Tabooo.id: Regional – Parapatan Luhur (Parluh) Persaudaraan Setia Hati Terate (SH Terate) 2026 di Kota Madiun menghasilkan satu keputusan utama kontinuitas. Forum tertinggi organisasi ini kembali mempercayakan tongkat komando kepada R. Moerdjoko H.W. sebagai Ketua Umum masa bakti 2026–2031. Sementara itu, peserta Parluḥ menetapkan Issoebiantoro sebagai Ketua Dewan Pusat untuk periode yang sama.
Keputusan ini menegaskan arah organisasi menjaga stabilitas di tengah tantangan perubahan zaman.
Pleno Dua Hari, Suara dari Dalam dan Luar Negeri
Parluh SH Terate 2026 berlangsung selama dua hari dan memasuki puncaknya pada Sabtu (7/2/2026). Panitia menggelar rapat pleno di dua titik strategis di Kota Madiun Jalan Merak Nomor 10 dan 17.
Komisi A membedah AD/ART 2026 di GOR Graha Krida Budaya. Sementara itu, Komisi B merumuskan Garis-garis Besar Kebijakan Organisasi (GBKO) 2026–2031 serta menyikapi persoalan prinsipil organisasi di Pendopo Wira Tama.
Forum ini menghadirkan perwakilan seluruh cabang SH Terate se-Indonesia, ditambah utusan 36 Cabang Khusus dari berbagai negara. Fakta ini menegaskan satu hal SH Terate bukan lagi sekadar organisasi nasional, tetapi telah menjelma jaringan persaudaraan global.
Dewan Pusat Baru, Arah Kebijakan Lima Tahun
Selain menetapkan Issoebiantoro sebagai Ketua Dewan Pusat, Parluḥ juga mengukuhkan delapan anggota Dewan Pusat periode 2026–2031. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari profesional, birokrat, hingga tokoh organisasi.
Komposisi ini diharapkan memperkuat fungsi pengawasan, pembinaan, dan arah kebijakan strategis SH Terate. Dampaknya langsung terasa bagi warga: keputusan organisasi lima tahun ke depan akan lebih terstruktur dan terkendali.
Pencak Silat, Warisan Dunia dan Tanggung Jawab PSHT
Momentum Parluh 2026 tidak berdiri di ruang hampa. Sejak UNESCO menetapkan pencak silat sebagai Warisan Budaya Tak Benda dunia, beban tanggung jawab organisasi pencak silat, termasuk SH Terate, ikut melonjak.
SH Terate menegaskan komitmennya untuk menjaga pencak silat bukan hanya sebagai bela diri, tetapi juga sebagai laku budaya, etika, dan persaudaraan. Artinya, PSHT tidak cukup hanya mencetak pendekar tangguh. Organisasi ini harus memastikan nilai-nilai luhur pencak silat tetap hidup, disiplin, dan beradab di tengah globalisasi.
Bagi masyarakat, komitmen ini berarti pencak silat tidak akan direduksi menjadi sekadar tontonan atau komoditas, melainkan tetap menjadi warisan yang membentuk karakter bangsa.
Dalam sambutannya, R. Moerdjoko secara terbuka mengakui beratnya amanah yang kembali ia terima. Ia menekankan pentingnya bimbingan Dewan Pusat demi menjaga arah organisasi.
Pernyataan ini mencerminkan satu pesan penting: kepemimpinan di SH Terate tidak berjalan sendiri, melainkan bertumpu pada kolektifitas dan persaudaraan.
Ditutup dengan Sumpah Kesetiaan
Parluh SH Terate 2026 resmi ditutup dengan pernyataan simbolik yang kembali menggema,
“Selama matahari masih terbit dari timur, selama bumi masih dihuni manusia. Selama itu pula Persaudaraan Setia Hati Terate akan tetap jaya abadi selamanya.”
Kalimat ini terdengar puitis, bahkan heroik. Namun di era pengakuan dunia dan sorotan publik, tantangan SH Terate justru semakin nyata. Sebab menjaga warisan budaya jauh lebih sulit daripada sekadar mewarisi nama besar. @tabooo





