Di tengah arus modernisasi kota yang terus bergerak cepat, sekaligus di tengah perdebatan panjang tentang posisi perempuan dalam ruang publik, satu pertanyaan kembali muncul. Ketika kebaya tidak lagi sekadar busana, melainkan berubah menjadi pernyataan sikap, apakah ia masih sebatas perayaan budaya tahunan, atau justru telah berkembang menjadi bentuk perlawanan sosial yang lebih halus terhadap batas lama yang selama ini membatasi ruang perempuan?
Tabooo.id: Regional – Yogyakarta kembali menjadi sorotan dalam peringatan Hari Kartini. Pada Senin (20/4/2026), puluhan perempuan dari Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia bersama Paguyuban Onthel Djogjakarta menggelar kegiatan “Kartini Bersepeda Kembali” di kawasan Simpang Tugu, Yogyakarta. Mereka mengenakan kebaya dan bersepeda di ruang publik kota. Dengan demikian, aksi ini tidak hanya menghadirkan perayaan, tetapi juga membawa pesan tentang kesetaraan yang tumbuh dari budaya.
Simpang Tugu sore itu tidak lagi sekadar menjadi persimpangan lalu lintas. Sebaliknya, kawasan tersebut berubah menjadi ruang budaya yang hidup dan dinamis. Para perempuan berkebaya hadir bukan hanya untuk merayakan Hari Kartini, tetapi juga untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam. Dengan kata lain, mereka ingin menunjukkan bahwa kesetaraan dapat lahir dari tradisi tanpa harus meninggalkannya.
Di tengah padatnya arus kendaraan, para peserta bergerak bersama. Sebagian berjalan kaki, sementara sebagian lainnya bersepeda. Selain itu, kebaya berwarna-warni yang mereka kenakan memperkuat suasana yang terbentuk. Bahkan lebih jauh, kebaya tersebut berubah menjadi simbol identitas yang mereka bawa dengan rasa bangga dan kesadaran penuh.
Kebaya, Sepeda, dan Ruang Publik yang Dihidupkan Kembali
Kegiatan ini digagas oleh Paguyuban Onthel Djogjakarta bersama Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia. Oleh karena itu, dua elemen berbeda sepeda onthel dan kebaya Jawa dipertemukan dalam satu ruang makna. Di satu sisi, sepeda menghadirkan nostalgia. Di sisi lain, kebaya menghadirkan identitas budaya perempuan Jawa. Dengan demikian, keduanya menyatu dalam satu pesan yang sama perempuan berhak hadir dan bergerak di ruang publik.
Selain itu, lagu “Ibu Kita Kartini” turut menggema di tengah kegiatan. Tidak hanya itu, pembacaan puisi juga mengiringi momen tersebut. Melalui cara itu, para peserta kembali menghidupkan ingatan tentang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam membuka jalan kesetaraan bagi perempuan Indonesia.
Lebih lanjut, seorang perempuan memimpin paduan suara di tengah keramaian Simpang Tugu. Suaranya menembus riuh kota. Karena itu, momen tersebut tidak hanya menjadi simbol perayaan, tetapi juga penegasan bahwa ruang publik kini semakin terbuka bagi perempuan.
Kebaya sebagai Identitas yang Bergerak
Sementara itu, Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia Yogyakarta, Margaretha Tinuk Suhartini (56), menegaskan bahwa kebaya tidak hanya berfungsi sebagai pakaian tradisi. Sebaliknya, ia menyebut kebaya sebagai identitas yang terus hidup dan bergerak mengikuti perkembangan zaman.
“Kami memakai kebaya setiap hari. Selain itu, Kartini modern harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman,” tegas Margaretha.
Dengan pernyataan tersebut, ia menegaskan bahwa kebaya tidak lagi berhenti pada simbol seremoni. Justru sebaliknya, kebaya kini hadir di jalan, di komunitas, dan di ruang sosial sebagai bentuk ekspresi perempuan masa kini.
Dari Kraton hingga Orkestra Perempuan
Di sisi lain, semangat Hari Kartini juga terasa di lingkungan Kraton Yogyakarta. Yogyakarta Royal Orchestra menggelar latihan akhir di Gedung Sasono Hinggil Dwi Abad. Menariknya, hampir seluruh musisi yang terlibat adalah perempuan.
Mereka mengenakan kebaya hitam dengan kain batik. Oleh karena itu, suasana latihan terasa tidak hanya khidmat, tetapi juga kuat secara visual. Di balik alunan musik yang mereka siapkan, tersimpan pesan yang sama perempuan kini hadir secara penuh di ruang seni dan budaya.
Selain itu, para abdi dalem turut membantu proses persiapan. Mereka mengatur busana serta rambut para musisi. Dengan demikian, terlihat jelas pertemuan antara tradisi keraton dan semangat Kartini modern dalam satu ruang yang saling melengkapi.
Kartini Hari Ini, Bukan Sekadar Simbol
Pada akhirnya, Hari Kartini setiap 21 April selalu menjadi ruang refleksi. Namun demikian, di Yogyakarta, peringatan ini tidak berhenti pada seremoni. Sebaliknya, ia berkembang menjadi gerakan budaya yang hidup di ruang publik.
Kebaya, sepeda, musik, dan perempuan saling bertemu dalam satu ruang yang sama. Akibatnya, lahirlah narasi baru tentang kesetaraan yang tidak hanya dibicarakan, tetapi juga dijalankan secara nyata.
Dengan demikian, pertanyaan tentang Kartini hari ini tidak lagi berhenti pada sejarah masa lalu. Justru sebaliknya, pertanyaan itu bergerak ke masa kini dan masa depan.
Dan pada akhirnya, mungkin jawaban itu tidak tertulis dalam buku sejarah. Namun demikian, jawaban itu sedang berputar pelan di Simpang Tugu, di antara pedal sepeda dan langkah perempuan berkebaya yang mengisi ruang publik Yogyakarta hari itu. @dimas






