandirian, atau hanya kemasan nasional untuk kebijakan yang tetap bergantung?

Penutup: Kita Mau Jadi Apa?

Sejauh ini, Indonesia sudah lama menjadi pasar otomotif bagi Jepang, Korea Selatan, China, dan kini India.

Jika pola ini terus berlanjut, daftar itu akan semakin panjang.

Karena pada akhirnya, kemandirian bukan sekadar slogan. Ia lahir dari pilihan yang konsisten.

Masalahnya, hari ini kita masih memilih jalan cepat.

Jadi, sampai kapan kita nyaman jadi pasar? @dimas

Tags: Ekonomi IndonesiaImporIndustriKebijakanKemandirianKoperasiKritikMerah PutihMobilNasionalOtomotif

Kamu Melewatkan Ini

Utang RI Tembus Rp8.030 Triliun: Pertumbuhan atau Beban?

Utang RI Tembus Rp8.030 Triliun: Pertumbuhan atau Beban?

by dimas
Juli 18, 2026

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri RI mencapai Rp8.030 triliun. Benarkah kenaikan utang mampu mendorong pertumbuhan atau justru menjadi beban...

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

Gasnya Sudah Ada dari Dulu. Yang Lama Dicari Ternyata Tombol “Start”

by teguh
Juli 17, 2026

Indonesia akhirnya memulai pembangunan Lapangan Abadi Blok Masela setelah menunggu hampir tiga dekade. Kabar itu memang layak disambut. Namun satu...

Gelombang PHK dan Memudarnya Rasa Aman Pekerja

Gelombang PHK dan Memudarnya Rasa Aman Pekerja

by dimas
Juli 17, 2026

Gelombang PHK yang kembali meningkat memicu memudarnya rasa aman pekerja. Di tengah sulitnya mencari kerja, ketidakpastian pasar tenaga kerja kian...

Next Post
Empat Musim Pertiwi: Pulang ke Rumah atau Kembali ke Luka?

Empat Musim Pertiwi: Pulang ke Rumah atau Kembali ke Luka?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id