Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Siswi Difabel Diduga Jadi Korban Pelecehan Guru di SLB Yogyakarta

by dimas
Maret 8, 2026
in Kriminal, Reality
A A
Home Reality Kriminal
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Kriminal – Kasus dugaan pelecehan seksual terhadap seorang siswi difabel di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Yogyakarta kini memasuki tahap penting. Polisi telah memeriksa guru berinisial IM yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.

Namun, penyidik belum menetapkan status tersangka. Polisi masih menunggu hasil pemeriksaan psikologis korban sebelum menentukan langkah hukum berikutnya.

Kasatreskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian menyampaikan bahwa IM sudah memenuhi panggilan penyidik.

“Yang bersangkutan sudah datang untuk memberikan keterangan sebagai saksi,” ujar Riski saat dikonfirmasi, Minggu (8/3/2026).

Penyidik terus mengumpulkan keterangan dan bukti untuk memperjelas peristiwa yang dilaporkan.

Ini Belum Selesai

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Polisi Fokus pada Kondisi Psikologis Korban

Saat ini penyidik memprioritaskan kondisi korban. Tim psikolog melakukan pemeriksaan psikologis (HPP) guna memahami dampak kejadian terhadap mental anak tersebut.

Pendekatan ini penting karena korban merupakan anak dengan kebutuhan khusus. Penyidik perlu memastikan kondisi korban sebelum melanjutkan proses hukum.

Setelah tim psikolog menyelesaikan pemeriksaan, penyidik akan menggelar perkara untuk menentukan status hukum terlapor.

“Setelah hasil pemeriksaan psikolog keluar, kami akan menggelar perkara untuk menentukan langkah selanjutnya,” jelas Riski.

Pengakuan Korban Memicu Laporan Polisi

Kasus ini terungkap setelah korban berinisial A (12) menceritakan pengalaman yang ia alami kepada ibunya.

Keluarga kemudian mencari pendampingan hukum dan memutuskan melapor ke polisi.

Pada 20 Februari 2026, keluarga korban melaporkan kasus tersebut ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Yogyakarta. Korban datang bersama orang tuanya dan didampingi tim penasihat hukum.

Penasihat hukum korban, Hilmi Miftahzen Reza, menyebut dugaan pelecehan terjadi pada November hingga Desember 2025.

“Laporan ini berkaitan dengan dugaan pelecehan seksual oleh oknum guru di salah satu SLB di Yogyakarta,” ujar Hilmi.

Dugaan Kejadian Terjadi di Lingkungan Sekolah

Korban menyebut beberapa lokasi saat menceritakan kejadian yang ia alami. Keterangan awal menunjukkan dugaan pelecehan terjadi di lingkungan sekolah.

Menurut tim kuasa hukum, sebagian peristiwa diduga terjadi di ruang kelas. Korban juga menyebut kemungkinan lokasi lain di area sekolah.

Tim hukum keluarga kini menunggu hasil penyelidikan untuk memastikan detail waktu dan lokasi kejadian.

Bagi keluarga korban, peristiwa ini menimbulkan luka mendalam. Mereka menilai tindakan tersebut melanggar etika sekaligus merusak kepercayaan siswa kepada tenaga pendidik.

Sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak. Namun dugaan pelanggaran justru melibatkan sosok yang memiliki tanggung jawab mendidik dan melindungi mereka.

Korban Mengalami Trauma

Kasus ini mendapat perhatian serius karena korban merupakan anak difabel.

Hilmi menjelaskan bahwa korban memiliki riwayat gangguan saraf sejak kecil. Kondisi tersebut membuat korban membutuhkan perhatian dan perlindungan lebih besar.

“Klien kami adalah anak difabel yang sejak kecil mengalami gangguan saraf. Karena itu kami berharap pelaku dapat diproses sesuai hukum,” kata Hilmi.

Keluarga juga melihat perubahan perilaku pada korban setelah kejadian tersebut.

Pendamping hukum korban, Reza, mengatakan korban menunjukkan tanda-tanda trauma. Kondisi tersebut membuat proses penggalian keterangan memerlukan pendekatan khusus.

“Korban mengalami trauma. Selain itu, karena berkebutuhan khusus, proses komunikasi membutuhkan metode khusus,” ujarnya.

Sorotan terhadap Perlindungan Anak di Sekolah

Kasus ini kembali mengingatkan publik tentang pentingnya perlindungan anak di lingkungan pendidikan.

Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar. Sekolah juga harus memberikan rasa aman bagi setiap siswa, terutama bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Ketika dugaan kekerasan melibatkan tenaga pendidik, kepercayaan masyarakat terhadap lingkungan sekolah langsung terguncang.

Anak difabel menghadapi risiko yang lebih besar karena mereka sering kesulitan menyampaikan pengalaman yang mereka alami.

Karena itu, masyarakat kini menaruh perhatian besar pada penanganan kasus ini.

Publik Menunggu Kejelasan Hukum

Penyidik saat ini terus mengumpulkan bukti sambil menunggu hasil pemeriksaan psikolog korban.

Keluarga berharap aparat penegak hukum memproses kasus ini secara transparan hingga pengadilan.

Kasus ini tidak hanya menyangkut satu korban. Peristiwa ini juga menyangkut rasa aman anak-anak di lingkungan sekolah.

Ketika seorang guru diduga menyalahgunakan kepercayaan siswa, publik mulai mempertanyakan keamanan sistem pendidikan itu sendiri.

Masyarakat kini menunggu jawaban dari proses hukum yang sedang berjalan seberapa aman sekolah bagi anak-anak yang paling membutuhkan perlindungan? @dimas

Tags: AnakDifabelKasusKeadilankekerasanKekerasan SeksualKriminalKriminal & HukumNasionalPelecehanPerlindunganStop

Kamu Melewatkan Ini

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Kampus dan Budaya Bungkam: Kenapa Korban Kekerasan Seksual Takut Bicara?

Kampus dan Budaya Bungkam: Kenapa Korban Kekerasan Seksual Takut Bicara?

by dimas
Mei 11, 2026

Budaya victim blaming dan relasi kuasa membuat banyak korban kekerasan seksual di kampus memilih diam. Di balik ruang akademik yang...

Dosen UIN Walisongo Diduga Lecehkan Mahasiswa, Korban Pilih Diam Karena Takut

Dosen UIN Walisongo Diduga Lecehkan Mahasiswa, Korban Pilih Diam Karena Takut

by dimas
Mei 11, 2026

Dosen UIN Walisongo diduga melakukan kekerasan seksual terhadap mahasiswa. Korban disebut takut melapor karena trauma. Di tengah ruang akademik yang...

Next Post
Tragedi Longsor Sampah di TPST Bantargebang, Tiga Orang Tewas

Tragedi Longsor Sampah di TPST Bantargebang, Tiga Orang Tewas

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id