Tabooo: Deep – Setiap 28 Oktober, linimasa kita berubah jadi museum digital. Logo bertema merah-putih, video marching band sekolah, potongan pidato penuh semangat, hingga tagar #SumpahPemuda berseliweran di Instagram dan TikTok.
Di bawah caption “Pemuda Harapan Bangsa”, seseorang menulis: “Kita harus bersatu seperti para pendahulu!”
Tapi di kolom komentar, orang lain menulis sinis: “Zaman sekarang bersatu buat apa, semua juga sibuk cari cuan.”
Delapan puluh sembilan tahun setelah Kongres Pemuda II, “sumpah” terasa seperti kata yang kehilangan daya magisnya. Dulu, ia lahir dari keberanian menantang penjajah; sekarang, sering hanya jadi formalitas upacara pagi atau template caption Hari Nasional. Namun, apakah itu berarti semangatnya ikut mati? Atau justru ia sedang berubah bentuk berpindah ke ruang yang lebih cair, lebih digital, lebih personal?
Sedikit Sejarah, Banyak Nyali
Kita mungkin sering mengucap tiga kalimat sakral itu, tetapi jarang membayangkan suasana malam saat ikrar itu diucapkan.
28 Oktober 1928, di sebuah gedung di Kramat, Jakarta, puluhan pemuda dari berbagai suku dan agama berkumpul. Mereka datang dengan mimpi berbeda, tapi dengan satu keresahan yang sama: Indonesia terlalu besar untuk terus dijajah.
Sebelumnya, Kongres Pemuda I (1926) sudah mencoba menyatukan visi, tapi gagal karena perdebatan istilah “bahasa Melayu” versus “bahasa Indonesia”.
Baru dua tahun kemudian, generasi yang lebih berani dipimpin Soegondo Djojopoespito, Muhammad Yamin, dan Amir Sjarifoeddin mengubah rapat menjadi revolusi simbolik.
Di ruangan itu, untuk pertama kalinya, nama “Indonesia” diucapkan sebagai identitas bersama.
Malam itu juga, lagu Indonesia Raya karya W.R. Supratman diperdengarkan. Suara biola dan tepuk tangan menjadi saksi kelahiran gagasan bangsa.
Mereka tidak punya gawai, tidak punya trending topic, tapi punya hal yang hari ini terasa langka: keberanian untuk sepakat.
Zaman yang Sama, Bahasa yang Berbeda
Kini, sembilan dekade kemudian, “persatuan” bukan lagi proyek politik, melainkan algoritma sosial. Kita hidup di masa ketika semua orang bisa bicara, tapi jarang benar-benar mendengarkan. Sumpah Pemuda dulu menyatukan bangsa lewat bahasa; sekarang, kita justru terpisah karena bahasa yang sama diwarnai sarkas, debat komentar, dan narasi “kami versus mereka”.
Di Twitter, anak muda berdebat soal nasionalisme: apakah cinta tanah air masih relevan ketika semua orang ingin “kabur ke luar negeri”?
Di TikTok, nasionalisme muncul lewat remix lagu perjuangan dengan beat lo-fi dan transition aesthetic.
Semangat itu belum mati, hanya berubah gaya bicara.
Kalau dulu pemuda berikrar di ruangan sempit, sekarang mereka bersuara di ruang maya, lewat konten, karya, dan tagar.
Generasi sekarang tidak lagi berdiri tegap di lapangan upacara, tapi tetap bersumpah dengan cara mereka sendiri: lewat desain, musik, film, dan aktivisme digital.
Mereka mungkin tidak mengucapkan “satu bangsa, satu bahasa”, tapi mereka mengekspresikan keberagaman itu lewat kolaborasi lintas budaya dan semesta online yang saling terhubung.
Setiap generasi punya sumpahnya sendiri.
Generasi 1928 bersumpah untuk merdeka dari penjajahan.
Generasi sekarang bersumpah untuk tetap waras di tengah bisingnya informasi, untuk tetap peduli ketika dunia sibuk berlomba menjadi viral.
Kita mungkin tidak lagi berdiri di bawah bendera sambil berteriak “Indonesia!”. Tapi mungkin, setiap kali kita menolak menyebar hoaks, memilih berdiskusi daripada berdebat, atau tetap mencintai negeri ini meski kecewa di situlah Sumpah Pemuda hidup kembali, diam-diam, tapi nyata.
Karena pada akhirnya, menjadi pemuda bukan soal usia, tapi tentang keberanian untuk terus percaya:
bahwa meski dunia berubah, Indonesia tetap bisa punya satu kata yang sama bersatu. @jeje




