Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Satyaning Caraka: Tentang Janji yang Dikhianati, dan Kesetiaan yang Diuji di Tengah Kekacauan

by jeje
Maret 22, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Life – Di Bali, ogoh-ogoh biasanya menghadirkan simbol amarah yang kemudian dibakar. Namun di Legian, satu karya justru menyulut sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan. Satyaning Caraka tidak berhenti pada bentuk visual, melainkan mengangkat janji yang sering diucapkan, lalu diam-diam dilanggar.

Ketika Kesetiaan Jadi Cerita yang Terluka

Pada tahun 2026, para kreator memilih kisah tentang kesetiaan seorang raksasa kepada Dewa Siwa. Ia mengabdikan diri secara utuh, tetapi kemudian menghadapi gangguan dari sosok terdekatnya sendiri, yaitu istrinya.

Konfliknya memang sederhana, namun terasa akrab.

Bukan karena ancaman dari luar, melainkan karena pengkhianatan dari dalam.

Akibatnya, cerita ini terasa semakin dekat dengan realitas hari ini.

Ini Belum Selesai

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

Lahir dari Keresahan yang Kita Rasakan Diam-Diam

Satyaning Caraka tidak muncul begitu saja. Para kreator merespons kegelisahan yang nyata: manusia semakin mudah berjanji, tetapi semakin sulit menjaga kesetiaan.

Di satu sisi, relasi terasa cepat terbentuk. Namun di sisi lain, kedalamannya justru menipis. Orang mengucapkan komitmen, tetapi sering mengabaikannya.

Karena itu, tema ini seperti menyindir tanpa suara. Kita tidak kekurangan kata-kata manis. Sebaliknya, kita justru kekurangan konsistensi.

Di Balik Megahnya Visual, Ada Proses yang Tidak Romantis

Sekaa Teruna Jaya Dharma Caka 1948 dari Banjar Legian Kulod mengerjakan ogoh-ogoh ini dengan Tu Dewa sebagai konseptor utama.

Mereka tidak hanya membangun visual untuk ditonton ribuan orang, tetapi juga menghadapi proses yang penuh tekanan.

“Prosesnya kurang lebih empat bulan. Biayanya sudah tembus ratusan juta. Tapi yang paling berat bukan cuma soal uang,” kata Tu Dewa.

Selama pengerjaan, tim menghadapi berbagai hambatan.

Konstruksi sering tidak berjalan sesuai rencana. Mesin kerap bermasalah di tengah proses. Selain itu, tim juga harus terus menyesuaikan desain, sementara cuaca sering berubah tanpa kompromi.

“Kadang kita sudah siap kerja, tapi hujan datang. Kadang mesin bermasalah di tengah proses. Belum lagi perbedaan pendapat soal desain,” lanjutnya.

Karena itu, proses ini tidak lagi sekadar proyek seni.

Tim benar-benar menguji komitmen mereka sendiri.

“Di situ sebenarnya diuji, bukan cuma kemampuan bikin ogoh-ogoh, tapi juga seberapa kuat kita bertahan sama apa yang sudah kita mulai.”

Di titik inilah, makna kesetiaan tidak lagi terasa abstrak, tetapi menjadi pengalaman nyata.

Filosofi yang Tidak Nyaman, Tapi Jujur

Satyaning Caraka membawa beberapa makna utama.

Karya ini menempatkan kebenaran sebagai pijakan hidup. Selain itu, karya ini mengingatkan bahwa setiap tindakan selalu membawa konsekuensi. Di saat yang sama, prosesnya juga menegaskan pentingnya kebersamaan, bukan sekadar formalitas.

Namun, kekuatan utamanya bukan hanya pada pesan.

Karya ini justru menekan satu pertanyaan yang sulit dihindari.

Kenapa kesetiaan hari ini terasa semakin langka?

Dalam perspektif Tabooology, masyarakat seharusnya tidak menutup hal-hal yang dianggap tabu seperti ketidaksetiaan. Sebaliknya, masyarakat perlu membongkar dan memahami hal tersebut sebagai sinyal sosial. 

Melalui karya ini, pesan itu muncul tanpa perlu banyak penjelasan.

Ini Bukan Sekadar Tradisi

Banyak orang masih melihat ogoh-ogoh sebagai ritual tahunan. Ia hadir, meramaikan suasana, lalu selesai begitu saja.

Namun, Satyaning Caraka menawarkan sesuatu yang berbeda.

Karya ini tidak hanya menjadi simbol.

Ia berubah menjadi cermin.

Cermin yang memperlihatkan manusia yang mudah berjanji, tetapi sering gagal mempertahankannya.

Di tengah suara gamelan dan sorak penonton, tidak semua orang mungkin menangkap makna tersebut.

Namun satu hal tetap jelas.

Karya ini tidak sedang menceritakan raksasa.

Karya ini sedang membicarakan kita.

Lalu, pertanyaannya tetap sama.

Kalau kesetiaan mulai goyah, sebenarnya kita masih memegang apa? @jeje

Tags: Legian

Kamu Melewatkan Ini

Konsep Otomatis

Kenapa Kota Makin Ramai, Tapi Manusia Makin Sepi?

by jeje
Maret 28, 2026

Tabooo.id: Deep - Lampu kota menyala tanpa jeda. Jalanan dipenuhi kendaraan. Kafe menampung suara yang saling bertabrakan. Namun di balik...

Jalan Santai Banjar Legian Kulod: Dari Langkah Kecil ke Rasa Satu Keluarga

Jalan Santai Banjar Legian Kulod: Dari Langkah Kecil ke Rasa Satu Keluarga

by eko
Maret 22, 2026

Tabooo.id: Regional - Warga Banjar Legian Kulod merawat kebersamaan dengan cara sederhana jalan santai. Pada Minggu (22/3/2026), ratusan warga dari...

Jalan Santai Bukan Sekadar Jalan: Cara Banjar Legian Kulod Merawat Rasa Jadi “Kita”

Jalan Santai Bukan Sekadar Jalan: Cara Banjar Legian Kulod Merawat Rasa Jadi “Kita”

by jeje
Maret 22, 2026

Tabooo.id : Vibes - Pagi itu terasa berbeda. Bukan karena rutenya baru, tapi karena warganya benar-benar hadir. Jalan santai dalam...

Next Post
Lenovo Y700 Gen 5: Mini Size, Sultan Power

Lenovo Y700 Gen 5: Mini Size, Sultan Power

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id