Sampah Yogyakarta diolah menjadi listrik lewat PSEL berkapasitas 1.000 ton per hari. Akankah proyek ini mengakhiri krisis sampah Piyungan?
Tabooo.id – Selama bertahun-tahun, sampah membayangi Yogyakarta. Tumpukan sampah terus mencari ruang, sementara pemerintah harus mencari cara baru untuk mengelolanya.
Kini, Yogyakarta mencoba membalik keadaan. Pemerintah menyiapkan fasilitas yang mengolah sampah menjadi energi listrik dan membuka peluang baru bagi pengelolaan lingkungan.
Proyek itu hadir melalui kerja sama Danantara Indonesia dengan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta serta tiga pemerintah kabupaten/kota di kawasan Kartamantul.
Nota kesepahaman pembangunan instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PSEL berlangsung di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kepatihan, Kota Yogyakarta, Selasa (11/8/2026).
Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X hadir dalam agenda tersebut. Chief Executive Officer PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) sekaligus Director Investment Danantara Investment Management Fadli Rahman juga hadir.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Bupati Sleman Harda Kiswaya, dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih turut bergabung dalam kerja sama itu.
Tiga daerah tersebut menghadapi persoalan yang sama: ke mana sampah harus pergi?
Piyungan dan Krisis Sampah yang Belum Selesai
Selama ini, TPST Piyungan menjadi tempat pengolahan akhir sampah dari Yogyakarta, Sleman, dan Bantul.
Namun, kapasitas fasilitas itu penuh sejak 2024. Pemerintah kemudian menutup TPST Piyungan.
Penutupan tersebut memaksa ketiga daerah mencari cara masing-masing. Mereka mencoba berbagai metode pengolahan sampah.
Masalahnya, persoalan sampah belum benar-benar hilang.
Sampah tetap muncul setiap hari. Kota terus menghasilkan limbah, sementara ruang pengolahannya terbatas.
Karena itu, PSEL hadir sebagai salah satu jawaban baru.
Pemerintah memilih lahan seluas 5,7 hektar di Kecamatan Piyungan, Bantul. Lokasinya berada di sekitar kawasan bekas TPST Piyungan.
Sultan mengatakan Yogyakarta, Bantul, dan Sleman akan menjadi pemasok sampah utama PSEL.
Sementara itu, Gunungkidul dan Kulon Progo masih mampu menangani sampah dari wilayah masing-masing.
Namun, proyek ini membawa pertanyaan yang lebih besar.
Apakah teknologi benar-benar bisa menyelesaikan masalah sampah?
Atau kita hanya mengganti cara membuang sampah dengan cara membakarnya?
Rp3 Triliun untuk Mengubah Sampah Menjadi Energi
PT Denera memperkirakan investasi proyek PSEL mencapai Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun.
Nilai tersebut bergantung pada desain teknologi yang akan digunakan.
Saat ini, proyek masih berada dalam tahap persiapan konstruksi. Tim proyek menjalankan kajian kelayakan, desain teknik, dan pematangan lahan.
Fadli menargetkan peletakan batu pertama pada Desember 2026.
Setelah itu, pembangunan fisik akan masuk tahap konstruksi pada awal 2027.
PSEL menargetkan operasi pada kuartal ketiga atau keempat 2028.
Fasilitas tersebut akan mengolah sekitar 1.000 ton sampah setiap hari.
Dari volume itu, PSEL menargetkan produksi listrik sekitar 18-20 megawatt.
PT PLN (Persero) nantinya membeli listrik tersebut sesuai ketentuan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
“Jadi itu bisa melistriki sekitar 15.000 rumah untuk kawasan Yogyakarta,” ujar Fadli.
Angka itu terlihat besar.
Namun, tantangannya juga besar.
PSEL harus memastikan pasokan sampah tetap stabil. Pengelola juga harus menjaga proses pengolahan agar tidak menimbulkan masalah lingkungan baru.
Lima Hari Mengeringkan Sampah
Fadli menjelaskan PSEL dapat mengolah sampah yang sudah dipilah maupun sampah campuran.
Pengelola akan memasukkan sampah ke dalam bunker kedap udara. Sampah kemudian menjalani proses pengeringan selama lima hari.
Proses tersebut menghasilkan air lindi.
Pengelola akan mengolah air lindi lebih lanjut hingga menghasilkan air yang tidak mencemari lingkungan.
Setelah kering, sampah menjadi bahan bakar.
Sampah kering akan memanaskan air hingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian memutar turbin untuk menghasilkan listrik.
Proses itu mengubah sampah dari beban menjadi sumber energi.
Sisa pembakaran juga tidak langsung berhenti sebagai limbah.
Pengelola akan memproses abu atas dan abu bawah lebih lanjut. Fadli menyebut pengelola akan menggunakan standar Eropa dalam proses tersebut.
Di atas kertas, sistem ini terlihat seperti lingkaran baru.
Sampah masuk sebagai masalah. Teknologi mengolahnya menjadi energi. Proses akhirnya menghasilkan listrik.
