Di satu sisi, seorang suami memilih aman di bawah kekuasaan. Namun di sisi lain, sang istri justru mengangkat senjata. Ironisnya, konflik itu tidak hanya terjadi di medan perang tetapi juga di dalam rumah mereka sendiri.
Tabooo.id: Edge – Pada 1825–1830, Jawa terbakar oleh Perang Diponegoro. Saat banyak bangsawan mencari selamat, Raden Tumenggung Yudokusumo I justru mengambil posisi yang stabil bekerja sama dengan kolonial.
Namun, berbeda arah, istrinya, Raden Ayu Yudokusumo, memilih melawan. Ia tidak menunggu. Ia tidak diam. Ia langsung bergerak.
Menurut sejarawan Peter Carey:
“Perempuan dalam lingkaran Diponegoro tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga aktor nyata dalam strategi dan logistik perang.”
Karena itu, Raden Ayu Yudokusumo tidak sekadar hadir. Ia ikut menentukan arah perlawanan.
Kontras yang Terlalu Jelas: Stabil atau Tunduk?
Pada 17 September 1825 di Ngawi, ia mengatur serangan terhadap jaringan ekonomi yang terhubung dengan kolonial. Langkah itu jelas berisiko. Namun, ia tetap maju.
Selanjutnya, pada 1827–1828, ia bergabung dengan pasukan kavaleri di bawah Sosrodilogo di wilayah Monconegoro Timur. Ia tidak bersembunyi. Ia justru berada di garis depan.
Sementara itu, sang suami tetap menjaga relasi dengan kekuasaan kolonial. Ia memilih stabilitas. Ia mempertahankan posisi.
Lalu muncul pertanyaan yang tidak nyaman Apakah stabil berarti benar? Atau justru berarti tunduk?
Perempuan yang Menolak Diam
Menurut Sartono Kartodirdjo:
“Perang Diponegoro adalah bentuk perlawanan total rakyat Jawa, termasuk perempuan bangsawan.”
Namun, Raden Ayu Yudokusumo melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya ikut. Ia menabrak batas.
Soerjono Soekanto menegaskan:
“Perubahan sosial sering dimulai dari individu yang berani melawan norma dominan.”
Karena itu, ia tidak mengikuti peran istri pada zamannya. Ia tidak tunduk pada struktur patriarki. Sebaliknya, ia menciptakan jalannya sendiri.
Simbol yang Tidak Main-Main
Kemudian, ia mencukur rambutnya hingga gundul. Dalam budaya Jawa, rambut melambangkan kehormatan perempuan. Namun, ia melepaskan simbol itu.
Ia tidak kehilangan identitas. Ia justru memilih identitas baru.
Budayawan Goenawan Mohamad pernah berkata:
“Sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi siapa yang memilih untuk tidak tunduk.”
Dan jelas, ia memilih untuk tidak tunduk.
Kalah Fisik, Bukan Prinsip
Pada 1828 di Madiun, ia menyerah. Saat itu, kekuatan pasukan Diponegoro di wilayah timur mulai melemah.
Namun, ia tidak menyerah pada nilai yang ia pegang. Ia hanya berhenti karena situasi memaksa.
Ini Bukan Sekadar Perang
Ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini pola kekuasaan yang terus berulang. Di satu sisi, kekuasaan selalu menawarkan rasa aman. Namun di sisi lain, perlawanan selalu menuntut keberanian. Dan sering kali, konflik terbesar tidak terjadi di luar. Justru, konflik itu muncul di dalam lingkaran paling dekat yaitu keluarga.
Ini Tentang Kamu
Hari ini, bentuknya mungkin berbeda. Namun polanya tetap sama.
Kamu akan menghadapi pilihan:
- ikut arus demi aman, atau
- melawan demi prinsip
Dan sering kali, pilihan itu tidak datang dari jauh. Ia datang dari orang terdekatmu.
Siapa yang Sebenarnya Kalah?
Banyak orang menyebut sikap tunduk sebagai realistis. Sebaliknya, orang sering menyebut perlawanan sebagai nekat.
Namun, realitasnya tidak sesederhana itu.
Karena bisa jadi, yang terlihat realistis hanyalah cara halus untuk mempertahankan posisi.
Sementara itu, yang disebut nekat justru bentuk keberanian paling jujur.
Pilihan yang Tidak Netral
Akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menang. Sejarah mencatat siapa yang berani memilih. Jadi, jika kamu berada di posisi itu kamu akan ikut diam atau berdiri melawan?
Nyaman Itu Menipu
Yang paling berbahaya bukan penjajah di luar tapi kenyamanan yang membuatmu berhenti melawan. @teguh





