Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Trump Ancam Tarif 100 Persen ke Kanada Jika Kerjasama Dengan China

by dimas
Januari 25, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memanaskan perang dagang global. Kali ini, ia mengarahkan ancaman langsung ke Kanada, tetangga dekat sekaligus mitra dagang terbesar Amerika Serikat. Melalui unggahan di platform Truth Social, Sabtu (24/1/2026), Trump memperingatkan Perdana Menteri Kanada Mark Carney agar tidak menjalin kesepakatan dagang dengan China.

Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan tarif impor hingga 100 persen terhadap seluruh produk Kanada jika Ottawa membuka akses bagi China ke pasar AS melalui jalur Kanada. Ia menuduh Carney ingin menjadikan Kanada sebagai “pelabuhan pengiriman” bagi produk-produk China yang berusaha menghindari hambatan dagang Washington.

“Kalau Carney berpikir dia bisa menjadikan Kanada jalur belakang bagi China ke Amerika Serikat, dia sangat salah,” tulis Trump, seperti dikutip Wall Street Journal.

Bagi Trump, ancaman tarif bukan sekadar tekanan politik. Ia memandang setiap celah perdagangan sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan ekonomi AS. Karena itu, ia memilih menutupnya dengan kebijakan tarif tinggi.

Retorika Keras dan Tekanan Psikologis

Trump tidak berhenti pada ancaman tarif. Ia melontarkan pernyataan yang menyentuh harga diri nasional Kanada. Trump menilai China bisa “melahap Kanada hidup-hidup” dan merusak ekonomi, tatanan sosial, hingga cara hidup masyarakatnya.

Ini Belum Selesai

Haul Ki Ageng Tarub: Perkuat Budaya dan Wisata Religi

OTT Bupati Pemalang, KPK Kembali Bongkar Korupsi Kepala Daerah

Dalam pidato di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, Trump kembali menyindir Kanada. Ia menyebut negara itu “hidup karena Amerika Serikat” dan menilai Carney tidak menunjukkan rasa terima kasih. Nada keras ini memperpanjang ketegangan diplomatik antara dua negara yang selama puluhan tahun dikenal memiliki hubungan paling stabil di Amerika Utara.

Kini, isu dagang berubah menjadi arena perebutan pengaruh geopolitik.

Strategi Carney di Tengah Ketidakpastian AS

Di sisi lain, Mark Carney mengambil langkah berbeda. Mantan gubernur bank sentral itu menjadikan diversifikasi perdagangan sebagai prioritas utama pemerintahannya. Di Davos, Carney menyerukan kerja sama negara-negara kecil agar mampu menghadapi tekanan ekonomi dari kekuatan besar, termasuk Amerika Serikat.

Carney menilai ketergantungan berlebihan pada satu mitra dagang menyimpan risiko besar. Risiko itu semakin terasa di tengah kebijakan perdagangan AS yang kerap berubah. Data sebelum Trump menjabat untuk kali kedua menunjukkan sekitar 20 persen perekonomian Kanada bergantung pada perdagangan dengan AS. Angka ini membuat Ottawa rentan terhadap guncangan kebijakan Washington.

Ottawa Membantah, Beijing Tetap Masuk Peta

Pemerintah Kanada membantah tudingan Trump terkait rencana kesepakatan dagang bebas dengan China. Menteri Perdagangan Kanada untuk urusan AS, Dominic LeBlanc, menegaskan bahwa Ottawa hanya menyelesaikan sengketa tarif tertentu, bukan membuka perjanjian perdagangan baru.

LeBlanc menekankan bahwa Kanada tetap berkomitmen menjaga kemitraan ekonomi dan keamanan dengan Amerika Serikat demi kepentingan pekerja dan pelaku usaha di kedua negara. Namun, fakta menunjukkan Kanada dan China baru saja menyepakati penyelesaian sengketa pada 16 Januari lalu. Kesepakatan itu mencakup kendaraan listrik buatan China dan produk pertanian Kanada.

Carney menyebut kesepakatan tersebut sebagai awal kemitraan strategis baru dengan Beijing. Pernyataan ini jelas menarik perhatian Gedung Putih.

Taruhan Besar Menjelang Renegosiasi USMCA

Ketegangan ini muncul pada momen krusial. Pakta dagang AS-Meksiko-Kanada (USMCA) dijadwalkan untuk dinegosiasikan ulang tahun ini. Sejumlah analis menilai langkah Kanada mendekat ke China bisa menjadi kartu tawar. Namun, langkah itu juga menyimpan risiko besar.

Profesor politik internasional Universitas Carleton, Fen Hampson, menilai Kanada tengah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika renegosiasi USMCA gagal memberi hasil menguntungkan. Ia mengingatkan bahwa strategi ini bisa memperkeras sikap Washington.

“Kanada membuat keadaan menjadi sulit,” ujar Hampson. Ia menambahkan bahwa Kanada merupakan pasar ekspor terbesar bagi Amerika Serikat. Eskalasi konflik, menurutnya, berpotensi melukai kedua pihak.

Dampak Langsung bagi Warga dan Dunia Usaha

Di balik saling sindir elite politik, dampak paling nyata akan dirasakan pelaku usaha dan pekerja. Nilai perdagangan AS-Kanada mencapai sekitar 1 triliun dollar AS per tahun. Angka ini jauh melampaui nilai perdagangan Kanada-China yang berada di kisaran 80 miliar dollar AS.

Tarif 100 persen bukan sekadar ancaman politik. Kebijakan itu bisa memukul rantai pasok, menaikkan harga barang, dan mengancam lapangan kerja. Perang dagang yang kian melebar juga mengirim sinyal jelas ke dunia: globalisasi tak lagi berjalan mulus, dan negara-negara kecil harus memilih di tengah tekanan geopolitik.

Pada akhirnya, pertaruhan terbesar bukan soal siapa yang paling keras bersuara. Pertanyaannya adalah siapa yang paling siap menanggung akibatnya. Dalam perang dagang, pihak yang paling sering kalah justru mereka yang tak pernah ikut menekan tombol tarif. @dimas

Tags: chinaDagangEkonomi IndonesiaGeopolitikImporInternasionalKanadaperangPerdaganganTarif

Kamu Melewatkan Ini

Mundurnya Perry Warjiyo, Alarm bagi Independensi Bank Indonesia

Mundurnya Perry Warjiyo, Alarm bagi Independensi Bank Indonesia

by dimas
Juli 28, 2026

Mundurnya Perry Warjiyo memicu pertanyaan tentang independensi Bank Indonesia. Di tengah tekanan rupiah, kepercayaan pasar menjadi ujian terbesar bagi bank...

QRIS Tembus China: Jembatan Baru Diplomasi Ekonomi Asia

QRIS Tembus China: Jembatan Baru Diplomasi Ekonomi Asia

by dimas
Juli 27, 2026

QRIS kini dapat digunakan di seluruh daratan China. Langkah ini memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia, memperluas konektivitas pembayaran digital, dan mempertegas...

Perry Warjiyo Mundur: Mampukah BI Menjaga Rupiah?

Perry Warjiyo Mundur: Mampukah BI Menjaga Rupiah?

by dimas
Juli 27, 2026

Pengunduran diri Perry Warjiyo menjadi ujian baru bagi Bank Indonesia. Mampukah BI menjaga stabilitas rupiah, mempertahankan kepercayaan pasar, dan tetap...

Next Post
Konsep Otomatis

Langkah Terhenti, Tim Voli Duduk Indonesia Bawa Pulang Medali Perak

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id