Tabooo.id: Lifestyle – Kapan terakhir kali kamu baca buku beneran bukan caption panjang di Instagram atau utas 20 tweet di X?
Kalau jawabannya “pas zaman SMP,” ya… sama. Dulu kita rela nyumput di bawah selimut pakai senter cuma biar bisa baca lanjut sampai bab terakhir. Sekarang? Senter itu diganti cahaya layar ponsel yang terang kayak matahari tengah hari. Bedanya, yang kita “baca” adalah komentar netizen.
Kita tumbuh di era di mana membaca buku sebelum tidur dianggap kegiatan nenek-nenek. Padahal dulu itu ritual sakral: teh hangat, selimut, dan buku yang baunya kayak nostalgia. Sekarang ritual tidur versi modern: doomscrolling sampai kepala cenat-cenut dan mata kering.
“Membaca Sebelum Tidur Itu Nggak Kuno, Bro.”
Ternyata, sains sepakat bahwa membaca sebelum tidur bukan cuma kebiasaan jadul tapi bentuk self-care yang underrated. Sebuah studi tahun 2021 menunjukkan bahwa orang yang membaca buku fisik selama 30 menit sebelum tidur melaporkan tidur lebih nyenyak dan bangun lebih segar keesokan harinya.
Dr. Stephen Carstensen, pakar tidur asal Seattle, menjelaskan, “Membaca membuat otak beralih dari mode aktif ke mode istirahat.” Artinya, buku fisik bisa jadi “obat alami” buat otak yang kebanyakan notifikasi.
Masih nggak yakin? Konselor kesehatan mental Andrew Colsky menambahkan, “Gerakan membalik halaman dan mengikuti kata-kata menciptakan input sensorik yang menenangkan.” Alias: itu cara simpel buat kasih jeda ke otak dari suara dunia luar yang berisik.
Jadi, ketika dunia bilang kamu boring karena baca buku sebelum tidur, kasih tahu aja: “Maaf, aku lagi melatih kebersihan tidur yang direkomendasikan ahli.”
Kenapa Kita Berhenti Membaca?
Otak kita kecanduan hal cepat video 15 detik, berita singkat, drama instan. Kita nggak sabar lagi untuk duduk diam dan tenggelam dalam cerita 300 halaman. Bukan karena kita malas, tapi karena dunia digital melatih otak kita buat cari dopamin cepat.
Buku itu sebaliknya. Dia butuh fokus, kesabaran, dan keheningantiga hal yang sekarang jadi barang langka. Maka nggak heran kalau ketika kamu mulai baca, otakmu langsung nyari distraksi, “Coba cek notif bentar deh,” atau “Lihat dulu siapa yang nge story barusan.”
Tapi begitu kamu bisa lewat fase gelisah layar kosong itu, ada keajaiban kecil. Membaca jadi meditasi. Setiap kata kayak napas panjang, setiap bab kayak slow motion dari hari yang sibuk. Kamu pelan-pelan belajar tenang lagi tanpa harus bayar kelas yoga atau beli lilin aromaterapi mahal.
Saya coba eksperimen sederhana: baca 30 menit sebelum tidur selama seminggu. Hari pertama? Chaos. Saya terus melirik ponsel dan nunggu “30 menit” itu selesai kayak lagi lari di treadmill. Tapi di hari ketiga, saya mulai nunggu-nunggu waktu membaca. Hari ketujuh? Saya udah resmi jadi cozy girl: hoodie longgar, teh pepermin, buku Donna Tartt di tangan, dan nol notifikasi yang menggoda.
Tidur saya belum kayak bayi sih, tapi ada perbedaan besar. Saya nggak cemas seperti biasanya sebelum tidur. Nggak overthinking soal kerjaan, nggak replay percakapan awkward di kepala. Cuma saya, halaman buku, dan diam yang damai banget.
Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Membaca sebelum tidur bukan cuma soal nostalgia masa kecil ini tentang reclaiming peace of mind di dunia yang terlalu cepat. Kita terbiasa menutup hari dengan layar yang menyala, bukan pikiran yang tenang. Padahal, ketenangan itu nggak butuh sinyal kuat, cuma butuh halaman yang bisa bikin kamu berhenti sejenak.
Setelah seminggu, saya sadar sesuatu: buku bukan sekadar hiburan, tapi ruang aman. Tempat di mana otak saya berhenti berlomba dan mulai mendengarkan dirinya sendiri lagi.
Mungkin kamu juga butuh itu. Mungkin, di antara stres kerja, deadline, dan notifikasi grup keluarga, kamu cuma butuh satu hal sederhana, diam dengan sebuah buku.
Jadi malam ini, coba deh letakkan ponselmu beberapa meter dari kasur. Ambil buku yang udah lama nganggur di rak. Baca satu bab aja, nggak perlu sok rajin. Rasakan gimana otakmu pelan-pelan tenang, dan tubuhmu mulai siap istirahat.
Karena di era digital yang serba cepat ini, membaca sebelum tidur bukan cuma kebiasaan lama tapi bentuk pemberontakan halus. Perlawanan terhadap dunia yang selalu memaksa kita untuk on.
Dan siapa tahu, di halaman ke 25 nanti, kamu nemu kembali versi dirimu yang dulu anak kecil dengan senter di tangan, yang jatuh cinta pada dunia hanya lewat cerita.
Kamu tim “scroll sampai ngantuk” atau tim “baca sampai ketiduran”? @dimas







