Tabooo.id: Kriminal – Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap seorang siswi difabel di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Yogyakarta kini memasuki tahap penting. Polisi telah memeriksa guru berinisial IM yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.
Namun, penyidik belum menetapkan status tersangka. Polisi masih menunggu hasil pemeriksaan psikologis korban sebelum menentukan langkah hukum berikutnya.
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian menyampaikan bahwa IM sudah memenuhi panggilan penyidik.
“Yang bersangkutan sudah datang untuk memberikan keterangan sebagai saksi,” ujar Riski saat dikonfirmasi, Minggu (8/3/2026).
Penyidik terus mengumpulkan keterangan dan bukti untuk memperjelas peristiwa yang dilaporkan.
Polisi Fokus pada Kondisi Psikologis Korban
Saat ini penyidik memprioritaskan kondisi korban. Tim psikolog melakukan pemeriksaan psikologis (HPP) guna memahami dampak kejadian terhadap mental anak tersebut.
Pendekatan ini penting karena korban merupakan anak dengan kebutuhan khusus. Penyidik perlu memastikan kondisi korban sebelum melanjutkan proses hukum.
Setelah tim psikolog menyelesaikan pemeriksaan, penyidik akan menggelar perkara untuk menentukan status hukum terlapor.
“Setelah hasil pemeriksaan psikolog keluar, kami akan menggelar perkara untuk menentukan langkah selanjutnya,” jelas Riski.
Pengakuan Korban Memicu Laporan Polisi
Kasus ini terungkap setelah korban berinisial A (12) menceritakan pengalaman yang ia alami kepada ibunya.
Keluarga kemudian mencari pendampingan hukum dan memutuskan melapor ke polisi.
Pada 20 Februari 2026, keluarga korban melaporkan kasus tersebut ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Yogyakarta. Korban datang bersama orang tuanya dan didampingi tim penasihat hukum.
Penasihat hukum korban, Hilmi Miftahzen Reza, menyebut dugaan pelecehan terjadi pada November hingga Desember 2025.
“Laporan ini berkaitan dengan dugaan pelecehan seksual oleh oknum guru di salah satu SLB di Yogyakarta,” ujar Hilmi.
Dugaan Kejadian Terjadi di Lingkungan Sekolah
Korban menyebut beberapa lokasi saat menceritakan kejadian yang ia alami. Keterangan awal menunjukkan dugaan pelecehan terjadi di lingkungan sekolah.
Menurut tim kuasa hukum, sebagian peristiwa diduga terjadi di ruang kelas. Korban juga menyebut kemungkinan lokasi lain di area sekolah.
Tim hukum keluarga kini menunggu hasil penyelidikan untuk memastikan detail waktu dan lokasi kejadian.
Bagi keluarga korban, peristiwa ini menimbulkan luka mendalam. Mereka menilai tindakan tersebut melanggar etika sekaligus merusak kepercayaan siswa kepada tenaga pendidik.
Sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak. Namun dugaan pelanggaran justru melibatkan sosok yang memiliki tanggung jawab mendidik dan melindungi mereka.
Korban Mengalami Trauma
Kasus ini mendapat perhatian serius karena korban merupakan anak difabel.
Hilmi menjelaskan bahwa korban memiliki riwayat gangguan saraf sejak kecil. Kondisi tersebut membuat korban membutuhkan perhatian dan perlindungan lebih besar.
“Klien kami adalah anak difabel yang sejak kecil mengalami gangguan saraf. Karena itu kami berharap pelaku dapat diproses sesuai hukum,” kata Hilmi.
Keluarga juga melihat perubahan perilaku pada korban setelah kejadian tersebut.
Pendamping hukum korban, Reza, mengatakan korban menunjukkan tanda-tanda trauma. Kondisi tersebut membuat proses penggalian keterangan memerlukan pendekatan khusus.
“Korban mengalami trauma. Selain itu, karena berkebutuhan khusus, proses komunikasi membutuhkan metode khusus,” ujarnya.
Sorotan terhadap Perlindungan Anak di Sekolah
Kasus ini kembali mengingatkan publik tentang pentingnya perlindungan anak di lingkungan pendidikan.
Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar. Sekolah juga harus memberikan rasa aman bagi setiap siswa, terutama bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Ketika dugaan kekerasan melibatkan tenaga pendidik, kepercayaan masyarakat terhadap lingkungan sekolah langsung terguncang.
Anak difabel menghadapi risiko yang lebih besar karena mereka sering kesulitan menyampaikan pengalaman yang mereka alami.
Karena itu, masyarakat kini menaruh perhatian besar pada penanganan kasus ini.
Publik Menunggu Kejelasan Hukum
Penyidik saat ini terus mengumpulkan bukti sambil menunggu hasil pemeriksaan psikolog korban.
Keluarga berharap aparat penegak hukum memproses kasus ini secara transparan hingga pengadilan.
Kasus ini tidak hanya menyangkut satu korban. Peristiwa ini juga menyangkut rasa aman anak-anak di lingkungan sekolah.
Ketika seorang guru diduga menyalahgunakan kepercayaan siswa, publik mulai mempertanyakan keamanan sistem pendidikan itu sendiri.
Masyarakat kini menunggu jawaban dari proses hukum yang sedang berjalan seberapa aman sekolah bagi anak-anak yang paling membutuhkan perlindungan? @dimas




