Tabooo.id: Deep – Hujan baru saja berhenti ketika Fauziah, 41 tahun, duduk di depan tenda pengungsian. Terpal biru yang ia tempati masih meneteskan sisa air dari hujan semalaman. Sungai kecil di belakang rumahnya berubah jadi arus kecokelatan yang menyeret dapur, kandang ayam, dan ladangnya.
“Kalau malam, airnya kayak mau naik lagi,” ujarnya pelan. Dua anaknya memeluk selimut yang masih lembap.
Seorang relawan lalu membuka ponsel dan menunjukkan sebuah berita.
“Bu, bupati lagi umrah.”
Fauziah terdiam. Ia tidak tahu apakah harus tertawa, menangis, atau sekadar menerima keadaan yang makin sulit ditebak.
Fakta Sosial & Konteks Kebijakan
Di saat warga Aceh Selatan berjuang melewati banjir, Bupati Mirwan justru terbang ke Tanah Suci. Ia menjalankan ibadah umrah ketika sebagian daerahnya masih terendam.
Inspektorat Jenderal Kemendagri kemudian memanggilnya. Pemeriksaan berlangsung di Kantor Inspektorat Provinsi Aceh, Minggu sore (7/12/2025). Tim Itjen sudah tiba sejak sehari sebelumnya.
Sorotan publik semakin besar setelah muncul dokumen Surat Pernyataan Ketidaksanggupan yang Mirwan keluarkan pada 27 November 2025. Dalam surat itu, ia menyatakan tidak sanggup menangani tanggap darurat banjir dan longsor.
Masalah lain menyusul kabar yang menyebut bahwa ia berangkat tanpa izin Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.
Dari pihak kabupaten, Kabag Prokopim Denny Herry Safputra memberi klarifikasi. Ia menyebut bahwa kondisi Aceh Selatan sudah stabil saat bupati berangkat. Menurutnya, air di Bakongan Raya dan Trumon Raya sudah surut. Ia juga menegaskan bahwa Mirwan telah turun ke lokasi, mengantarkan logistik, dan memastikan warga mendapatkan bantuan.
Namun pernyataan resmi itu terasa berbeda jika dibandingkan dengan kondisi di posko-posko pengungsian.
Narasi Pengalaman Manusia: Emosi, Perjuangan, Ketegangan
Di Gampong Trumon, satu keluarga tidur di lantai mushola yang dingin. Anak-anak batuk sepanjang malam. Lansia menggigil karena udara lembap dan makanan yang tidak teratur.
“Biasanya pemimpin datang lihat kondisi,” kata Murdani, 57 tahun. “Sekarang kami cuma dengar kabarnya. Katanya pergi umrah.”
Nada suaranya datar, tetapi matanya menunjukkan rasa perih yang sulit disembunyikan.
Di dapur umum, para relawan memasak untuk ratusan pengungsi dengan bahan seadanya. Rahmi, relawan 23 tahun, memotong bawang sambil membungkuk di atas meja darurat.
“Kami masak apa saja yang ada,” katanya. “Kadang cuma telur rebus. Yang penting orang makan. Tapi jujur… rasanya kayak kerja tanpa arahan.”
Ia tidak menyebut siapa yang ia maksud, tetapi kekosongan itu terasa jelas. Semua orang merasakannya, tapi tidak semua sanggup mengatakannya.
Di Balai Desa Bakongan, beberapa warga memperlihatkan rekaman detik-detik banjir datang. Suaranya menggelegar. Ada teriakan perempuan dan suara benda-benda besar terbawa arus.
Di saat itu, media sosial justru menampilkan foto Mirwan mengenakan pakaian ihram, dengan caption tentang ketenangan dan doa.
Perbedaan itu menciptakan luka baru bukan karena bencana, tetapi karena rasa tidak dianggap.
Analisis Reflektif Tabooo: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Sistem?
Kisah Mirwan menggambarkan lubang besar dalam sistem pemerintahan daerah kita. Masalahnya bukan sekadar seorang bupati yang pergi umrah. Masalahnya ada pada cara kita membangun budaya kepemimpinan.
Pertama, banyak pemimpin masih melihat jabatan sebagai hak, bukan amanah.
Perjalanan spiritual memang mulia, tetapi waktu menentukan makna. Ibadah menjadi ironi ketika rakyat sedang meminta pertolongan.
Kedua, mekanisme pengawasan berjalan seperti formalitas.
Jika keberangkatan tanpa izin memang terjadi, mengapa ia tetap bisa berangkat?
Jika keadaan dianggap stabil, mengapa relawan masih berjaga malam karena pengungsian belum aman?
Ketiga, sistem tanggap darurat sering tidak memprioritaskan warga.
Surat ketidaksanggupan bupati seharusnya menjadi sinyal kuat bagi pemerintah provinsi dan pusat untuk mempercepat bantuan. Tetapi kenyataannya, banyak warga tetap menunggu.
Bencana akhirnya membuka ruang paling jujur wajah asli pemerintahan daerah.
Dan sering kali, wajah yang muncul bukan wajah para pejabat.
Wajah itu adalah wajah warga yang lelah, basah, dan bingung mencari pegangan.
Penutup yang Menggugah
Malam kembali turun di Aceh Selatan. Fauziah duduk di depan tendanya sambil menatap halaman yang berubah jadi tanah berlumpur. Ia mengusap pipinya yang basah entah oleh hujan sisa atau oleh sesuatu yang lebih hangat.
“Apa nanti kalau banjir datang lagi, kami harus berharap siapa?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak ada pejabat yang menjawab. Tidak ada sirene bantuan yang terdengar. Yang ada hanya suara malam dan anak-anak yang berusaha tidur di balik selimut basah.
Bencana selalu meninggalkan kerusakan.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang lebih sulit dipulihkan:
kepercayaan warga kepada pemimpinnya.
Dan tidak ada pesawat pulang dari Tanah Suci yang bisa memperbaikinya dalam semalam. @dimas




