Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sistem Among: Kenapa Pendidikan Kita Masih Suka Memaksa?

by Waras
Mei 4, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Ki Hajar Dewantara sudah mengingatkan sejak awal bahwa pendidikan tidak boleh memaksa. Namun, lihat sekolah hari ini. Tekanan datang dari berbagai arah dari nilai, ranking, target.

Tabooo.id: Deep – Ruang kelas itu tampak tenang. Siswa duduk rapi, buku terbuka, guru berbicara di depan. Semuanya terlihat “ideal”. Namun, di balik ketertiban itu, ada sesuatu yang jarang dibicarakan: tekanan yang diam-diam tumbuh.

Siswa takut salah. Mereka mengejar nilai, bukan memahami. Mereka patuh, tapi tidak selalu mengerti.

Ironisnya, lebih dari seabad lalu, Ki Hajar Dewantara sudah memperingatkan hal ini. Ia menolak paksaan dalam pendidikan. Ia percaya, anak harus dituntun, bukan ditekan.

Namun hari ini, kita justru melakukan sebaliknya.

Antara “Menuntun” dan “Menekan”

Ki Hajar tidak pernah berbicara tentang “mengisi” kepala siswa. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya menuntun. Dalam sistem Among, guru tidak mengendalikan. Guru mendampingi.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Ia merumuskan prinsip sederhana:
anak tumbuh sesuai kodratnya, bukan sesuai ambisi sistem.

Namun, pendidikan modern justru bergerak ke arah sebaliknya.

Sekolah menetapkan standar seragam.
Siswa mengejar angka yang sama.
Guru mengejar target, bukan memahami murid.

Akibatnya, proses belajar berubah.
Ini bukan lagi pendidikan.
Ini produksi.

Sistem Among: Filosofi yang Dilupakan

Sistem Among berdiri di atas tiga fondasi: kebebasan, kemerdekaan, dan tanggung jawab.

Guru tidak memaksa. Ia memberi ruang, lalu mempercayai setiap anak untuk tumbuh dengan caranya sendiri.

Di sisi lain, belajar tidak lagi soal cepat atau lambat.
Belajar berarti menemukan arah.

Sebaliknya, sekolah hari ini menunjukkan pola berbeda.

Sekolah melabeli anak lambat tertinggal, anak berbeda bermasalah, dan anak yang tidak patuh sebagai gagal.

Padahal, justru di situlah proses belajar berlangsung.

Pendidikan Modern: Efisien Tapi Kering

Memang, pendidikan modern membawa banyak kemajuan.

Teknologi masuk ke kelas.
Kurikulum menjadi lebih terstruktur.
Evaluasi terasa lebih terukur.

Namun, ada hal penting yang hilang: manusia.

Sistem terlalu fokus pada output.
Nilai menjadi pusat segalanya.
Ranking membentuk identitas.

Akibatnya, siswa tidak lagi belajar karena ingin tahu.
Mereka belajar karena takut gagal.

Dan pada akhirnya, rasa takut menjadi alat paling efektif untuk menekan.

Kenapa Sekolah Masih Suka Memaksa?

Jawabannya tidak sesederhana “kurikulum salah”.

Sebaliknya, masalahnya terletak pada mentalitas sistem.

Kita masih mempercayai bahwa:
disiplin harus keras,
hasil harus seragam,
dan kontrol harus ketat.

Padahal, itu cara berpikir lama.

Cara berpikir yang melihat siswa sebagai objek,
bukan sebagai manusia.

Selama pola pikir ini bertahan,
kurikulum apa pun akan menghasilkan tekanan yang sama.

Ini Bukan Soal Kurikulum. Ini Soal Cara Pandang

Setiap beberapa tahun, pemerintah mengganti kurikulum.

Nama berubah.
Struktur diperbarui.
Istilah diperhalus.

Namun, praktik di lapangan sering tidak berubah.

Guru tetap mengejar target.
Siswa tetap mengejar nilai.
Sekolah tetap mengukur dengan angka.

Artinya jelas:
masalahnya bukan pada sistem tertulis.

Masalahnya ada pada cara kita memahami pendidikan.

Dampaknya ke Kamu (Ya, Kamu)

Kalau kamu pernah merasa:
belajar itu beban,
rasa takut lebih besar dari rasa ingin tahu,
atau kamu merasa “tidak cukup pintar” karena nilai…

itu bukan kebetulan.

Sistem membentuk pengalaman itu.

Dan dampaknya tidak berhenti di sekolah.

Banyak orang dewasa takut gagal.
Mereka takut mencoba.
Mereka takut berbeda.

Semua itu sering berakar dari pendidikan yang menekan.

Ini Bukan Sekadar Sekolah. Ini Pola

Ini bukan hanya soal pendidikan.

Ini pola yang lebih besar.

Sistem yang terbiasa mengontrol akan terus menciptakan tekanan.
Sebaliknya, sistem yang takut kebebasan akan memperketat aturan.

Dan pendidikan hanya salah satu wajahnya.

Ki Hajar sudah melihat ini sejak awal.
Ia memahami bahwa pendidikan yang memaksa hanya akan melahirkan kepatuhan, bukan pertumbuhan.

Jadi, Kita Mau Terus Begini?

Sekarang, pertanyaannya bukan lagi “apa kurikulumnya”.

Melainkan:
apakah kita siap mengubah cara kita melihat manusia?

Selama kita masih melihat siswa sebagai angka,
pendidikan akan terus menekan.

Dan selama itu terjadi,
Sistem Among akan tetap menjadi idealisme…
bukan kenyataan.

Jadi, menurutmu…
kita benar-benar sedang mendidik, atau hanya melatih untuk patuh? @waras

Tags: Ki Hajar DewantoroKrisis PendidikanPendidikanPendidikan Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

Tinggal Kelas Bukan Obat Ajaib: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Mutu Pendidikan?

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana tinggal kelas kembali membuka perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Sebelum meminta siswa mengulang pelajaran, pemerintah perlu memastikan sekolah mampu...

Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas pada 2027? DPR Minta Kajian

Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas pada 2027? DPR Minta Kajian

by teguh
Oktober 13, 2026

Wacana siswa tidak otomatis naik kelas mulai 2027 kembali memantik perdebatan tentang mutu pendidikan Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR...

Sekolah Tempat Belajar, Bukan Tempat Anak Pulang Membawa Luka

Sekolah Tempat Belajar, Bukan Tempat Anak Pulang Membawa Luka

by dimas
Oktober 9, 2026

Sekolah seharusnya menjadi tempat belajar yang aman bagi anak. Dugaan perundungan terhadap bocah 7 tahun di Pemalang menjadi alarm bagi...

Next Post
Kekerasan Seksual di Pesantren Pati: Saat Ruang Aman Berubah Jadi Rawan?

Kekerasan Seksual di Pesantren Pati: Saat Ruang Aman Berubah Jadi Rawan?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id