Tabooo.id: Deep – “Air habis. Lubang tetap ada.” Kalimat itu muncul di benak setiap orang yang membaca kabar OTT hakim Depok. Sebuah lubang moral yang tak pernah ditambal, meski negara menuangkan tunjangan lebih besar dari sebelumnya. Di ruang rapat yang sepi, seorang hakim menatap layar rekeningnya, angka baru menari-nari. Sementara di luar, rakyat menunggu keadilan. Tidak semua lubang bisa ditutup uang, dan tidak semua angka menenangkan nurani.
Niat Baik di Balik Angka
Presiden Prabowo Subianto menaikkan tunjangan hakim dengan niat jelas agar para penjaga keadilan hidup layak dan berdiri tegak tanpa menengadah pada amplop. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2025 menaikkan tunjangan dari Rp 46,7 juta hingga Rp 110,5 juta per bulan.
Dengan logika sederhana, uang yang cukup seharusnya mencegah godaan. Memberikan gaji memadai bagi hakim adalah investasi moral. Negara berharap integritas tumbuh ketika kebutuhan dasar terpenuhi. Namun, kenyataan menunjukkan wajah lain. Tunjangan yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjadi lampu hijau bagi kerakusan. Air jernih itu jatuh ke bejana berlubang. Alih-alih menahan nafsu, uang memperluas imajinasi untuk mengambil lebih jauh.
Uang Mengubah Makna Amanah
Ketua PN Depok I Wayan Eka Mariarta dan Wakil Ketua PN Depok Bambang Setyawan menjadi simbol ironi ini. Mereka dan beberapa orang lain ditangkap KPK terkait pengurusan eksekusi lahan. Pada praktiknya, tunjangan baru yang seharusnya menutup celah godaan berubah menjadi bantalan untuk keberanian yang salah arah.
Selain itu, sebagian orang melihat rekening menebal sebagai kesempatan untuk naik kelas. Bukan lagi soal amanah, melainkan soal hak yang diperluas menjadi kebebasan. Kenaikan tunjangan tidak menahan kerakusan, ia justru memberi keberanian untuk melampaui batas. Kerakusan tidak berhenti ketika kebutuhan terpenuhi, melainkan ketika rasa malu masih hidup. Sayangnya, rasa malu itu telah lama pensiun dari hati mereka yang tertangkap. Mereka tidak mengambil karena lapar; mereka mengambil karena selera lebih cepat daripada moral mereka tumbuh.
Wajah Lain dari Gaji Mahal
Selain mereka yang tertangkap, banyak hakim lain tetap bergulat dengan godaan yang sama. Setiap hari, mereka menandatangani putusan dan menatap angka di rekening. Tunjangan tinggi memberi kenyamanan, tetapi kenyamanan itu dapat berubah menjadi kecanduan.
Uang tidak mengajarkan moral, ia hanya aksesoris mewah untuk panggung yang sama. Jam tangan mahal tidak membuat orang yang terbiasa terlambat tiba tepat waktu. Kebiasaan lama tetap mengakar, meski dompet penuh. Di sisi lain, masyarakat hanya melihat konferensi pers KPK, borgol, dan berita OTT. Mereka jarang menyadari perjuangan batin para hakim yang berjuang menahan godaan. Sistem menunggu mereka gagal, bukan karena uang, tapi karena keteladanan tidak sampai.
Apa yang Disembunyikan Sistem
Tabooo.id menelisik lebih jauh. Sistem sering berpura-pura bersih, tapi ia hanya memperindah panggung. Lampu panggung menyala terang, namun aktor tetap mengulang kebiasaan lama. Kita membahas gaji, tunjangan, dan angka-angka, tetapi lupa memanggil nurani.
Selain itu, kenaikan tunjangan hanyalah pelumas bagi kerakusan yang ada. Memberi lebih banyak uang kepada orang tanpa pembenahan etika sama dengan memberi bahan bakar kepada api yang sudah menyala. Dengan kata lain, negara memperbaiki gizi dompet, tetapi membiarkan anemia nurani tetap hidup. Tidak ada mekanisme yang menekankan: integritas bukan produk gaji, tetapi hasil dari rasa malu, keteladanan, dan disiplin moral.
Kita percaya bahwa integritas tumbuh dari slip gaji, bukan dari latihan menahan godaan. Setiap kenaikan tunjangan akan berakhir sama janji mulia di awal, OTT di akhir. Itulah ironi yang tersimpan dalam angka dan laporan tahunan.
Saat Kerakusan Menjadi Sistem
Hari ini, tunjangan naik. Besok, ekspektasi ikut naik. Lusa, batas wajar kabur. Sekadar menerima berubah menjadi lumrah. Lumrah berubah menjadi hak. Hak berubah menjadi keberanian. Akhirnya, keberanian itu berhenti hanya ketika borgol menutup tangan, bukan karena kesadaran muncul.
Kita kaget setiap kali OTT terjadi. Namun, kerakusan sudah berjalan lama sebelum kamera KPK menyorot. Orang yang tertangkap tidak lapar mereka rakus karena kesempatan lebih besar dari moral mereka sendiri. Air jernih yang dituang ke bejana berlubang tidak menahan kebocoran. Lalu kita tetap bertanya mengapa tubuh keadilan lemah meski tunjangannya tinggi? Jawabannya sederhana: uang tidak bisa menggantikan watak.
Refleksi: Nilai Moral vs Nilai Nominal
Cerita Depok bukan hanya soal hakim, bukan hanya soal PP Nomor 42 Tahun 2025, bukan hanya soal angka di rekening. Cerita ini soal manusia, pilihan, dan moral yang tidak sampai. Sistem memberi aksesoris, tetapi lupa menanam fondasi.
Kita mempercantik panggung, namun naskahnya tetap buruk. Gaji dinaikkan, tetapi rasa malu tidak tumbuh. Angka bertambah, tapi nurani tetap kosong. Ketika panggung runtuh, kita menyalahkan lampu, bukan aktor yang terbiasa menari tanpa kendali.
Penutup yang Menggugah
Niat baik presiden memberi tunjangan lebih besar tidak salah. Yang salah adalah mengirim pesan moral ke rekening, bukan ke hati. Memberikan jam tangan mahal kepada orang yang selalu terlambat tidak akan membuatnya disiplin. Begitulah uang, cantik di luar, tetapi kosong dari makna jika tidak diimbangi etika.
OTT hanyalah epilog yang kita lihat. Cerita sesungguhnya terjadi di meja hakim, di ruang keputusan, di benak manusia yang bergulat dengan diri sendiri.
Jika niat baik dibalas kerakusan, jangan salahkan niat. Salahkan ilusi bahwa uang bisa menggantikan watak. @dimas





