Tabooo.id: Nasional – Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat tragedi alam kembali menelan korban jiwa. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, melaporkan dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan jajaran kementerian/lembaga, bahwa 921 orang meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang tiga provinsi tersebut. Data terkini juga menunjukkan 392 orang masih hilang kontak, sementara 975.079 warga mengungsi.
Aceh Terparah, Daerah Terisolasi Masih Mengancam
Rinciannya mengerikan Aceh menjadi daerah paling parah dengan 366 korban meninggal, 97 hilang, dan 914.202 orang mengungsi, khususnya di Bener Meriah dan Aceh Tengah yang masih terisolasi. Di Sumatra Utara, 329 orang meninggal dan 82 hilang, sedangkan Sumatra Barat mencatat 226 meninggal dan 213 hilang. Suharyanto menegaskan bahwa angka ini masih bisa berubah seiring proses evakuasi berlangsung.
Dampak bagi Masyarakat dan Ironi Bantuan
Bencana ini memukul masyarakat terdampak rumah-rumah hancur, akses air bersih terganggu, dan ekonomi lokal lumpuh. Namun, pihak kontraktor proyek infrastruktur dan logistik darurat justru mendapat aliran dana besar, baik dari anggaran BNPB maupun kementerian terkait. Ironisnya, rakyat kehilangan tempat tinggal sementara “bantuan” justru menjadi ladang keuntungan bagi segelintir pihak.
Proses Evakuasi Terhambat
Hingga kini, medan berat dan infrastruktur yang rusak memperlambat proses evakuasi, meninggalkan warga rentan tanpa perlindungan. Sedangkan media sosial riuh dengan tagar dukungan, tetapi kenyataannya bantuan nyata sering datang terlambat.
Alam Tak Pandang Bulu, Birokrasi Tetap Untung
Tragisnya, bencana ini mengingatkan kita alam tak pandang bulu, tetapi birokrasi dan rantai proyek selalu menemukan cara untuk… tetap untung. @dimas