Tetapi lingkungan tidak pernah bekerja hanya berdasarkan desain di atas kertas.
Pengawasan tetap menentukan hasil akhirnya.
DIY Menghasilkan 2.000 Ton Sampah per Hari
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DIY Kusno Wibowo menyebut potensi sampah di seluruh DIY mencapai sekitar 2.000 ton per hari.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 ton akan memasok PSEL.
Kusno bahkan membuka kemungkinan mengambil pasokan dari Gunungkidul dan Kulon Progo jika kebutuhan PSEL meningkat.
“Artinya, ke depan, DIY sudah tak memiliki persoalan sampah lagi. Bahkan, kalau kurang, pasokan nanti bisa diambil dari Gunungkidul dan Kulon Progo,” ucapnya.
Pernyataan itu terdengar seperti akhir dari panjangnya cerita sampah Yogyakarta.
Namun, masalah sampah tidak hanya muncul karena kurangnya tempat pengolahan.
Masyarakat menghasilkan sampah setiap hari. Pola konsumsi ikut menentukan jumlah tersebut.
Karena itu, PSEL tidak boleh membuat masyarakat berhenti mengurangi sampah dari sumbernya.
Pemilahan tetap penting.
Pengurangan plastik sekali pakai juga tetap penting.
Bank sampah, pengomposan, dan pengelolaan sampah organik juga harus terus berjalan.
Jika masyarakat hanya melihat sampah sebagai bahan bakar, masalah lama bisa muncul dalam bentuk baru.
Teknologi membutuhkan perubahan perilaku.
Sebaliknya, perubahan perilaku juga membutuhkan sistem pengolahan yang masuk akal.
Dari Sampah ke Lapangan Kerja
Proyek PSEL juga membawa dampak ekonomi.
Kusno mengatakan pemerintah daerah tidak perlu membayar biaya pengolahan sampah kepada PSEL.
Setiap daerah hanya perlu membiayai pengangkutan sampah menuju lokasi PSEL.
Proyek tersebut juga membuka lapangan kerja.
Pada tahap konstruksi, PSEL berpotensi menyerap 800-1.000 tenaga kerja.
Ketika fasilitas mulai beroperasi, kebutuhan pekerja mencapai sekitar 100-150 orang.
Pemerintah juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.
Sosialisasi itu akan berlangsung setelah tahap perencanaan proyek selesai.
Selain menjelaskan desain teknis, pemerintah akan membahas kebutuhan tenaga kerja.
Kusno mengatakan pihaknya akan memprioritaskan warga lokal dalam proses rekrutmen.
Dengan demikian, PSEL tidak hanya membawa isu lingkungan.
Proyek ini juga menyentuh energi, ekonomi, lapangan kerja, dan tata kelola perkotaan.
Namun, semakin besar proyeknya, semakin besar pula tuntutan publik terhadap transparansi.
Warga perlu mengetahui bagaimana teknologi bekerja.
Mereka juga perlu mengetahui bagaimana pengelola mengawasi emisi dan menangani sisa proses pengolahan.
Piyungan Tidak Boleh Sekadar Berganti Fungsi
Proyek PSEL DIY menjadi satu dari 11 proyek serupa yang berjalan di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Fadli, tiga PSEL tahap awal sudah berjalan di Denpasar Raya, Bogor Raya, dan Kota Bekasi.
Yogyakarta kini masuk ke dalam eksperimen besar tersebut.
Eksperimen itu membawa gagasan sederhana: mengubah sampah menjadi energi.
Namun, keberhasilannya tidak hanya bergantung pada mesin.
Pemerintah harus memastikan teknologi berjalan sesuai standar. Pengelola harus menjaga lingkungan. Masyarakat harus tetap mengurangi sampah dari sumbernya.
Di titik inilah Piyungan menghadapi ujian sebenarnya.
Piyungan tidak boleh sekadar berganti fungsi.
Dulu kawasan itu menjadi simbol persoalan sampah Yogyakarta.
Kini kawasan yang sama mendapat peluang menjadi simbol perubahan.
Ini bukan sekadar proyek mengolah 1.000 ton sampah setiap hari. Ini ujian apakah teknologi, kebijakan, dan perilaku publik bisa berjalan dalam satu sistem.
Bagi warga Yogyakarta, dampaknya sangat dekat.
Jika proyek berjalan baik, sampah yang selama ini menjadi beban bisa menghasilkan energi.
Proyek itu juga dapat membuka lapangan kerja dan mengurangi tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah daerah.
Namun, jika pengawasan lemah, masalah lama hanya berganti bentuk.
Dulu pertanyaannya sederhana:
“Sampah ini mau dibuang ke mana?”
Kelak pertanyaannya harus lebih berani:
“Kenapa kita terus menghasilkan sampah sebanyak ini?”
Yogyakarta mungkin sedang menyiapkan pembangkit listrik dari sampah.
Namun, masa depan kota tidak hanya bergantung pada mesin.
Masa depan itu juga bergantung pada keberanian kita mengubah kebiasaan. @dimas








