Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Universitas di Persimpangan: Pusat Pengetahuan atau Mesin Produksi Tenaga Kerja?

by dimas
April 29, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Jika pada masa lalu universitas berfungsi sebagai ruang produksi pengetahuan yang menumbuhkan pemikiran kritis, kebudayaan, dan kebebasan intelektual, kini banyak pihak mendorong kampus mengikuti logika industri yang menempatkannya sebagai penyedia tenaga kerja bagi kebutuhan ekonomi.

Tabooo.id: Talk – Wacana dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tentang kemungkinan menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan masa depan memicu perdebatan luas mengenai arah pendidikan tinggi di Indonesia. Pemerintah mendorong perguruan tinggi menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan memprioritaskan bidang yang berkaitan dengan industri strategis. Namun di balik gagasan efisiensi dan relevansi itu muncul pertanyaan mendasar apakah universitas hanya berfungsi sebagai pabrik tenaga kerja, atau tetap memikul tanggung jawab membentuk warga negara yang kritis, menjaga keberagaman pengetahuan, serta merawat kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat.

Bangsa yang besar tidak lahir hanya dari insinyur dan teknokrat. Ia juga tumbuh melalui pemikiran sejarawan, seniman, sastrawan, filsuf, dan ilmuwan sosial.

Pemerintah ingin memprioritaskan program studi yang berkaitan dengan delapan industri strategis nasional. Gagasan ini terlihat logis pada pandangan pertama. Negara membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memperkuat industri, mendorong inovasi teknologi, dan meningkatkan daya saing ekonomi.

Namun masalah muncul ketika kampus mulai menempatkan diri semata sebagai pemasok tenaga kerja. Perguruan tinggi tidak lagi berperan sebagai ruang pemikiran kritis, pengembangan kebudayaan, dan refleksi sosial. Jika tren ini terus berkembang, universitas berisiko kehilangan fungsi intelektualnya.

Arah pendidikan tinggi

Perdebatan ini bukan sekadar soal membuka atau menutup beberapa program studi. Yang dipertaruhkan adalah cara negara memandang manusia dan masa depan masyarakatnya.

Ini Belum Selesai

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

Mengapa Publik Makin Skeptis terhadap Janji Pejabat?

Jika negara melihat pendidikan tinggi hanya sebagai sarana mencetak pekerja sesuai kebutuhan pasar, universitas akan berubah menjadi institusi pelatihan industri. Sebaliknya, jika masyarakat memandang universitas sebagai ruang pembentukan warga negara yang kritis dan berbudaya, maka pendidikan tinggi harus menjaga keberagaman disiplin ilmu.

Sayangnya, perdebatan kebijakan sering berfokus pada efisiensi dan relevansi ekonomi. Diskusi jarang menyentuh peran universitas dalam menjaga demokrasi, kebudayaan, dan pemikiran kritis masyarakat.

Logika industri

Kebijakan yang terlalu menekankan kebutuhan industri membawa risiko serius. Pemerintah seolah menganggap masa depan ekonomi dapat diprediksi melalui kebutuhan pasar saat ini. Dengan asumsi itu, negara mengarahkan pendidikan tinggi untuk menopang sektor-sektor tertentu yang dianggap strategis.

Sejarah menunjukkan kenyataan yang berbeda. Perubahan dunia sering datang tanpa peringatan. Banyak profesi penting pada masa lalu kini menghilang, sementara pekerjaan baru muncul dari bidang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Pada awal 1990-an, misalnya, hampir tidak ada yang memprediksi munculnya profesi seperti pengembang gim digital, analis budaya populer, atau spesialis media sosial. Begitu pula kajian humaniora yang dahulu dipandang tidak produktif kini memainkan peran penting dalam memahami etika kecerdasan buatan, disinformasi digital, polarisasi politik, hingga konflik identitas.

Masa depan tidak hanya dibentuk oleh teknologi dan industri. Ia juga lahir dari kemampuan manusia memahami dirinya sendiri.

Karena itu, jika pemerintah menilai relevansi program studi hanya dari kebutuhan pasar kerja jangka pendek, kebijakan tersebut menjadi terlalu sempit. Universitas bukan lembaga kursus industri. Kampus merupakan ruang produksi pengetahuan yang mendorong masyarakat berpikir kritis, mengkritik kekuasaan, menjaga kebudayaan, dan membayangkan masa depan.

Ketika negara menentukan bahwa hanya bidang tertentu yang layak dipertahankan karena nilai ekonominya, universitas kehilangan sebagian dari makna historisnya.

Fungsi strategis humaniora

Kebijakan yang mempersempit bidang ilmu juga berpotensi memperlebar ketimpangan sosial. Program studi yang sering dianggap tidak relevan biasanya berada di wilayah humaniora, seni, sastra, filsafat, sejarah, atau ilmu sosial tertentu.

Padahal bidang-bidang tersebut menyediakan ruang bagi masyarakat untuk memahami identitas, budaya, dan pengalaman sosialnya sendiri. Jika ruang akademik itu menyusut, masyarakat kehilangan sarana penting untuk menafsirkan dirinya.

Masalah mendasarnya terletak pada prioritas kebijakan. Negara terlihat lebih fokus menyiapkan tenaga kerja industri daripada membangun masyarakat yang kuat secara sosial dan demokratis.

Pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi stabilitas sosial tidak pernah lahir hanya dari angka investasi dan ekspor. Masyarakat membutuhkan kemampuan memahami sejarahnya, menghargai perbedaan, dan membangun solidaritas sosial.

Di sinilah peran ilmu humaniora menjadi penting.
Sejarah membantu masyarakat memahami akar konflik dan perubahan sosial.
Antropologi membantu negara membaca keragaman budaya.
Sastra melatih empati dan imajinasi manusia.
Filsafat melatih kemampuan berpikir kritis terhadap kekuasaan dan teknologi.
Seni menjaga kepekaan sosial sekaligus menjadi ruang ekspresi kebudayaan.

Ironisnya, ketika teknologi berkembang pesat, justru kemampuan-kemampuan manusiawi seperti kreativitas, empati, dan interpretasi budaya menjadi semakin berharga. Kecerdasan buatan mampu menggantikan banyak pekerjaan teknis, tetapi ia sulit menggantikan kemampuan manusia memahami pengalaman sosial dan moralitas.

Karena itu, melemahkan program studi humaniora atas nama masa depan justru berpotensi menjadi kesalahan strategis.

Relevansi bagi siapa

Istilah “relevansi” dalam kebijakan pendidikan juga perlu dikaji lebih kritis. Relevan bagi siapa, dan untuk kepentingan apa?

Jika pemerintah mengukur relevansi hanya melalui kebutuhan industri besar, maka kepentingan masyarakat luas mudah terabaikan. Indonesia memiliki keragaman budaya dan sosial yang sangat besar. Setiap daerah memiliki kebutuhan pendidikan yang berbeda.

Program studi bahasa daerah, kajian budaya lokal, atau sejarah regional mungkin tidak menghasilkan keuntungan ekonomi besar. Namun bidang-bidang tersebut menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat pengetahuan lokal.

Jika seluruh kebijakan pendidikan tinggi mengikuti logika pasar nasional atau global, kekayaan budaya lokal Indonesia berisiko tersingkir.

Kolaborasi antardisiplin

Perdebatan ini sebenarnya tidak harus berakhir pada pilihan antara mempertahankan atau menutup program studi. Pendidikan tinggi memang perlu beradaptasi dengan perubahan zaman. Kampus harus memperbarui kurikulum, memperbaiki metode pembelajaran, dan mendorong kemampuan lintas disiplin.

Namun solusi tidak cukup melalui pemangkasan program studi. Pendidikan tinggi membutuhkan transformasi.

Pemerintah dapat mendorong kolaborasi antardisiplin ilmu. Program sejarah dapat bekerja sama dengan industri digital melalui arsip digital dan sejarah publik. Sastra dapat berkembang bersama industri kreatif dan media. Filsafat dapat terlibat dalam kajian etika teknologi dan kecerdasan buatan. Antropologi dapat membantu merancang kebijakan pembangunan berbasis masyarakat lokal.

Pendekatan seperti ini membangun relevansi tanpa menghapus bidang ilmu tertentu. Universitas tetap menjaga keberagaman pengetahuan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.

Kampus dan masa depan bangsa

Universitas seharusnya tidak hanya mengikuti kebutuhan pasar saat ini. Kampus harus mampu melihat lebih jauh daripada perubahan ekonomi jangka pendek.

Jika perguruan tinggi berubah menjadi mesin produksi tenaga kerja, pendidikan tinggi akan kehilangan jiwanya. Padahal bangsa yang besar membutuhkan lebih dari sekadar teknokrat dan insinyur. Ia juga memerlukan pemikir, seniman, penulis, dan ilmuwan sosial yang membantu masyarakat memahami perubahan zaman.

Kontroversi penutupan program studi pada akhirnya memperlihatkan pertarungan dua cara pandang tentang pendidikan. Cara pandang pertama melihat kampus sebagai alat produksi ekonomi yang harus tunduk pada kebutuhan industri. Cara pandang kedua memandang universitas sebagai institusi publik yang menjaga keberagaman pengetahuan sekaligus membangun peradaban masyarakat.

Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, pilihan kedua justru menjadi semakin penting. @dimas

Tags: Masa DepanNasionalpendidikan tinggi

Kamu Melewatkan Ini

Perundungan di Asrama Telkom University: Ketika Bercanda Berubah jadi Ancaman

Perundungan di Asrama Telkom University: Ketika Bercanda Berubah jadi Ancaman

by teguh
Oktober 11, 2026

Asrama seharusnya menjadi rumah kedua bagi mahasiswa. Di sana, mereka belajar mandiri, membangun pertemanan, dan menjalani kehidupan jauh dari keluarga....

Jadi Kader atau Dipaksa Tunduk? Senioritas di Balik Jurit Malam UIN Kendari

Jadi Kader atau Dipaksa Tunduk? Senioritas di Balik Jurit Malam UIN Kendari

by teguh
September 10, 2026

Pukul 01.30 WITA, Minggu, 06/09/2026, kegiatan jurit malam UIN Kendari masih berlangsung. Di tengah gelapnya malam, seorang mahasiswi berusia 19...

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

by Tabooo
September 1, 2026

Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Lebih dari 5.000 halaman membawa pembaca dari...

Next Post
Solo Menari 2026: Ribuan Penari Buktikan Budaya Tak Pernah Mati

Solo Menari 2026: Ribuan Penari Buktikan Budaya Tak Pernah Mati

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id