Jumat, Mei 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Eskalasi Lebanon-Israel Memanas, Hizbullah Tolak Opsi Menyerah

by dimas
Februari 5, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa organisasinya tidak akan mundur menghadapi Israel. Ia menyatakan Hizbullah memilih bertahan dan melawan, bukan menyerah.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara peringatan 33 tahun berdirinya Yayasan Pendidikan dan Pelatihan Islam. Di hadapan pendukungnya, Qassem menyebut Hizbullah sedang menghadapi agresi yang ia anggap bersifat eksistensial.

“Musuh menduduki tanah kita. Tanah air ini milik kita. Kami tidak akan menyerahkan sejengkal pun sementara rakyat kami terus diserang,” ujar Qassem, pada Rabu (4/2/2026).

Nada bicara Qassem lugas dan konfrontatif. Ia ingin memastikan satu pesan sampai: Hizbullah tidak melihat konflik ini sebagai pertarungan sementara, melainkan sebagai soal hidup dan mati.

Barat, Keamanan Israel, dan Bayangan “Israel Raya”

Qassem menilai narasi Barat tentang “keamanan Israel” menyimpan agenda yang lebih besar. Menurutnya, istilah itu menjadi pintu masuk bagi ambisi memperluas wilayah Israel.

Ini Belum Selesai

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

“Ketika Barat berbicara tentang keamanan Israel, mereka sebenarnya menginginkan Israel Raya,” tambahnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan kecurigaan lama poros perlawanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Di mata Hizbullah, konflik bukan sekadar benturan militer, tetapi juga pertarungan geopolitik yang melibatkan kepentingan global.

Bagi masyarakat Lebanon, wacana ini bukan teori abstrak. Setiap eskalasi berarti risiko serangan baru, kerusakan lebih luas, dan ketidakpastian yang semakin panjang.

Pesan Keras untuk Pemerintah Lebanon

Qassem juga mengarahkan pesannya ke dalam negeri. Ia meminta para pejabat Lebanon berhenti menekan rakyat sendiri di tengah situasi genting.

“Rakyat telah berkorban begitu banyak. Anda tidak bisa menekan mereka lagi. Posisi kami jelas: bertahan, bukan menyerah,” tegasnya.

Pernyataan ini muncul di tengah tekanan internasional terhadap Lebanon agar membatasi atau melucuti senjata Hizbullah. Qassem menolak tuntutan tersebut mentah-mentah.

Menurutnya, seruan perlucutan senjata bukan bertujuan menciptakan stabilitas, melainkan membuka jalan untuk melenyapkan Hizbullah sepenuhnya.

Tuduhan: Israel Sasar Warga Sipil

Qassem menuduh Israel gagal menundukkan pasukan Hizbullah di medan tempur. Akibatnya, kata dia, Israel mengalihkan serangan ke sasaran yang lebih mudah warga sipil dan infrastruktur.

“Mereka menargetkan rumah-rumah, permukiman, dan warga sipil,” pungkasnya.

Tudingan itu sejalan dengan laporan serangan Israel di wilayah utara dan selatan Sungai Litani pada Senin (2/2/2026). Serangan tersebut menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya.

Otoritas Israel mengklaim mereka menyerang infrastruktur militer Hizbullah. Namun, dampak di lapangan menunjukkan kawasan permukiman ikut rusak, memaksa warga hidup di tengah reruntuhan dan ketakutan.

Warga Sipil di Tengah Dua Api

Eskalasi ini paling keras menghantam warga sipil Lebanon. Mereka menghadapi risiko kehilangan rumah, akses layanan dasar, dan sumber penghidupan.

Petani di wilayah selatan kesulitan mengolah lahan. Pedagang kecil kehilangan pelanggan. Anak-anak tumbuh di bawah suara drone dan dentuman ledakan.

Sementara para aktor politik berbicara tentang strategi, ideologi, dan geopolitik, warga biasa bergulat dengan satu pertanyaan sederhana apakah mereka bisa selamat hingga besok.

Konflik yang Menjauh dari Kata Selesai

Pernyataan Naim Qassem mempertegas bahwa jalan damai belum terlihat di depan mata. Hizbullah memilih bertahan. Israel terus menyerang. Barat tetap berbicara tentang keamanan.

Di tengah semua itu, rakyat Lebanon dan kawasan sekitarnya kembali menjadi catatan kaki dalam perang besar yang tak mereka rancang.

Di Timur Tengah, tampaknya yang paling konsisten bukanlah gencatan senjata, melainkan siklus kekerasan yang selalu menemukan alasan baru untuk berulang. @dimas

Tags: GeopolitikGlobalHizbullahIsraelKemanusiaanKonflik DuniaKrisis GlobalLebanonperangPolitik IndonesiaSipilTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan: Apa Isi Buku Ini?

Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan: Apa Isi Buku Ini?

by jeje
Mei 15, 2026

Sejarah Indonesia sering hadir seperti pertandingan yang hasilnya sudah ditentukan sejak awal. Ada pahlawan, ada pengkhianat. Ada pihak benar, ada...

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

by teguh
Mei 15, 2026

Saat rapat DPRD membahas stunting, kematian ibu, dan layanan kesehatan warga, publik justru melihat video anggota dewan diduga bermain game...

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

Film, Ketakutan, dan Negara: Kenapa Kritik soal Papua Selalu Jadi Ruang Sensitif?

by teguh
Mei 15, 2026

Malam itu kampus di Mataram belum benar-benar ramai. Mahasiswa baru menyiapkan layar ketika suasana berubah mendadak. Petugas keamanan mengawasi proyektor,...

Next Post
Pemerintah Bantah Isu Perombakan Kabinet

Pemerintah Bantah Isu Perombakan Kabinet

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Sepatu Kekecilan Itu Membunuh? Tragedi Siswa SMK Samarinda Bikin Publik Tersentak

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

Judol Memburu Anak-anak: 80 Ribu Bocah di Bawah 10 Tahun Terpapar

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

Pemerintah Tak Melarang Pesta Babi, Tapi Mengapa Nobar Mahasiswa Tetap Dihentikan?

Mei 14, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id