Sukarno, Orang Kiri, Revolusi & G30S 1965 bukan buku yang datang untuk menenangkan. Buku ini justru membuka luka lama yang belum pernah benar-benar selesai. Ia memaksa kamu mempertanyakan ulang satu hal mendasar: siapa sebenarnya Sukarno yang selama ini kamu kenal?
Tabooo.id: Tabooo Book Club – Buku ini tidak datang untuk memuja. Buku ini datang untuk mengganggu cara kamu berpikir.
Dalam buku Sukarno, Orang Kiri, Revolusi & G30S 1965, Ong Hok Ham tidak melihat Sukarno sebagai sosok hitam-putih. Sebaliknya, ia membongkar lapisan yang narasi resmi selama ini sembunyikan. Ia menempatkan Sukarno bukan sebagai simbol, tapi sebagai manusia.
Sukarno: Antara Mitos dan Realitas
Sejak awal, buku ini menegaskan satu hal, Sukarno adalah figur kompleks. Ia bukan hanya pemimpin revolusi. Namun juga produk zaman, konflik, dan tekanan politik.
Di bagian awal (Sukarno: Mitos dan Realitas, halaman 1), Ong Hok Ham langsung menegaskan bahwa Sukarno bukan sekadar tokoh sejarah. Ia menunjukkan bagaimana kekuasaan dan kebutuhan politik membentuk Sukarno menjadi sebuah konstruksi narasi.
Namun, di sinilah konflik muncul.
Apakah kita mengenal Sukarno yang asli? Atau hanya versi yang sudah “dipoles”?
Nasionalisme, Kiri, dan Tuduhan Ideologi
Banyak yang melabeli Sukarno sebagai “orang kiri”. Tapi buku ini tidak langsung mengiyakan.
Sebaliknya, Ong Hok Ham menunjukkan bahwa Sukarno justru memainkan banyak spektrum ideologi sekaligus, di antaranya nasionalisme, Islamisme, dan marxisme.
Masalahnya, publik sering menyederhanakan itu.
Padahal, dalam konteks sejarah, Sukarno bukan ideolog murni. Ia adalah politisi yang membaca momentum.
Dan di titik ini, narasi mulai retak.
Informasi Buku

Judul: Sukarno, Orang Kiri, Revolusi & G30S 1965
Penulis: Ong Hok Ham
Penerbit: Komunitas Bambu
Tahun Terbit: 2009
Kota Terbit: Jakarta
Jumlah Halaman: ±210 halaman
ISBN: 979-3731-52-4
Kategori: Sejarah, Politik Indonesia, Biografi Tokoh
Bahasa: Indonesia
Dimensi Buku: ±14 x 21 cm
G30S 1965: Sukarno di Tengah Badai
Bagian paling berat muncul ketika buku masuk ke periode G30S 1965.
Bukan sekadar peristiwa politik. Ini adalah titik di mana Sukarno kehilangan kendali atas narasi yang selama ini ia bangun.
Dalam refleksi penulis, Sukarno justru menjadi korban dari konflik yang ia sendiri tidak sepenuhnya kuasai.
Ironisnya?
Figur yang membangun negara ini justru menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya—dan pada akhirnya kehilangan kendali.
Ini Bukan Sekadar Sejarah
Buku ini tidak sekadar bercerita tentang Sukarno.
Buku ini menunjukkan bagaimana kekuasaan membentuk sejarah. Bagaimana mereka memilih narasi. Dan bagaimana mereka mengarahkan publik untuk percaya.
Karena pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang masa lalu. Melainkan tentang siapa yang mengontrol cerita.





