Tabooo.id: Bisnis – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026). Mengutip data Bloomberg, hingga pukul 10.00 WIB, rupiah berada di Rp16.980 per USD, turun 55 poin atau 0,33 persen dari penutupan sebelumnya di Rp16.925 per USD. Sementara menurut Yahoo Finance, rupiah bergerak di kisaran Rp16.914 per USD.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang hari ini. Namun, ia menilai, mata uang Garuda tetap berpotensi melemah.
“Pergerakan hari ini berada di rentang Rp16.920-Rp16.960 per USD. Minggu ini diproyeksikan Rp16.850-Rp17.100 per USD,” jelas Ibrahim.
Pasar Global Tetap Waspada
Pergerakan rupiah tidak lepas dari dinamika global. Konflik AS, Israel, dan Iran meningkat tanpa tanda mereda. Serangan rudal dan balasan militer menyebar di wilayah strategis. Akibatnya, pasar keuangan global tetap waspada terhadap gangguan pasokan energi.
Lonjakan harga minyak mentah menambah tekanan inflasi. Kondisi ini membuat bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, berhati-hati dalam kebijakan suku bunga. Investor kini menunggu data pekerjaan non-pertanian AS periode Februari, yang dijadwalkan rilis Jumat nanti, untuk membaca arah kebijakan moneter.
“Jika data lebih kuat dari perkiraan, Federal Reserve kemungkinan menunda pemangkasan suku bunga,” ujar Ibrahim.
Tekanan Fiskal Domestik
Di dalam negeri, pemerintah menghadapi tantangan rasio pajak yang rendah. Dalam sepuluh tahun terakhir, tax ratio Indonesia berada di kisaran 9–10 persen terhadap PDB. Bahkan, angka ini turun dari 10,08 persen pada 2024 menjadi 9,31 persen pada 2025.
Fitch Ratings menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, sebagian karena rendahnya rasio pajak. Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mendorong penerimaan pajak dengan implementasi Coretax, sistem administrasi perpajakan terbaru. Langkah ini juga bertujuan menutupi tekanan fiskal akibat tingginya belanja sosial seperti program MBG, yang menyerap 1,3 persen PDB untuk 2025-2029.
Kombinasi faktor global dan domestik menekan rupiah. Pihak yang paling terdampak adalah importir, pelaku usaha berbasis impor, dan konsumen yang merasakan kenaikan harga energi dan barang.
Refleksi
Melemahnya rupiah bukan sekadar angka. Ia mencerminkan ketidakpastian global dan kelemahan fiskal domestik. Pemerintah berupaya memperbaiki tax ratio dan menyesuaikan kebijakan belanja, namun masyarakat tetap merasakan tekanan sehari-hari.
Di tengah pasar yang terhubung global, rupiah bisa menjerit lebih cepat daripada kita sempat menyesuaikan diri. Kondisi ini mengingatkan bahwa dalam ekonomi modern, gejolak luar negeri dan kebijakan fiskal domestik saling memengaruhi secara langsung. @dimas





