Kamis, Juni 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sony Masih Ngotot Jualan HP: Nostalgia, Gengsi, atau Strategi Bangkit?

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak sih kamu bertanya, “Kok Sony masih bikin HP, ya?”
Di tengah dominasi iPhone, Samsung, dan brand China yang rajin banting harga, Sony tetap berdiri. Diam-diam. Nggak ribut. Nggak pamer angka. Tapi juga nggak pamit.

Padahal, 2025 bukan tahun yang ramah buat bisnis ponsel Sony. Penjualan melempem, flagship-nya kena kritik, dan banyak orang mulai mengira Sony akan angkat tangan. Tapi bocoran terbaru justru bilang sebaliknya Sony lanjut jalan.

Bocoran Baru, Sinyal Lama yang Hidup Lagi

Basis data IMEI GSMA kembali “menyala”. Dua nama muncul Xperia 1 VIII dan Xperia 10 VIII. Blog teknologi Jepang, S-Max, mencatat setidaknya enam kode model terdaftar. Kode XQ-GE merujuk ke flagship Xperia 1 VIII, sementara XQ-GH mengarah ke kelas menengah Xperia 10 VIII.

Detail kecil ini penting. Akhiran kode menunjukkan target pasar: “44” untuk Jepang, “54” untuk Eropa, dan “74” untuk Asia di luar Jepang. Artinya, Sony masih melihat Asia sebagai medan penting meski Amerika Serikat sudah mereka tinggalkan sejak peluncuran Xperia 1 V pada 2023.

Di dunia teknologi, kemunculan di IMEI bukan sekadar formalitas. Itu tanda serius produk siap lahir.

Ini Belum Selesai

PB XIV Hangabehi Turunkan 14 Pusaka di Tengah Dualisme Keraton

Pakoe Boewono XIV Purbaya Batal Kirab Pusaka, Ada Apa?

Spesifikasi Boleh Biasa, Tapi Identitas Tetap Keras

Dari sisi dapur pacu, Sony tidak main-main. Xperia 1 VIII diprediksi memakai Snapdragon 8 Elite Gen 5, chipset yang juga menggerakkan banyak flagship terbaru. Sementara Xperia 10 VIII kemungkinan tetap bertahan dengan Snapdragon seri 6, formula aman untuk kelas menengah.

Namun, Sony tidak pernah menjual angka semata. Mereka menjual rasa. Kamera dengan DNA Alpha, layar OLED dengan sentuhan Bravia, dan pendekatan “pro” yang terasa beda dari HP lain.

Masalahnya, pendekatan ini sering terasa terlalu serius untuk pasar yang sekarang suka praktis dan murah. Di sinilah Sony kerap terpeleset.

Kenapa Sony Tetap Bertahan?

Secara bisnis, keputusan Sony terlihat nekat. Tapi secara psikologis, langkah ini masuk akal.

Sony bukan brand baru yang mencari identitas. Mereka brand lama yang menjaga gengsi. Mundur dari pasar HP berarti mengakui satu hal Sony kalah di ranah paling personal dalam hidup digital manusia modern.

Ponsel bukan cuma alat komunikasi. Ia identitas, kamera kenangan, dompet digital, bahkan teman tidur. Dengan tetap memproduksi HP, Sony menjaga eksistensi di ruang paling intim itu.

Di era Gen Z dan Milenial, konsistensi juga punya nilai emosional. Banyak orang mungkin tidak membeli Xperia, tapi mereka menghormati Sony karena tidak ikut-ikutan.

Bangkit atau Sekadar Bertahan?

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “Sony masih bikin HP atau tidak,” tapi apakah Sony mau berubah?

Harga mahal, distribusi terbatas, dan minim promosi global jadi PR lama. Jika Xperia 1 VIII dan 10 VIII hanya mengulang pola lama, Sony akan tetap hidup tapi di pinggir percakapan.

Sebaliknya, jika Sony berani menurunkan harga, memperbaiki isu teknis, dan bicara dengan bahasa pasar hari ini, peluang bangkit masih terbuka. Apalagi, kejenuhan publik pada desain dan pengalaman yang itu-itu saja mulai terasa.

Sony dan Kita yang Tak Suka Menyerah

Cerita Sony sebenarnya dekat dengan banyak orang. Brand ini seperti pekerja senior yang tak lagi viral, tapi tetap datang tepat waktu. Ia tidak trending, tapi juga tidak menghilang.

Di tengah budaya cepat sukses atau cepat tutup, Sony memilih jalur lambat. Pilihan ini mungkin tidak seksi, tapi jujur.

Lalu, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Kehadiran Xperia 1 VIII dan 10 VIII mengingatkan satu hal tidak semua yang bertahan itu ketinggalan zaman. Kadang, bertahan berarti menunggu momentum yang tepat.

Buat kamu yang lelah dengan tren serba instan, Sony mungkin bukan pilihan paling populer. Tapi ia bisa jadi simbol kecil bahwa konsistensi, meski sunyi, tetap punya tempat.

Dan siapa tahu di tengah pasar yang seragam, yang beda justru terasa paling relevan. @teguh

Tags: BangkiteropaFlagshipHPJepangKameraKonsistensiManusiaModernMomentumPasarPromosiSmartphoneSonySosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Bom Perang Dunia II: Ketika Sisa Bom Tahun 1944 Meledak di Tahun 2026

Bom Perang Dunia II: Ketika Sisa Bom Tahun 1944 Meledak di Tahun 2026

by teguh
Juni 2, 2026

Ledakan dahsyat yang mengguncang Kampung Yenures, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Minggu (31/05/2026) sore, awalnya terlihat sebagai...

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

by jeje
Mei 24, 2026

Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat...

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

Next Post
Parluh 2026: R. Moerdjoko Kembali Ketua Umum, Issoebiantoro Pimpin Dewan Pusat

PSHT Tak Ganti Nahkoda, Moerdjoko Lanjutkan Komando

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id