Tabooo.id: Life – Pagi di Tanjung Priok nyaris tak pernah sunyi. Deru truk kontainer menyatu dengan klakson angkot, langkah kaki nasabah, serta suara pintu kaca yang terbuka-tutup tanpa jeda. Di tengah keramaian itu, seorang pria berseragam kuning berdiri dengan postur tegap di depan pintu masuk sebuah bank BUMN.
Wajahnya tenang, senyumnya ringan. Setiap orang yang melintas ia sambut dengan kalimat yang sama, seolah sebuah ritual kecil yang ia rawat setiap hari selamat pagi, ada yang bisa dibantu. Namanya Khoirul Anam, 28 tahun. Bagi kebanyakan orang, ia hanya satpam penjaga pintu, penjaga antrean, penjaga ketertiban. Namun, di balik seragam itu hidup dunia lain yang jarang terlihat judul-judul jurnal, daftar pustaka, kerangka buku, dan mimpi panjang tentang ruang kelas yang belum pernah ia masuki sebagai pengajar.
Rekor yang Datang dari Ruang Sempit
Pada 30 Januari 2026, Museum Rekor Dunia Indonesia mencatat nama Khoirul sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak di Indonesia. Sebanyak 13 artikel ilmiah telah terbit di jurnal nasional dan internasional atas namanya. Angka itu terasa janggal sekaligus mengusik, bukan karena kecil, melainkan karena lahir dari tempat yang jarang dikaitkan dengan dunia akademik.
Prestasi tersebut tidak muncul dari laboratorium kampus ternama atau ruang riset berpendingin udara. Sebaliknya, ia lahir dari meja kecil di sudut kamar kos, dari bangku jaga yang sunyi, serta dari waktu-waktu sisa yang biasanya habis untuk beristirahat.
Dari Tanggamus ke Dunia Akademik
Khoirul berasal dari Kabupaten Tanggamus, Lampung. Ia tidak tumbuh di keluarga akademisi. Sejak awal, ia lebih dulu mengenal kerja dibandingkan jurnal. Ketertarikan pada dunia tulis-menulis pun muncul bukan karena ambisi prestise, melainkan sebagai cara mengisi kekosongan. Di sela jam jaga, ia mulai menulis tentang mutasi satpam sebuah topik yang nyaris tak pernah dianggap penting.
Dari tulisan sederhana itu, rasa ingin tahu tumbuh. Perlahan, ia mulai membaca lebih banyak, lalu bertanya lebih jauh. Pada titik itu, ia menyadari bahwa pengalaman pekerja lapangan menyimpan pengetahuan yang selama ini jarang masuk ke ruang ilmiah.
Hidup di Antara Dua Dunia
Sehari-hari, hidup Khoirul berjalan di antara dua dunia yang kontras. Pada siang hari, ia mengatur antrean, membuka pintu, dan mengarahkan nasabah. Sementara itu, ketika malam datang, laptop menyala, layar kosong menunggu diisi, dan kalimat demi kalimat mulai tersusun.
Sejak 2019, ia menempuh S1 Manajemen di Universitas Pamulang melalui kelas karyawan. Setelah itu, ia melanjutkan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Di sisi lain, ia juga mengambil S1 Pendidikan Agama Islam di STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah. Tiga jalur pendidikan ini menuntut energi besar. Akibatnya, waktu tidur sering ia tukar dengan waktu membaca. Meski demikian, kelelahan tidak menghentikannya. Justru dari situlah disiplin tumbuh.
Mahal dan Sunyinya Jalan Publikasi
Namun, di balik romantisme perjuangan, berdiri realitas yang jauh lebih keras biaya. Publikasi ilmiah membutuhkan uang, dan jurnal bereputasi mematok tarif yang tidak ramah bagi pekerja bergaji pas-pasan. Setiap kali ingin menerbitkan artikel, Khoirul harus menghitung ulang pengeluaran. Kadang ia menunda kebutuhan pribadi, kadang pula menerima hidup dengan batas yang lebih sempit.
Dengan demikian, dunia akademik yang sering disebut sebagai ruang pencarian kebenaran ternyata memiliki gerbang ekonomi yang tinggi.
Buku sebagai Jembatan
Selain menulis jurnal, Khoirul juga menulis buku. Hingga kini, delapan bukunya telah terbit dengan ISBN dan terdaftar di Perpustakaan Nasional. Sementara itu, tiga buku lain sedang ia selesaikan melalui program kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan lewat Dana Indonesiana. Baginya, buku bukan sekadar bukti produktivitas. Lebih dari itu, buku berfungsi sebagai jembatan agar pengalaman orang kecil bisa menyeberang ke ruang baca yang lebih luas.
Di balik semua kesibukan tersebut, tersimpan satu mimpi sederhana namun terasa jauh menjadi pengajar. Ia ingin berdiri di depan kelas, berbagi pengetahuan, serta ikut mencerdaskan bangsa. Untuk sekarang, ia memilih bertahan sebagai satpam sambil menyiapkan diri perlahan. Tidak ada makian pada keadaan, tidak pula upaya mempersingkat jalan dengan mengeluh. Sebaliknya, ia berjalan pelan, tetapi konsisten.
Kisah Khoirul memantulkan wajah Indonesia yang penuh paradoks. Di satu sisi, negeri ini memuja gelar. Namun di sisi lain, akses menuju gelar itu masih terasa mahal dan berliku. Negara gemar merayakan kisah inspiratif, tetapi jarang membenahi sistem yang membuat inspirasi menjadi langka. Karena itu, Khoirul bukan sekadar cerita tentang individu luar biasa. Ia adalah tanda bahwa banyak potensi besar hidup di balik seragam-seragam yang selama ini dianggap biasa.
Menjaga Pintu, Membuka Masa Depan
Setiap pagi, seragam kuning kembali ia kenakan. Ia berdiri lagi di depan pintu bank. Orang-orang tetap memanggilnya Pak Satpam. Mungkin mereka tidak tahu bahwa pria itu menulis jurnal. Mungkin pula mereka tidak perlu tahu. Namun, di saku bajunya ada pena. Di ponselnya tersimpan draf. Di kepalanya bersemayam rencana. Ia tidak hanya menjaga pintu bank. Pada saat yang sama, ia sedang membuka pintu masa depannya sendiri.
Dan pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa hebat Khoirul. Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah mengapa perjuangan seperti ini terasa istimewa, padahal seharusnya menjadi hal yang wajar di negeri yang mengaku menjunjung tinggi pendidikan. @dimas




