Tabooo.id: Edge – Bayangin kamu jalan di tengah kota yang katanya “pintar”, tapi sinyal HP kamu malah hilang begitu masuk parkiran. Sementara itu, CCTV di perempatan sibuk merekam kamu melamun karena lampu merahnya gak kunjung hijau. Selamat datang di era smart city konsep kota futuristik yang kadang lebih smart di brosur daripada di kenyataan.
Katanya, kota pintar itu efisien, hijau, dan serba digital. Tapi kadang hasilnya malah kayak update software gagal: loading lama, hasilnya gak keliatan, dan warga tetap stres di jalanan. Pemerintah bangga punya dashboard digital buat pantau kemacetan, tapi rakyat masih bingung kalau udah tahu macet, kenapa gak diubah?.
Kota yang Lebih Pintar dari Warganya (Katanya)
Menurut data dari Smart City Index 2024, beberapa kota di Indonesia mulai melompat ke masa depan ada sensor banjir, aplikasi pelaporan sampah, sampai lampu jalan yang bisa nyala otomatis. Tapi masalahnya, semua teknologi itu tetap butuh sinyal dan listrik. Dan dua hal itu sering absen di saat dibutuhkan.
“Smart city itu bukan cuma soal teknologi, tapi soal komunikasi,” kata Prof. Fadhillah Azhar dari ITB. Setuju banget, Prof. Tapi kadang, yang perlu dikomunikasikan dulu justru logika dasarnya buat apa bikin sistem AI buat atur lampu lalu lintas, kalau pengendaranya tetap nyalip dari trotoar?
Telko, Sang “Kabel Tak Terlihat” yang Menyambung Semua Drama
Jujur aja, di balik semua teknologi keren itu, telko alias penyedia layanan telekomunikasi adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka kayak mantan yang diam-diam masih bantu kamu login Netflix keluarga gak kelihatan, tapi kalau hilang, dunia langsung chaos.
Telko yang bikin data bisa ngalir dari sensor sampah ke dashboard wali kota. Mereka juga yang jagain koneksi IoT biar lampu jalan gak “ngelag” kayak WiFi kosan.
Cuma ya, kadang sistemnya masih suka crash pas jam sibuk. Jadi kalau tiba-tiba lampu jalan semua nyala siang-siang, ya itu mungkin server down, bukan wahyu.
IoT dan Edge Computing: Kedengeran Keren, Tapi Tetap Butuh Akal Sehat
Kata para pakar, edge computing itu masa depan: data diproses langsung di tempat, gak perlu jauh-jauh ke pusat data. Tapi di lapangan, edge ini kadang kayak ujung sabar warga makin tipis tiap kali ada update sistem tapi masalah lama belum kelar. Sensor polusi udah dipasang, tapi polusinya sendiri masih numpuk.
Aplikasi laporan jalan rusak udah ada, tapi jalanan tetap lebih banyak lubangnya daripada fitur aplikasinya.
Smart City Bukan Tentang Teknologi, Tapi Tentang Empati
Kota pintar itu idealnya bisa bikin hidup warga lebih mudah, bukan cuma bikin wali kota lebih gampang press release. Di tengah semua jargon keren AI, IoT, edge, cloud yang paling dibutuhkan justru common sense dan komunikasi yang manusiawi.
Kota gak akan jadi smart kalau masih gagal dengerin suara warganya. Kadang yang dibutuhkan bukan sistem baru, tapi kepekaan lama: dengarkan, lihat, lalu bertindak.
Karena kalau semua masalah harus diselesaikan lewat aplikasi, mungkin yang kita butuhkan bukan smart city, tapi therapy city.
Kota Pintar, Warga Masih Nanya Password WiFi
Jadi, sebelum kita sibuk bikin kota dengan AI dan sensor di mana-mana, mungkin ada baiknya cek dulu sinyal 4G di kantor kelurahan nyala gak?
Karena percuma punya kota pintar kalau warganya masih antre cuma buat bayar pajak motor.
Dan jujur aja, kota ini baru bisa disebut smart kalau kamu gak perlu nanya password WiFi di balai kota lagi. Kalau masih harus begitu ya berarti masih beta version, bro. @teguh




