Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rusia Ancam Respons Militer jika Barat Tambah Pasukan di Greenland

by dimas
Februari 12, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Ketegangan di Kutub Utara kembali meningkat. Rusia secara terbuka memperingatkan negara-negara Barat agar tidak menambah kekuatan militer di Greenland. Moskow menegaskan akan membalas jika langkah itu terus berlanjut, termasuk melalui respons teknis-militer.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyampaikan sikap tersebut di hadapan parlemen Rusia, pada Rabu (11/2/2026). Ia menolak setiap upaya yang mengarah pada militerisasi Arktik dan menilai langkah itu langsung menyasar kepentingan Rusia.

“Jika negara-negara Barat memiliterisasi Greenland dan membangun kemampuan militer yang mengarah pada Rusia, kami akan merespons secara memadai, termasuk dengan langkah teknis-militer,” ujar Lavrov.

Arktik Memanas, Barat Tambah Pasukan

Peringatan Moskow muncul setelah sejumlah negara Eropa mengirim detasemen kecil pasukan ke Greenland dalam beberapa pekan terakhir. Mereka memperkuat kehadiran militer di kawasan yang selama ini relatif tenang.

Situasi semakin kompleks setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali menyatakan keinginannya memperluas pengaruh Washington atas Greenland. Bulan lalu, Trump memang melunakkan retorikanya. Namun ia mengakui telah menyepakati kerangka kerja dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte guna memperkuat posisi AS di Arktik.

Ini Belum Selesai

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Sebelumnya, Trump bahkan memperingatkan bahwa Rusia atau China bisa menguasai Greenland jika AS tidak bertindak. Pernyataan itu mempertegas bahwa Arktik kini menjadi ajang persaingan terbuka antar kekuatan besar.

Arktik tidak lagi sekadar wilayah es dan salju. Jalur pelayaran baru akibat mencairnya es, cadangan mineral langka, serta posisi strategis terhadap Amerika Utara dan Eropa mendorong negara-negara besar berlomba memperkuat pengaruh.

Denmark Tertekan, Greenland Tegaskan Garis Merah

Greenland berstatus wilayah otonom di bawah kedaulatan Denmark dan dihuni sekitar 57.000 jiwa. Lavrov meminta AS, Denmark, dan Greenland menyelesaikan polemik status wilayah itu secara internal. Namun ia juga menyerang Kopenhagen dengan tudingan bahwa Denmark memperlakukan warga Greenland sebagai warga kelas dua.

Sementara itu, pemerintah Greenland terus menyampaikan pesan tegas kepada Washington. Mereka menolak setiap upaya yang mengganggu kedaulatan dan integritas wilayah. Bagi mereka, isu kedaulatan bukan bahan tawar-menawar geopolitik.

Warga Lokal Hadapi Risiko Terbesar

Jika ketegangan meningkat, warga Greenland akan merasakan dampak paling langsung. Penambahan pasukan dapat mengubah pulau yang relatif stabil menjadi titik konsentrasi militer. Aktivitas sipil bisa terganggu, biaya hidup berpotensi naik, dan rasa aman masyarakat bisa tergerus.

Di sisi lain, negara-negara Eropa Utara dan anggota NATO harus menghitung risiko konfrontasi dengan Rusia. Mereka perlu menjaga solidaritas aliansi sekaligus menghindari eskalasi terbuka. Sementara itu, Rusia memanfaatkan momentum ini untuk menunjukkan bahwa Arktik bukan wilayah kosong yang bisa dikuasai sepihak.

Kini, persaingan global bergerak ke utara. Es Arktik mungkin mencair, tetapi ketegangan politik justru mengeras. Dan ketika negara-negara besar saling mengukur kekuatan, warga lokal lagi-lagi harus bersiap menghadapi dampaknya. @dimas

Tags: ArktikDonald TrumpGeopolitikGlobalGreenlandInternasionalKeteganganmemanasNATOPolitik IndonesiaRusia

Kamu Melewatkan Ini

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

by Tabooo
Mei 12, 2026

Amir Syarifuddin pernah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia, tetapi namanya lebih sering muncul dalam bayang-bayang PKI dan Peristiwa Madiun 1948....

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

by dimas
Mei 11, 2026

Pembangunan tampak megah lewat angka pertumbuhan, gedung tinggi, dan proyek infrastruktur besar yang terus dipamerkan. Namun bagi banyak orang, kemajuan...

Next Post
Board of Peace Trump Retak di Eropa, Italia Pilih Patuh Konstitusi

Board of Peace Trump Retak di Eropa, Italia Pilih Patuh Konstitusi

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id